Skip to main content

Full text of "Komunitas Adat Using Desa Aliyan LR"

See other formats


Ritual kebocm Aliyan adalah ritual yang berkait dengan pertanian. Sebagian 
besar prosesinya bersifat sakral. Dua unsur budaya yang ada di dalamnya 
yaitu ritual gelar sanga dan ritual di makam Buyut yang menjadi pepunden 
masyarakat Using Aliyan memunculkan pro dan kontra, sehingga ritual 
kebocm matisuri dari tahun 1990an-1998. Dari dulu sampai sekarang ada 
perbedaan tafsir terhadap dua prosesi ritual tersebut antara kelompok yang 
ingin prosesi ritual gelar sanga dan ritual di makam dipangkas, dan 
kelompok pendukung ritual adat keboan yang tetap bertahan. Tulisan ini 
mendeskripsikan terjadinya proses matisurinya ritual keboan Aliyan dan 
bagaimana fenomena ini dimaknai oleh masyarakat Using Aliyan. Terdapat 
gambaran bahwa oleh peristiwa tersebut warga masyarakat syok, merasa 
kehilangan, dan takut akan terjadi sesuatu. Warga masyarakat Using Aliyan 
meyakini pengaruh dari peristiwa itu hasil panen tidak bagus, banyak 
hama, dan warga banyak yang sakit. Warga masyarakat kemudian 
melakukan slametan secara individual yang bersifat sederhana untuk 
mengganti ritual keboan. Ketika ritual keboan dimunculkan lagi, wacana 
tentang pemangkasan dua unsur budaya dalam ritual keboan masih tetap 
berlangsung sampai saat ini. Dari hasil rekonstruksi pasca matisuri upacara 
keboan ada pemangkasan dalam prosesinya antara lain ritual gitikan, dan 
dimasukkannya doa secara Islam dalam prosesi ritual tersebut, serta 
penambahan-penambahan dalam ritual tersebut yang sifatnya profan. 






KOMUNITAS A OAT USING DESA ALIYAN 
ROGOJAMPI BANYUWANGI JAWA TIMUR 

Kajian Ritual Keboan 



Salamun 
Sumintarsih 
Th. Esti Wuryansari 




KOMUNITAS A DAT USING DESA ALIYAN 
ROGOJAMPI BANYUWANGI JAWA TIMUR 

Kajian Ritual Keboan 



Oleh: 
Salamun 
Sumin+arsih 
Th. Esti Wuryansari 




KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 
DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN 
BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA (BPNB) YOGYAKARTA 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 

Jawa Timur 

Kajian Ritual Keboan 

© Penulis 

oleh : 

Salamun 

Sumintarsih 

Th. Esti Wuryansari 

Disain Sampul : Tim Kreatif Kepel Press 
Penata Teks : Tim Kreatif Kepel Press 

Diterbitkan pertama kali oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) 
Yogyakarta 

Jl. Brigjend Katamso 139 Yogyakarta 

Telp: (0274) 373241, 379308 Fax : (0274) 381355 



Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT) 
Salamun, dkk 

Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 
Jawa Timur; Kajian Ritual Keboan 
Salamun, dkk 

X + 148 him.; 16 cm x 23 cm 

I. Judul 1. Penulis 



ISBN : 978-979-8971-55-6 

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara 
apa pun, tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit. 



SAMBUTAN KEPALA 
BALAI PELESTARIAN NILAI BUDAYA 
YOGYAKARTA 



Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas 
perkenan-Nya, buku ini telah selesai dicetak dengan baik. Tulisan 
dalam sebuah buku tentunya merupakan hasil proses panjang yang 
dilakukan oleh penulis (peneliti) sejak dari pemilihan gagasan, ide, 
buah pikiran, yang kemudian tertuang dalam penyusunan proposal, 
proses penelitian, penganalisaan data hingga penulisan laporan. Tentu 
banyak kendala, hambatan, dan tantangan yang harus dilalui oleh 
penulis guna mewujudkan sebuah tulisan menjadi buku yang berbobot 
dan menarik. 

Buku tentang “Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi 
Banyuwangi Jawa Timur: Kajian Ritual Keboan”, tulisan Salamun, 
dkk menguraikan tentang bagaimana pelaksanaan ritual Kebo-keboan 
yang dilakukan oleh warga Desa Aliyan. Sebagian besar prosesi ini 
bersifat sakral. Sebelum ritual ini digelar, didahului dengan ritual gelar 
sanga dan ritual yang dilakukan di makam pundhen desa. Seiring 
perjalanan waktu, ritual kebo-keboan sempat vakum tidak dilakukan 
oleh warga desa. Terjadinya kevakuman ini tentu ada alasan tertentu. 
Banyak nilai budaya yang bisa dipetik dari ritual masyarakat ini. 

Oleh karena itu, kami sangat menyambut gembira atas terbitnya 
buku ini. Ucapan terima kasih tentu kami sampaikan kepada para 
peneliti dan semua pihak yang telah berusaha membantu, bekerja 
keras untuk mewujudkan buku ini bisa dicetak dan disebarluaskan 



iii 



iv | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



kepada instansi, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, peserta 
didik, hingga masyarakat secara luas. 

Akhirnya, ‘tiada gading yang tak retak’, buku inipun tentu masih 
jauh dari sempuma. Oleh karenanya masukan, saran, tanggapan dan 
kritikan tentunya sangat kami harapkan guna penyempurnaan buku 
ini. Namun demikian harapan kami semoga buku ini bisa memberikan 
manfaat bagi siapapun yang membacanya. 



Yogyakarta, Oktober 2015 
Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta 



Christriyati Ariani 



DAFTAR ISI 



SAMBUTAN KEPALA BPNB YOGYAKARTA iii 

DAFTAR ISI v 

DAFTAR TABEL vii 

DAFTAR FOTO viii 

BAB I PENDAHULUAN 1 

A. Fatar Belakang 1 

B. Permasalahan 5 

C. Tujuan 6 

D. Manfaat 6 

E. Tinjauan Pustaka 7 

F. Kerangka Pikir 13 

G. Ruang Lingkup 16 

IF Metode Penelitian 1 7 

BAB II KOMUNITAS AD AT USING DESA ALIYAN 

BAN YU WAN GI 19 

A. Lokasi, Lingkungan Alam dan Fisik, Pola 

Permukiman 19 

B. Sejarah Using dan Desa Aliyan 21 

C. Kependudukan 24 

D. Matapencaharian 25 

E. Kelembagaan Desa (Pertanian) 34 



v 



vi | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



F. Organisasi Sosial 36 

G. Religi 37 

BAB III PENGETAHUAN MASYARAKAT USING DESA 

ALIYAN TERHADAP LINGKUNGAN ALAM 41 

A. Pengetahuan Lingkungan Fisik 41 

1 . Pengetahuan Lahan Sawah, Tegal, dan 

Pekarangan 41 

2. Suinber Air 46 

B. Pengetahuan Non Fisik 52 

C. Distribusi dan Konsumsi 54 

BAB IV RITUAL KEBOAN DESA ALIYAN PASCA 

MATISURI 57 

A. Ritual Pertanian Lingkup Desa 58 

Upacara Keboan Pasca Matisuri. 59 

B. Ritual Pertanian Individual Ill 

C. Kondisi Kekinian Masyarakat Using 115 

1. Pandangan Masyarakat Using Terhadap 

Komunitasnya 1 1 7 

2. Pandangan Tentang Kelestarian Tradisi 121 

3. Kemandirian Orang Using Dalam Sosial 

Budaya 123 

4. Eksistensi Budaya Using 125 

5. Strategi Ketahanan Budaya 126 

BAB V PENUTUP 129 

A. Kesimpulan 129 

B. Saran 132 

DAFTAR PUSTAKA 133 

DAFTAR IS I I I. All 139 



DAFTAR INFORMAN 



145 



DAFTAR TABEL 



Tabel 1. Matapencaharian Penduduk Desa Aliyan 2012 26 



vii 



viii | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



DAFTAR FOTO 



Foto 1. Aktivitas petani memanen padi di sawah dan kambing 

peliharaan warga (doc. Tim Peneliti) 

Foto 2. Aktivitas ibu-ibu merangkai monte dan pembuatan 

perkakas rumah tangga(doc. Tim Peneliti) 

Foto 3. Rumah pengusaha kerajinan monte kontras dengan 

warga biasa (doc. Tim Peneliti) 

Foto 4. Bagian-bagian kiting (doc. Tim Peneliti) 

Foto 5. Tempat Lembaga Masyarakat Adat Using Banyuwangi 
Foto 6. Saluran irigasi di Desa Aliyan yang melintasi 

perkampungan warga (doc. Tim Peneliti) 

Foto 7. Pemanfaatan sumber air (sungai) untuk 

kebutuhan MCK (doc. Tim Peneliti) 

Foto 8. Hamparan sawah dan Kiting (doc. Tim Peneliti) 

Foto 9. Makam Buyut Wadung dan Makam Buyut Wongso 

Kenongo (doc. Tim Peneliti) 

Foto 10. Pur a bungkil di pintu masuk desa (doc. LAA) 

Foto 11. Tempat guyangan/kubangan (doc. LAA) 

Foto 12. (iunungan (doe. I.AA) 

Foto 13. Miniatur singkal/bajak (doc. I.AA) 

Foto 14. Boneka binatang dan pisang, kelapa(doc. LAA) 

Foto 15. Tumpeng panca warna dan ayam pekekeng 

dikrawu (doe. I.AA) 



28 

29 

30 

32 

34 

49 

51 

54 

61 

62 

63 

64 

65 

65 

66 



Daftar Foto 



IX 



Foto 16. Berdoa bersama dan Sesaji (doc. LAA) 66 

Foto 17. Makan bersama (doc. LAA) 69 



Foto 18. Dukun sedang membakar kemenyan dan sanggah 

tempat sesaji (doc. LAA) 70 

Foto 19. Ayam aduan dimintakan doa ke pelaku keboan yang 
sedang kesurupan dan arena acara gitikan/tajen 

(doc. LAA) 70 

Foto 20. Pelaku keboan berada di guyangan ditolong 

keluarganya (doe. LAA) 72 

Foto 21. Kerasukan dikawal keluarganya (doc. LAA) 75 

Foto 22. Kebo kawak (doc. LAA) 76 

Foto 23. Pelaku keboan di guyangan dipapah oleh keluarganya 

(doc. LAA) 77 

Foto 24. Pelaku keboan di guyangan dijaga keluarganya 

dan diguyuri air (doc. LAA) 78 

Foto 25. Ritual gelar sanga, pelaku keboan merangkak sambil 
makan sajian yang ada di atas daun pisang, ada yang 

menghirup kepulan asap dupa/kemenyan (doc. LAA) 80 

Foto 26. Pelaku kebo pasangan membawa singkal (doc. LAA).... 81 

Foto 27. Iilher Bumi (doe. LAA) 82 



Foto 28. Dewi Sri Sukodono dan Dewi Sri Timurejo (doc. LAA) 83 
Foto 29. Pelaku keboan menggigit anglo dan gandrung 

di idlier bumi (doe. LAA) 84 

Foto 30. Pelaku keboan sedang berkunjung di makam 

keluarganya (doc. LAA) 85 

Foto 31. Ritual ngurit dan pelaku keboan bergulingan 

di atas padi yang disebar yang kemudian dirayah 

oleli masyarakat (doc. LAA) 86 

Foto 32. Dewi Sri menyaksikan ritual ngurit dan Dewi Sri naik 

tandu (doc. LAA) 87 

Foto 33. Pawang me lakukan penyembuhan pelaku keboan dari 

kesurupan ( doc. LAA) 88 



X j Komunitas Adat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



Foto 34. Ajaran hidup (doc. Tim Peneliti) 120 

Foto 35. ’’Gotong-royong” (doc. LAA) 124 

Foto 36. ”Regenerasi”pengenalan budaya Banyuwangi 

(doc. Tim Peneliti) 127 



BAB I 



PENDAHULUAN 



A. Latar Belakang 

Koentjaraningrat menyebutkan komunitas adat merujuk pada 
sekelompok masyarakat yang dalam tata kehidupannya masih bertumpu 
pada adat yang menjadi pedomannya. Adat adalah wujud ideal dari 
kebudayaan. Adat berfungsi sebagai pengatur tata kelakuan. Secara 
khusus adat terbagi dalam empat tingkatan: 1) tingkat nilai budaya, 
2) tingkat norma, 3) tingkat hukum, dan 4) tingkat aturan kh usus 
(Koentjaraningrat, 1978: 20-23). Menurut Redcliffe -Brown, adat 
adalah suatu kompleks ide-ide umum yang berada di atas individu, 
yang sifatnya mantap dan kontinyu, dan mempunyai sifat memaksa. 
Ia berpendapat bahwa adat menjaga tata-tertib masyarakat, karena 
warganya mempunyai ketaatan yang seolah-olah otomatis terhadap 
adat, dan kalau ada pelanggaran, masyarakat yang menghukum 
(Koentjaraningrat, 1978:28). Jadi di sini jelas istilah komunitas adat 
merujuk pada sekelompok masyarakat yang dalam tata kehidupannya 
masih bertumpu pada adat yang menjadi pedomannya. Dalam hal 
ini seperti disebutkan oleh Milton Singer bahwa masyarakat adat 
mengungkapkan kebudayaannya (pertunjukan kultural) kepada dunia 
luar maupun untuk dirinya melalui apa yang disebut Singer ’media 
kultural’. Media kultural ini bisa upacara, perayaan, tarian, drama 
(dalam Redfield, 1982:78). 

Media kultural ini dimiliki komunitas-komunitas adat yang tersebar 
di seluruh pelosok wilayah dengan beragam budaya. Komunitas- 



1 



2 j Komunitas Adat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



komunitas adat tersebut keberadaannya satu sama lainnya tidak sama, 
ada yang mudah dijangkau, banyak juga yang sulit dijangkau. Namun, 
hal yang bisa dilihat dari komunitas adat ini adalah ada kekhasan 
budaya yang dimilikinya. Kekhasan budaya inilah yang menjadi 
identitas budaya komunitas adat bersangkutan. Dilihat dari realitas 
sosial-budaya yang ada di Indonesia, keberadaan masyarakat adat cukup 
beragam, dan memiliki dinamika perkembangan yang bervariasi. 

Berbagai macam komunitas tersebut secara sosiologis-antropologis 
tidak semuanya memiliki nama khusus. Di Indonesia ’komunitas adat’ 
tersebut walaupun lazim sering disebut dalam perbincangan tetapi tidak 
memiliki kejelasan makna antara satu dengan lainnya (Ahimsa-Putra, 
2006). Komunitas-komunitas adat ini tidak semuanya eksis, ada yang 
kondisinya tidak jelas dengan populasi kecil, bahkan ada yang kemudian 
hilang dari peredaran alias punah 1 . Akan tetapi tidak sedikit yang 
masih eksis, hidup dengan bertahan dalam budaya nenek-moyangnya. 
Budaya lokal yang dimilikinya tersebut sebagai tempat bertahan di 
tengah-tengah kehidupan yang semakin maju dan modem. Sementara 
komunitas adat lainnya pada umumnya sudah meninggalkan budaya 
lokalnya. Dengan demikian dalam realitas kehidupannya secara sosial- 
budaya paling tidak akan membedakan dengan komunitas-komunitas 
lainya. Keberadaan komunitas adat ini perlu mendapat perhatian, yang 
merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Seperti diketahui 
bahwa komunitas adat dalam realitas keberadaannya banyak yang tidak 
memperhatikan, eksistensi mereka cenderung diabaikan, khususnya 
oleh pemerintah. Seperti halnya masyarakat Using Banyuwangi yang 
akan dikaji dalam penelitian ini. 

Beberapa hasil penelitian tentang Using Banyuwangi memberikan 
realitas bahwa komunitas ini sudah bukan lagi komunitas yang eks- 
klusif mengelompok dalam sebuah satuan georafis. Keberadaan 
mereka (orang Using) dapat ditandai dengan adanya tradisi dan adat 



1 Menurut Lembaga Masyarakat Adat Using (LMAU) bahwa populasi orang Using secara pasti jumlahnya 
tidak diketahui, hanya hitungan perkiraan di setiap tempat di Banyuwangi yang ditandai sebagai tempat 
bermukimnya orang Using yang diperkirakan sekitar 56 persen dari jumlah penduduk Banyuwangi 
(wawancara dengan ketua adat Using Banyuwangi, Februari, 2015). 



Pendahuluan | 3 



yang masih bertahan sebagai fenomena budaya yang semakin berbaur 
dengan masyarakat lainnya di luar Using. 

Masyarakat Using Banyuwangi tersebar di beberapa tempat antara 
lain Desa Aliyan, Kemiren, Alasmalang, Olehsari. Masyarakat Using 
Banyuwangi sebagian besar menggantungkan hidupnya dari mengolah 
lahan pertanian. Keberlangsungan lahan pertanian yang diolah sampai 
kemudian menghasilkan panen yang baik, terkadang luput dari apa 
yang diharapankan petani. Semuanya itu karena keberhasilannya ter- 
gantung pada musim dan iklim yang terkadang tidak selaras dengan 
perhitungan petani, kebutuhan air yang cukup, dan tidak ada hama 
yang menyerang tanamannya. Dengan kata lain pekerjaan bertani 
sebenamya penuh risiko. 

Sebagai petani yang selalu berharap hasil padinya melimpah, segala 
upaya dilakukan untuk menjaga keberadaan kebutuhan pangan mereka. 
Oleh karenanya ketergantungan yang besar pada hasil pertanian itu, 
dan banyak hal bisa menjadikan kegagalan panen, mereka berusaha 
menjaga lahan pertaniannya dari mulai tanam ( tandur ) sampai panen 
tiba dengan ritus-ritus. Mereka berharap dengan ritus-ritus yang 
mereka lakukan lahan pangan tidak ada gangguan dari mulai tanam 
sampai panen dan hasilnya melimpah. Harapan yang besar untuk ke- 
berhasilan panen selanjutnya inilah yang kemudian diekspresikan 
dengan upacara yang cukup meriah yang melibatkan masyarakat dan 
desa. Wolf (1983: 176-177) menegaskan bahwa (agama) petani men- 
curahkan perhatiannya kepada siklus regeneratif dalam pertanian dan 
perlindungan tanaman terhadap serangan acak dari fihak alam. 

Upacara yang dilakukan masyarakat Using memiliki kekhasan 
budaya dari masing-masing tempat. Seperti misalnya upacara pertanian 
Kebo-Keboan hanya dimiliki masyarakat Using Alasmalang dan Using 
Aliyan. Namun demikian dalam tampilan ritual adat upacara Kebo- 
keboan di dua tempat tersebut berbeda, demikian juga tokoh mitos di 
kedua desa tersebut tidak sama. Dalam perjalanannya upacara pertanian 
tersebut (khususnya keboan Using Aliyan) pemah mengalami vacum 
relatif lama karena secara internal maupun ekstemal ada campur tangan 
yang disebabkan masalah keyakinan maupun politis. 



4 j Komunitas Adat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



Campur tangan terhadap budaya tersebut tidak hanya terjadi di 
komunitas Using Aliyan, tetapi fenomena budaya tersebut juga terjadi 
di komunitas adat lainnya. Sebagai contoh di Desa Sembungan Dataran 
Tinggi Dieng masyarakatnya memiliki berbagai ritual pertanian seperti 
nglekasi, wiwit, ruwat bumi, baridan yang sudah dilakukan turun- 
temurun selama berpuluh-puluh tahun. Namun pada perkembangannya 
ketika kentang masuk ke pertanian Sembungan tahun 1990-an dan 
peran santri Sembungan yang giat menyiarkan ajaran Islam serta 
memprotes tradisi ritual yang dilakukan petani Sembungan, maka 
terjadi perubahan-perubahan ritual di Sembungan. Akhimya banyak 
petani yang sudah meninggalkan ritual tersebut. Sebagai gantinya 
masyarakat menjalankan aktivitas keagamaan tahlil, yasinan, samaan 
barjanji, istighosah, sebagai ritual-ritual baru yang dilakukan 10 kali 
dalam satu minggu (Arbangiyah, 2012). 

Fenomena yang hampir sama terjadi pada ritual petik laut pada 
komunitas nelayan Muncar, Desa Kedungrejo, Banyuwangi. Ritual 
petik laut di Muncar ini yang pada awalnya sekitar 1901 berupa 
tradisi lokal yang kental dengan unsur animisme 2 dan dinamisme 3 telah 
berubah menjadi upacara besar dan meriah dengan dibalut unsur-unsur 
Islam. Upacara ini menjadi andalan kepariwisataan Banyuwangi. Arus 
perubahan ini dimulai masuknya migran Madura ke wilayah tersebut, 
dan campur tangan kyai pesantren yang ada di sekitarnya. Terjadinya 
transfonnasi budaya di level kepercayaan ini telah merubah persepsi 
masyarakat yang merupakan penyelenggara ritual petik laut, sehingga 
banyak mengalami komodifikasi pelaksanaannya sedemikian rupa 
(Farisa, 2010). Fenomena seperti ini banyak terjadi di berbagai 
komunitas adat yang tersebar di berbagai wilayah, seperti masyarakat 



2 Animisme suatu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan adanya jiwa dalam benda-benda tertentu 
yang terdiri dari aktivitas-akti vitas keagamaan guna memuja roh-roh tadi. Pada tingkat tertua di 
dalam evolusi religinya manusia percaya bahwa mahkluk-mahkluk halus menempati alam sekeliling 
tempat tinggal manusia. Mahkluk halus ini mampu berbuat hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh 
manusia. Ia mendapat tempat penting dalam kehidupan manusia, sehingga mendapat penghormatan 
dan penyembahan dengan berbagai upacara berupa doa, sajian, korban (Tylor dalam Koentjaraningrat, 
1974: 220-221, dan 268). 

3 Dinamisme suatu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan kepada kekuatan sakti yang ada dalam 
segala hal yang luar biasa dan terdiri dari aktivitas-aktivitas keagamaan yang berpedoman kepada 
kepercayaan tersebut, atau disebut juga pra-animism (Koentjaraningrat, 1974: 268). 



Pendahuluan j 5 



adat Wet Semokan (Lombok) yang dikenal dengan komunitas Wetutelu 
yang mengalami intervensi dari agama Negara; komunitas Sedulur 
Sikep Bombong Bacem (Sukolila-Pati) yang juga mengalami intervensi 
serupa dari Negara (lihat Budiman, 2007). Pada masyarakat Tengger 
intervensi Negara melalui pariwisata telah memberikan tekanan pe- 
nyelenggaraan ritual harus dikemas untuk tujuan kepariwisataan. Hal 
ini menyebabkan terjadinya degradasi makna spiritual pada ritual 
masyarakat Tengger. 

Oleh berbagai gambaran itulah, penelitian tentang komunitas 
adat Using ini hendak memberikan gambaran varian budaya dari 
Using Aliyan Banyuwangi. Khususnya gambaran ritual pertanian 
yang penting dalam kehidupan Using Aliyan yang kemudian pernah 
vacum dalam waktu relatif lama tidak dilaksanakan oleh masyarakat 
bersangkutan. Kemunculannya kembali setelah vacum apakah ada 
komodifikasi, ataukah juga mengalami transformasi, menarik untuk 
diketahui perkembangannya. Fenomena ini memberikan sinyal bah- 
wa hak-hak adat, dan pemahaman mereka tentang dunianya yang 
dianggap penting (ritual adat pertanian) telah dicederai. Penelitian ini 
hendak berharap dapat memberikan gambaran bagaimana komunitas 
adat Using Aliyan melaksanakan ritus-ritus pertanian yang menjadi 
tumpuan hidup mereka, dan bagaimana mereka memaknai peristiwa 
tersebut (kevakuman dan kemunculannya kembali) ritual tersebut 
dalam kehidupan masyarakat Using Aliyan. 

B. Permasalahan 

Masyarakat adat Using Banyuwangi sebagian besar hidup ter- 
gantung dari hasil pertanian, tidak terkecuali masyarakat adat Using 
Aliyan. Ketergantungan terhadap hasil pertanian ini melahirkan upaya- 
upaya yang diekspresikan lewat ritus-ritus. Ritus-ritus ini ada yang 
diselenggarakan cukup besar yang menjadi urusan tingkat desa, ada 
yang ritus pertanian hanya dilakukan di lingkungannya saja (tingkat 
RT), dan ritus yang sifatnya individual. Religi ini merupakan kegiatan 
yang sangat penting bagi masyarakat Using, ternyata pemah vacum 
tidak dilaksanakan karena masalah keyakinan dan politis. Sehubungan 



6 j Komunitas Adat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



dengan hal tersebut maka penelitian ini berangkat dari keinginan untuk 
melihat : 

1. Bagaimana pengetahuan dan pandangan orang Using Aliyan ter- 
hadap lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidupnya. 

2. Mengapa terjadi kevakuman dalam ritual pertanian. 

3. Bagaimana orang Using memaknai peristiwa kevakuman ritual 
pertanian dalam siklus kegiatan pertanian mereka. 

C. Tujuan 

Sesuai dengan latar belakang dan pokok masalah tersebut maka 
tujuan penelitian adalah: 

1. Mendiskripsikan pengetahuan dan pandangan orang Using ter- 
hadap lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidupnya. 

2. Menjelaskan mengapa terjadi kevakuman dalam ritual pertanian 
dan pengaruhnya dalam kehidupan orang Using. 

3 . Menj elaskan pemaknaan Orang Using terhadap peristiwa vacumnya 
ritual pertanian dalam siklus pertanian mereka. 

D. Manfaat 

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada masya- 
rakat pada umumnya dan komunitas adat Using khususnya. Selain itu 
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut : 

1 . Terdatanya dan terdokumentasi pengetahuan dan pandangan orang 
Using Aliyan tentang lahan pertanian. 

2. Menambah wawasan pengetahuan dan pemahaman masyarakat 
orang Using akan hak-hak adatnya untuk melakukan tradisinya. 

3 . Memberikan masukan kepada pemerintah tentang eksistensi Orang 
Using dengan memberikan perhatian dan perlindungan 



Pendahuluan | 7 



E. Tinjauan Pustaka 

Penelitian Herawati, dkk tentang Kearifan Lokal Masyarakat 
Using (2004) menggunakan metode kualitatif, wawancara mendalam, 
dan pengamatan. Namun dalam kerangka penulisan tersebut tidak 
dijelaskan konsep kearifan lokal, dan kerangka berfikir yang akan lebih 
memperjelas analisis dari hasil penelitiannya. Hasil penelitian ini sangat 
bermanfaat untuk merangsang peneliti lain melakukan penelitian lebih 
mendalam. Kajian pada masyarakat Using Kemiren menggambarkan 
tentang pandangan hidup masyarakat tersebut, pengetahuan dan 
teknologi masyarakat tersebut tentang lingkungannya, sampai tradisi 
dan hubungan sosial yang datanya cukup detail. 

Dari hasil penelitiannya tentang pandangan hidup masyarakat 
Using diuraikan sedemikian rupa yang menunjukkan bahwa masyarakat 
Using Kemiren sangat menjunjung tinggi Sang Pencipta, walaupun 
dalam hal tertentu mereka masih menggunakan Buyut Chili sebagai 
media untuk berhubungan dengan Sang pencipta. Dalam melihat 
hubungan sesamanya disampaikan adanya ungkapan, dan konsep 
kerukunan aktualisasinya dalam upacara-upacara, demikian juga dalam 
hubungannya dengan alam dikaitkan dengan pemeliharaan air. Dalam 
uraian ini tidak ada data wawancara yang mendukung pernyataan- 
pernyataan dalam uraian. 

Pada bagian lain yaitu pengetahuan masyarakat Using tentang 
lingkungannya, datanya cukup rinci dan detail. Misalnya tentang tanda- 
tanda alam, pranata mangsa, tentang tanda-tanda tanah yang subur 
dan tidak subur, sifat tanah sawah, tegalan, pekarangan, pemeliharaan 
sumber-sumber air, tentang gunung dan hutan, flora-fauna, teknologi 
pemeliharaan, sampai dengan tradisinya. Namun karena tidak didukung 
kerangka pikir yang jelas, data yang ada tidak memberikan gambaran 
yang terintegrasi dan nilai-nilai kearifan lokal tidak tampak. 

’Sumber air’ bagi masyarakat Using seperti disebutkan Munawaroh 
memiliki dua arti sesuai fungsinya. Penelitian Munawaroh tentang 
fungsi ’sumber’ bagi masyarakat Using (2013), bersifat deskriptif 
dengan metode wawancara, pengamatan dan observasi. Hasil peneliti- 
annya menyebutkan sumber (air) pada masyarakat Using ada dua 



8 j Komunitas Adat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



macam air bersih/sehat dan air suci. Air sehat/bersih diambil dari tuk 
untuk kebutuhan makan, minum, dan mandi. Air suci untuk keperluan 
wudhu, air tersebut dianggap bertuah, untuk upacara tertentu, dan untuk 
penyembuhan penyakit. Fungsi ’sumber’ bagi orang Using disebutkan 
meliputi: (1) fungsi sosial, sebagai tempat untuk berinteraksi mereka 
yang datang ke sumber tersebut. (2) fungsi ekonomi (penghematan), 
pengambilan air bersih maupun air suci menghemat pengeluaran, karena 
relatif tidak mengeluarkan biaya. (3) fungsi budaya karena mengatur 
perilaku yang datang ke tempat sumber sesuai dengan kepentingan. 
Pemeliharaan dilakukan dengan gotong royong, pengambilan air 
menurut kebutuhan, dan upacara Rebo Wekasan, sumber menjadi 
terjaga karena airnya diambil untuk upacara. 

Ritual yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat Using 
diteliti oleh Sunjata ’’Fungsi dan Makna Upacara Tradisional Kebo- 
Keboan ” (2007) di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyu- 
wangi, dengan pendekatan kualitatif. Upacara ini dilaksanakan setiap 
bulan Sura. Kebo adalah sejenis binatang yang biasa dipekerjakan di 
sawah atau disebut kerbau. Jadi upacara kebo-keboan terkait dengan 
kegiatan pertanian, yang tujuannya untuk kesuburan tanah, supaya 
panenan melimpah, dan supaya terhindarkan dari bencana alam. Hal 
ini juga tampak dari personifikasi dalam pawai arak-arakan idher 
bumi. Prosesi upacara disampaikan menurut tahapan dari persiapan 
sampai selesai. Unsur-unsur upacara disebutkan lengkap tetapi belum 
ada penjelasan makna simboliknya dengan unsur-unsur dalam upacara 
itu sendiri. 

Deskripsi prosesi upacara cukup rinci walaupun tidak detail, 
unsur-unsur dalam prosesi upacara belum mendapat porsi mendalam 
dalam rangkaian upacara. Demikian pula fungsi dan makna upacara 
kebo-keboan juga bersifat deskriptif belum ada analisa, data belum 
digali secara mendalam dan rinci. 

Penelitian Sumarsih (2009) tentang ”Aum Tandur dan Aum Panen” 
pada komunitas masyarakat Jawa di daerah perbukitan lereng Gunung 
Merbabu, yaitu Desa Muneng Warangan, Kabupaten Magelang sangat 
menarik. Metode yang digunakan deskriptif-kualitatif, pengamatan, 
wawancara, dan studi pustaka. 



Pendahuluan | 9 



Ritual yang berkaitan dengan pertanian di desa ini aum tandur, 
aum panen, tedon, wiwit dan ndeseli. Khusus tedon dan wiwit hanya 
dilaksanakan oleh orang tertentu yaitu kepala desa, dan warga yang 
memiliki sawah luas, kadang ada warga dari luar desa yang ikut. Tedon 
dilaksanakan pada awal menanam padi, pada pagi hari, sedang wiwit 
dilakukan pada saat awal panen padi, pada malam hari. Pemilihan hari 
ditentukan oleh pemilik sawah atau penggarap. Perlengkapan wiwit 
yang tidak boleh ditinggalkan disebut gronjol yakni sejumlah jagung 
rebusan yang sebagian gronjol dimasukkan ke sungapan, aliran air 
yang masuk ke lahan sawah. Tujuan wiwit ini ngopahi (memberi upah) 
kepada mbok Dewi Sri selaku pemelihara sawah. 

Aum tandur dilakukan setelah pekerjaan menanam padi milik 
seluruh warga selesai. Waktu pelaksanaan Kamis Wage atau Sabtu 
Wage dan bulan pelaksanaan tidak boleh bulan Sura, Puasa, dan 
Dulkhaidah. Dalam aum tandur ini diselenggarakan dengan wayangan 
dengan lakon Sri mulih. Oleh kesalahan teknis pernah upacara tersebut 
tidak dengan pertunjukan wayang kulit, ternyata terjadi peristiwa yang 
tidak diinginkan antara lain ada warga yang sakit ingatan, panen padi 
banyak yang gabug, pada saat itu kadusnya sampai mengundurkan 
diri karena tidak sanggup menghadapi masyarakat. Peristiwa ini (tidak 
nanggap wayang) dianggap menjadi penyebab musibah yang terjadi 
di desa tersebut. Peristiwa ini bisa sebagai gambaran dalam penelitian 
Using Aliyan yang pernah vacum tidak melaksanakan upacara 
pertanian. 

Pada saat upacara aum panen wayangan dilakukan dua kali, 
siang dan malam oleh dua dalang, pagi hari dengan lakon Dewi Sri, 
sedangkan malam hari dengan lakon Bimo Suci. Upacara ini juga 
dilengkapi dengan sesaji tumpeng, nasi golong, dan lauk-pauk. Pene- 
litian ini menampilkan data yang cukup menarik namun tidak ada 
analisis. 

Artikel yang ditulis Indiyanto fokus mencermati pergeseran- 
pergeseran mendasar, yang terjadi pada praktik ritual di Lamongan. 
Sebagai aktivitas yang sarat makna simbolik pergeseran ritual telah 
mempresentasikan pergeseran dalam kultur masyarakat setempat. 
Ritual mendhak adalah sebuah ritual rutin yang dilaksanakan di Desa 



10 I Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 
yang diadakan untuk memperingati hari wisudanya Ki Buyut Terik, 
yang diyakini sebagai orang pertama yang mendirikan atau membuka 
Desa Tlemang (Indiyanto, 2014). 

Sebagai kegiatan yang sarat dengan nilai, simbol, dan gagasan 
vital, ritual mendhak menjadi sebuah penghubung penting antara sistem 
pengetahuan manusia dan kehidupannya. Indikasi bahwa nilai-nilai 
dalam ritual mengalami konstestasi terlihat dengan adanya pergeseran 
pada dimensi kognitif, evaluatif, maupun simbolik ritual. Keberadaan 
tokoh sejarah dan tokoh-tokoh mistis yang secara gaib hidup dalam 
kosmologi penduduk menjadi inspirasi utama ritual ini dilakukan. 
Ki Buyut Terik sebagai cikal bakal Desa Tlemang yang direproduksi 
dalam ritual mendhak merupakan refleksi immanent akan kehadiran 
nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari, sehingga citra tentang 
keramat dan ancaman tentang nasib buruk, bala dan bencana menjadi 
aksentuasi menarik dari ritual mendhak. 

Secara jelas dalam artikel ini menunjukkan bahwa ritual mendhak 
mengalami pergeseran-pergeseran secara subtansial dalam kognisi dan 
simbolik. Hal yang ikut berperan dalam diskontinuitas ritual mendhak. 
adalah paket kebijakan desentralisasi atau yang lebih dikenal dengan 
kebijakan otonomi daerah pada tahun 1999. Kebijakan ini diambil 
dengan semangat untuk melakukan reformasi kehidupan politik yang 
lebih terbuka dan demokratis. Namun praktiknya hal itu memunculkan 
banyak persoalan pada tingkat lokal yang memicu terjadinya persaingan 
status di antara elit lama versus elit baru. 

Artikel ini menarik karena mengangkat permasalahan yang jarang 
menjadi perhatian, terutama perubahan yang terjadi dalam sebuah 
ritual yang masih kental dengan aturan yang dijadikan penuntun 
oleh masyarakat bersangkutan. Meskipun di depan disampaikan oleh 
penulisnya bahwa tulisannya adalah dalam rangka untuk menyum- 
bangkan pemikiran teoritis tentang ritual dan perubahan sosial, namun 
sangat sulit untuk dipahami karena menggunakan banyak acuan teori. 

Penelitian menarik dan mendalam dilakukan oleh Ariani (2006) 
tentang barong Kemiren, yang dilakukan pada orang Using di 
Desa Kemiren. Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara 



Pendahuluan I 11 



mendalam, observasi, dan pengamatan terlibat. Dalam kajiannya 
Ariani menggunakan teori Strukturalisme Levi Strauss, yang dengan 
teori ini peneliti berusaha menyajikan sebuah konstruksi cara berpikir 
masyarakat Using. 

Barong merupakan seni tradisi yang masih lestari dimainkan 
di lingkungan masyarakat Using. Seni Barong ini selalu mewarnai 
dalam kegiatan-kegiatan hajatan perkawinan, khitanan, dan perayaan 
hari-hari besar agama maupun nasional. Dalam pementasannya 
memerlukan waktu semalam suntuk, yang setiap pementasan paling 
tidak menampilkan alur cerita 4 episode antara lain yakni episode 
legenda Singobarong, buto-butoan, Suwarti, dan tuan-tuanan. Fungsi 
barong sejak dulu disebutkan sebagai media untuk ritual inisiasi dan 
kesuburan. Dalam penelitiannya Ariani menganalisis pakem cerita 
yang masih menjadi tradisi adalah cerita Jaripah, Sumirah, Suwarti, 
dan Singo Lodaya. Barong digunakan untuk mengiringi ritual Idher 
Bumi dalam upacara Bersih Desa. Selain itu hadir dalam ritual-ritual 
tertentu, dan tanggapan pada acara-acara hajatan. Data ini menarik 
untuk melihat apakah barong juga hadir dalam ritual pertanian yang 
ada di Using Aliyan. 

Kearifan lokal masyarakat Tengger diungkap secara detail dalam 
penelitian Sukari, dkk (2004). Penelitian ini menggunakan metode 
kualitatif, wawancara mendalam, dan pengamatan. Dalam tulisannya 
mengungkap pandangan hidup, konsep tata ruang, pengetahuan 
tentang lingkungan, gejala-gejala alam yang terkait dengan pertanian, 
pengetahuan tentang tegal, pekarangan dari pengolahan sampai 
pemanfaatannya, dan tradisi yang berkait dengan pertanian. Hasil 
penelitian ini antara lain menyebutkan bahwa sebagai masyarakat 
yang hidupnya dari bercocok tanam ketergantungan mereka terhadap 
tanah sangat melekat. Hal ini tampak dari paparan data bagaimana 
masyarakat ini mengolah tanah, memelihara, menjaganya untuk 
menghasilkan panen yang baik. Penelitian ini juga menunjukkan 
bagaimana masyarakat Tengger menanam jenis-jenis tanaman yang 
disesuaikan dengan jenis tanah, musim, yang didasari dari pengalaman 
mereka dalam memanfaatkan alam yang ada di lingkungannya. 



1 2 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Sayangnya data kurang detail dan tidak ditampilkan dengan klasifikasi, 
dan tidak ada analisis. 

Pemeliharaan yang berkaitan dengan pertanian juga diekspresikan 
dengan ritual-ritual sebagai rasa terimakasih disebut dengan upacara 
leliwet. Ritual ini bentuk selamatan untuk tegalan yang dilakukan secara 
individual dengan sesaji hasil bumi. Selain itu upacara juga ditujukan 
kepada air yang telah memberi kehidupan pada tanaman. Upacara 
yang hampir sama untuk tanaman dan temak disebut barikan. 

Penelitian ini paling tidak bisa sebagai gambaran tentang 
pengetahuan lokal yang berkait dengan pengelolaan lingkungan alam 
maupun tradisi-tradisi yang dilakukan untuk memelihara hubungan 
manusia dengan alam lingkungannya. Penelitian ini cukup relevan 
dengan penelitian Using Aliyan khususnya yang terkait dengan 
pengetahuan komunitas adat tersebut dalam mengelola lahannya (tegal 
dan pekarangan). 

Berdasarkan kajian ini penelitian tentang masyarakat adat sudah 
banyak yang melakukan ada yang komprehensif, ada yang fokus pada 
keseniannya, adatnya, ritualnya, matapencaharian, arsitektur, dan 
masih banyak lagi misalnya ’Religi Orang Bukit’ oleh Radam (2001); 
’Geger Tengger’ oleh Hefner (1999); ’Samin Kudus’ oleh Rosyid 
(2008); ’Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di Indonesia’ oleh 
Budiman (2007). Demikian juga kasus-kasus komunitas adat yang 
berubah karena intervensi dari luar. Paparan hasil penelitian Using pada 
umumnya perhatian kajian ditujukan pada masyarakat Using Kemiren, 
Using Olehsari, Using Alasmalang, sedangkan Using Aliyan belum 
mendapat porsi perhatian. Dalam konteks ini penelitian tentang ritual 
pertanian belum banyak dilakukan khususnya terkait dengan Using 
Aliyan. Dalam rangka itulah penelitian ini akan melakukan kajian 
ritual pertanian yang berlangsung pada masyarakat Using Aliyan yang 
karena ada tekanan intervensi secara eksternal maupun internal pernah 
mengalami stagnasi dalam waktu cukup lama. 



Pendahuluan I 13 



F. Kerangka Pikir 

Masyarakat adat secara historis-politik adalah kelompok masya- 
rakat yang hidup sebelum negara ini lahir. Berbagai lembaga pe- 
merintah menyebutnya dengan istilah yang beragam, antara lain 
masyarakat hukum adat, masyarakat setempat, dan sebutan dengan 
istilah masyarakat terasing, komunitas adat terpencil. Menurut 
Davidson istilah yang dikenal selama orde barn ini menunjukkan 
adanya keterpisahan dengan masyarakat luas yang sebenarnya 
juga punya nasib yang sama denganya (Davidson, eds, 2010: 30). 
Perbedaan sebutan ini karena adanya ragam kepentingan yang mereka 
terapkan dalam memandang masyarakat adat. Akibatnya masyarakat 
adat cenderung dilihat dari satu sisi saja, tidak pernah menyeluruh. 
Mereka yang memiliki kepentingan untuk ’membantu’ masyarakat adat 
umumnya tidak melihat lcebutuhan masyarakat adat dan ’kekuatan’ 
yang dimiliki masyarakat adat. Kekuatan tersebut misalnya adalah 
pengetahuan mereka tentang alam lingkungan yang selama ini mereka 
kelola dan memanfaatkannya dengan kearifan lokal yang mereka 
miliki. Juga pemaknaan yang cenderung melabelkan bahwa ritual yang 
mereka lakukan menyimpang, maka terjadi invasi oleh agama negara 
pada tradisi ritual masyarakat adat. Seperti halnya yang terjadi pada 
masyarakat adat Using Aliyan. 

Masyarakat adat di Indonesia dalam perbincangan memiliki 
konotasi sebagai masyarakat yang tenang, tenteram, bahkan dianggap 
sebagai masyarakat yang jauh dari hiruk-pikuk persoalan. Namun, 
ketika Soeharto presiden Indonesia itu mengakhiri kekuasaannya 
selama kurang lebih sepertiga abad pada 1998, muncul banyak konflik 
dan kekerasan, aksi protes, dari berbagai komunitas dan kelompok- 
kelompok etnis di seluruh pelosok Indonesia yang menuntut hak-haknya 
selaku masyarkat adat, untuk melaksanakan unsur-unsur adatnya dan 
hukum adatnya di wilayah adatnya. Fenomena ini kemudian dikenal 
sebagai era kebangkitan adat di Indonesia (Davidson, 2010). 

Setelah kejatuhan Soeharto, banyak bermunculan organisasi- 
organisasi masyarakat yang berbasiskan adat. Pasca orde barn banyak 
terdata persoalan-persoalan yang harus ditangani organisasi-organisasi 



14 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



yang berbasiskan adat tersebut (Biezeveld dalam Davidson, 2010: 237). 
Persoalan yang muncul kemudian banyak yang mengatasnamakan 
adat, komunitas, nenek-moyang, dan lokalitas (Henley dan Davidson, 
2010: 31). Perlawanan masyarakat lokal terhadap kebijakan Negara 
atas nama kepercayaan dan adat kebiasaan banyak contoh, tetapi peng- 
gunaan ’adat’ secara terkoordinasi sebagai sebuah simbol perlawanan 
terhadap Negara yang tersentralisasi merupakan sesuatu yang relatif 
baru (Bourchier, 2010: 137). Salah satunya yang terjadi di masyarakat 
adat Using Aliyan Banyuwangi. 

Komunitas adat Using Aliyan yang sebagian besar hidupnya ber- 
tumpu pada pertanian, memiliki pandangan dan pengetahuan tentang 
proses mengolah lahan pertaniannya dengan kearifan lokal yang di- 
milikinya. Pengetahuan lokal ( indigenous knowledge), pandangan 
tentang alam lingkungannya itu mereka peroleh secara empirik. Pe- 
ngetahuan tersebut merupakan hasil interaksi manusia dengan alam 
lingkungannya. Dalam praktik operasionalnya menurut Triguna 
(2005:623) merupakan hasil abstraksi pengalaman hasil adaptasi dalam 
memanfaatkan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya 
yang terwujud dalam pranata kebudayaan. Eksistensinya bertumpu 
pada kebutuhan praktis seperti dalam bidang pertanian, kosmologi, 
pengobatan. Pengetahuan lokal ini untuk beberapa kasus lebih ramah 
lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas. Ini membuktikan 
bahwa pengetahuan lokal bukan sekedar tradisi, tetapi pengetahuan 
yang berbasis pemecahan masalah dan sudah dipraktikan secara turun- 
temurun (Ardian, 2005: 600-601). 

Dalam memperlakukan lahan pertanian yang menjadi bagian dari 
alam lingkungan yang mereka miliki, berpedoman pada pengetahuan 
yang dimilikinya itu. Kearifan lingkungan merupakan pengetahuan 
yang diperoleh dari pengalaman adaptasi aktif terhadap lingkungan 
yang diwujudkan dalam bentuk ide, aktivitas dan peralatan (Triguna 
2005:624). Alam lingkungan yang telah memberikan kehidupan 
kepada orang Using Aliyan mereka rawat dengan melakukan ritual- 
ritual untuk menjaga lahan pertanian mereka sebagai tumpuan hidup 
dan penghidupan mereka. Ritual pertanian yang dilakukan masyarakat 
Using Aliyan ada dua tingkatan yang bersifat publik atau tingkat 



Pendahuluan I 15 



desa dan bersifat individual. Ritual bersifat publik adalah ritual milik 
bersama yang diselenggarakan desa, sedangkan ritual individual 
dilaksanakan oleh individu bersangkutan. 

Ritual merupakan sebuah pedoman sosial yang sangat kompleks 
dan mencakup spektrum yang sangat luas. Meskipun ia dianggap 
bagian dari agama, dalam segi aktivitasnya terdapat banyak sekali 
hal (termasuk yang tidak berkaitan dengan agama) yang secara teknis 
dapat dimasukkan dalam kategori ritual (Leach dalam Indiyanto,2014: 
318). Sehubungan dengan itu Davamony menjelaskan bahwa ritual 
merupakan agama dalam tindakan (Suhardi, 2009:4). Ritus secara 
simbolik menggambarkan upaya manusia menjalin komunikasi dengan 
kekuatan transenden, baik itu roh nenek moyang, makhluk halus, de- 
wa-dewa, Tuhan ataupun daya magis. Ritus dalam bentuk proses akti- 
vitas maupun sajian persembahan merupakan upaya manusia untuk 
berkomunikasi dengan alam adimanusiawi, yang diungkapkan dalam 
bentuk sandi atau lambang yang menyiratkan pencarian jalan kesela- 
matan spiritual maupun keberuntungan duniawi (Suhardi, 2009: 17). 

Jadi, ritual merupakan sebuah kompleks aktivitas yang padat makna, 
di dalamnya terdapat sistem ide yang menjadi landasan ideologis yang 
kemudian mewujud dalam praktik-praktik sosial dan benda-benda 
budaya. Oleh karena itu para ahli ilmu sosial klasik beranggapan 
bahwa ritual adalah representasi dari masyarakat itu sendiri (Durkheim, 
dalam Indiyanto, 2014: 317). Dalam konteks ini ritual pertanian pada 
masyarakat Using Aliyan yang selama ini menjadi media masyarakat 
tersebut untuk berkomunikasi dengan nenek moyangnya, dan wujud 
ungkapan terimakasih kepada Tuhan yang telah memberi kehidupan 
lewat keberhasilan dalam bertani telah mengalami stagnasi dari 
tahun 1990an-1998 karena faktor intern maupun ekstern. Menariknya 
bagaimana bentuk dari faktor-faktor (intern dan ekstern) ini mampu 
menekan tradisi ritual pertanian tersebut tidak dilaksanakan oleh 
masyarakat bersangkutan dalam waktu relatif lama. Wacana ini menjadi 
menarik karena ketika ritual pertanian ini dimunculkan lagi (mungkin 
setelah ada kesepakatan-kesepakatan), perubahan-perubahan, dan 
pemaknaan masyarakat terhadap kevakuman dan kehadiran kembali 
upacara pertanian tersebut dalam kehidupan bertani mereka. Wolf 



16 ! Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



menyebutkan petani cenderung menganggap ritual sebagai hal yang 
sudah sewajarnya dan menerima penjelasan-penjelasan tindakan ritual 
yang konsisten dengan kepercayaannya sendiri (Wolf 1983: 176). 

Dalam konteks ini makna mengacu kepada pola-pola interpretasi 
dan perspektif yang dimiliki bersama yang terekspresi dalam simbol- 
simbol manusia dalam mengembangkan dan mengkomunikasikan 
pengetahuan dan sikap terhadap kehidupan (Spradley, 1997:120-124). 
Dalam telaah simbolik menurut Turner bahwa suatu tafsir terhadap 
simbol-simbol tidak akan lengkap tanpa memperhatikan pandangan 
atau tafsir yang diberilcan oleh pemilik atau pembuat simbol itu sendiri 
(Ahimsa-Putra, 2000: 4004-405). Konstruksi prosesi ritual pertanian 
yang dilakukan oleh masyarakat Using Aliyan adalah sebuah teks, 
secara kontekstual isi teks tersebut mempunyai tempat yang penting 
dalam konteks kehidupan desa. Terjadinya kevakuman ritual pertanian 
yang kemudian dimunculkan kembali, merupakan peristiwa budaya. 
Sehubungan dengan itu penelitian ini berusaha hendak merekonstruksi 
ritual keboan pasca matisuri berikut perubahannya. 

G. Ruang Lingkup 

Ruang lingkup materi penelitian ini meliputi pengetahuan dan 
pandangan orang Using terhadap alam lingkungan yang berupa lahan 
pertanian yang menjadi tumpuan kehidupannya. Pengetahuan lahan 
pertanian akan meliputi semua macam lahan yang dijadikan tempat 
bertanam untuk kebutuhan hidupnya. Ritual pertanian yang akan 
diangkat baik yang sifatnya publik maupun yang individual. Dalam 
perjalanan pelaksanaan ritual pertanian pernah mengalami stagnasi. 
Bagaimana latar belakangnya, faktor-faktor penyebab mengalami 
stagnasi dan dilaksanakan kembali ritual tersebut, aktor yang terlibat 
dalam peristiwa tersebut, pandangan pendukung budaya tersebut, 
pengaruh peristiwa tersebut terhadap kehidupan bertani masyarakat 
Using Aliyan antara lain yang akan diungkap dalam penelitian ini. 



Pendahuluan I 17 



H. Metode Penelitian 

Penelitian ini dilakukan pada komunitas adat Using Aliyan, 
Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, 
yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama Pra Survei bulan 
Februari 2015 dan tahap kedua penelitian dilakukan pada tanggal 
12-19 April 2015. Penelitian difokuskan pada masyarakat Using 
Aliyan dengan pertimbangan: (1) penelitian tentang masyarakat 
Using Aliyan belum banyak dilakukan, (2) masyarakat Using Aliyan 
dalam perjalanannya pernah mengalami stagnasi tidak melaksanakan 
ritual pertanian dalam waktu relatif lama, (3) dilaksanakan kembali 
upacara ini menarik untuk diteliti keberadaan upacara tersebut, dan 
pengaruhnya pada masyarakat bersangkutan. 

Pengumpulan data dengan wawancara mendalam ( depth interview), 
pengamatan, studi pustaka, dan dokumentasi. Wawancara mendalam 
dengan para tokoh masyarakat Using, tokoh desa, tetua lembaga adat 
masyarakat Using, untuk menggali data tentang persepsi, pendapat, 
norma, pandangan, tentang ritual pertanian, kevakuman, pelaksanaan 
kembali upacara tersebut, juga akan menyangkut ketahanan budaya, 
kemandirian, dan perubahan yang terjadi. Selain itu juga melakukan 
wawancara dengan tokoh yang mengetahui tentang adat-istiadat, 
norma yang terkait dengan ritual pertanian masyarakat Using Aliyan. 
Wawancara juga dilakukan kepada orang Using yang terlibat dalam 
ritual pertanian keboan, petani, dan pelaku budaya masyarakat 
bersangkutan seperti yang ngurusi ritual desa. Mereka ini di antaranya 
adalah jaga tirta sebagai penanggung jawab ritual keboan, bagaimana 
pelaksanaan prosesi ritual keboan, mengapa jaga tirta sebagai pelaksana 
ritual; para pelaku keboan, siapa mereka, apa yang dirasakan ketika 
trance, dan sebagainya; para pawang, latar belakang menjadi pawang, 
cara penyembuhan, tempat keramat dan sebagainya; dukun adat, seluk 
beluk ritual keboan, tokoh mitos desa, doa-doa yang diucapkan; petani 
pendukung upacara, persiapan yang dilakukan mengikuti upacara 
keboan, persepsi ketika dilarang melaksanakan ritual keboan, apa yang 
dirasakan dan sebagainya. 



18 | Komunitas Adat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



Pengamatan/observasi, dilakukan secara langsung dengan meng- 
amati aktivitas masyarakat dari aspek sosial-budaya yang berkait 
dengan kegiatan pertanian dan ritual pertanian. Khusus untuk prosesi 
ritual keboan mengamati dari rekaman VCD tahun 2011-2014. 
Dari data rekaman ini menjadi bahan untuk membuat instrumen. 
Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan infonnasi secara lang- 
sung dari informan dengan pedoman wawancara yang telah disiapkan 
sebelumnya. Wawancara tidak terarah dilakukan secara bebas dan 
memberikan kesempatan informan secara luas dalam memberikan 
keterangan. Dokumentasi, dilakukan untuk mendapatkan data atau 
sumber lain yang tidak diperoleh dengan teknik wawancara maupun 
pengamatan. Penelitian ini dilengkapi dengan foto/gambar yang 
sesuai dengan penelitian. Foto banyak diperoleh dari dokumen milik 
Lembaga Adat Aliyan (LAA) Desa Aliyan dan hasil foto dari Tim 
Peneliti Aliyan. 

Untuk mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, tata 
cara yang berlaku dalam masyarakat tentang hubungan, pandangan 
dan proses-proses yang sedang berlangsung, dan pengaruh-pengaruh 
dari suatu fenomena digunakan penelitian secara deskriptif (Nazir, 
1985: 63-64). Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif-kua- 
litatif. Data-data yang diperoleh digambarkan dengan kata-kata atau 
kalimat, dipilah-pilah menurut kategori tertentu, diklasifikasi sesuai 
permasalahan dan tujuan penelitian. Hal ini untuk menunjukkan 
proporsi relatif dalam nilai-nilai variabel. Tiap-tiap variabel dari 
hasil observasi dan wawancara bebas dan mendalam dideskripsikan 
dalam bentuk uraian dan dilihat kaitannya antara variabel yang satu 
dengan yang lain, sehingga akan memudahkan dalam analisisnya serta 
mempermudah dalam menarik kesimpulannya. 



BAB II 



KOMUNITAS AD AT USING DESA ALIYAN 
BANYUWANGI 



Komunitas adat Using menempati di beberapa wilayah kecamatan 
Kabupaten Banyuwangi. Deskripsi ini berfokus pada masyarakat Using 
Desa Aliyan yang berada di wilayah Kecamatan Rogojampi. Wilayah 
Desa Aliyan merupakan daerah persawahan dan perbukitan. Wilayah 
permukimannya berada di bagian utara agak masuk. Kehidupan 
penduduknya masih banyak bergantung dari hasil pertanian. Gambaran 
tentang alam lingkungan dan tempat bermukim komunitas Using 
Aliyan akan dideskripsikan berikut ini. 

A. Lokasi, Lingkungan Alam dan Fisik, Pola Permukiman 

Lokasi dan Luas. Desa Aliyan termasuk wilayah Kecamatan 
Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, yang terdiri dari 18 desa. Secara 
administratif Desa Aliyan terletak di tengah bagian timur Kabupaten 
Banyuwangi. Desa Aliyan terdiri dari 7 dusun yang meliputi Dusun 
Krajan, Sukodono, Kedawung, Cempokosari, Danurejo, Timurejo, 
dan Dusun Bolot. Jarak ke ibukota kecamatan lima kilometer, 
dengan waktu tempuh dengan kendaraan sepeda motor 0,15 jam. 
Belum ada kendaraan umum untuk menuju ke Desa Aliyan, sehingga 
banyak menggunakan sepeda motor. Sementara itu, jarak ke ibukota 
Kabupaten Banyuwangi 20 kilometer dengan waktu tempuh 57 menit. 
Jarak ke ibukota provinsi 350 kilometer dengan waktu tempuh 7 jam. 



19 



20 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Desa Aliyan berbatasan dengan Desa Bubak di sebelah utara, Desa 
Mangir di sebelah timur, Desa Parijatah Wetan di sebelah selatan, dan 
berbatasan dengan Desa Gambar di sebelah barat. 

Luas wilayah Desa Aliyan menurut Monografi Desa Aliyan tahun 
2013 berjumlah 613,431 hektar, yang terdiri atas 33,457 hektar untuk 
permukiman, 476,991 hektar untuk persawahan, 77,960 hektar untuk 
perkebunan, 1,510 hektar untuk kuburan, 1,045 hektar tanah untuk 
pekarangan, 0,580 hektar untuk perkantoran, dan 21,888 hektar untuk 
prasarana umum. Luas tanah untuk persawahan kesemuanya merupakan 
sawah irigasi teknis yang sumber aimya berasal dari Sungai Bomo. 

Lingkungan Alam dan Fisik. Desa Aliyan merupakan sawah 
dataran rendah dengan ketinggian 98 meter di atas permukaan air 
laut. Ketinggian seperti itu cocok untuk pertanian sawah. Desa Aliyan 
termasuk iklim tropis dengan curah hujan 3500 milimeter, suhu rata- 
rata 27 °C. Dilihat dari morfologinya, Desa Aliyan sebagian besar 
(476,991 hektar) merupakan tanah persawahan yang ditanami padi 
dan palawija. Sisanya lahan seluas 97,960 hektar merupakan tanah 
perkebunan yang ditanami berbagai jenis kayu. 

Prasarana dan sarana jalan Desa Aliyan dilalui jalan aspal yang 
panjangnya 2 kilometer, jalan macadam 1,25 kilometer, sehingga 
secara keseluruhan 3,25 kilometer. Enam dari jumlah panjang jalan 
tersebut sebagian besar 2,25 kilometer sudah rusak. Keadaan fisik 
jembatan beton berjumlah 14 unit, tetapi 10 unit diantaranya sudah 
rusak. Prasarana air bersih meliputi sumur bor 35 unit, sumur gali 
1125 unit dan mata air 4 unit, sehingga secara keseluruhan berjumlah 
1.164 unit. 

Dalam kaitannya dengan rumah tempat tinggal penduduk dapat 
dikemukakan bahwa jenis rumah dibedakan tiga macam, yaitu 
permanen, semi permanen, dan tidak permanen. Dari ketentuan itu 
bangunan rumah penduduk Desa Aliyan sebagian besar termasuk per- 
manen (1.842 buah) dan sisanya (325 buah) tidak permanen. Mereka 
telah memiliki jamban keluarga (864 KK). 

Sarana fasilitas umum dapat dimanfaatkan penduduk seperti 
balai desa, masjid, mushola/surau, dan pos kamling. Balai desa selain 
dipergunakan sebagai kantor kepala desa, juga dipergunakan untuk 



Komunitas Adat Using Desa Aliy an Banyuwangi \ 21 



kegiatan sosial seperti PKK, arisan, LPMD, BPD, rapat desa dan 
untuk kegiatan ritual desa, keboan. Masjid dan mushola dipergunakan 
masyarakat setempat untuk kegiatan keagamaan. Sarana fisik lainnya 
adalah tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti warung, 
atau pasar. Pasar di Desa Aliyan tidak berupa bangunan tetapi ber- 
tempat di perempatan jalan yang pada pagi hari ramai oleh penduduk 
setempat untuk berbelanja. Para pedagang menggelar dagangannya di 
meja, ada pula yang ditaruh di sepeda ontel, atau sepeda motor. 

Pola Permukiman. Pola pennukiman menurut Rambali Sinah, 
dibedakan menjadi tipe permukiman semi mengelompok dan tipe 
permukiman menyebar (Abdullah, 1982:3). Berdasarkan pendapat 
tersebut pola permukiman di Desa Aliyan termasuk tipe pemukiman 
yang mengelompok di daerah pertanian. Persebaran pemukiman erat 
sekali dengan persebaran penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhi 
persebaran penduduk adalah bentuk tanah atau landform, tersedianya 
sumberdaya, baik sebagai sumberdaya tanah maupun sumberdaya air. 
Bentuk tanah landform di Desa Aliyan sebagian besar merupakan 
dataran dan perbukitan. Penduduk pada umumnya bertempat tinggal 
pada tempat-tempat yang relatif datar, sehingga aktivitas penduduk 
pada umumnya adalah petani. Sumberdaya tanah dan air sangat meng- 
untungkan. Mereka memanfaatkan tanah untuk keperluan pertanian 
dan mendirikan tempat tinggal karena tanahnya datar. Sumber air yang 
ada adalah sumber air sumur dan sumber air sungai yang dimanfaatkan 
untuk keperluan sehari-hari dan keperluan untuk bercocok tanam. 

B. Sejarah Using dan Desa Aliyan 

Sejarah Using. Using identik dengan Banyuwangi. Berdasarkan 
data sejarah, nama Banyuwangi tidak terlepas dari kerajaan Blambangan 
yakni sejak masa pemerintahan Pangeran Tawang Alun (1655-1691), 
Pangeran Danuningrat (1736-1763), hingga masa Blambangan di ba- 
wah perlindungan Bali (1763-1767) (banyuwangikab.go.id/profil/ 
sejarah.singkat.html, diunduh 20 April 2015). Sejarah Using tidak 
dapat dipisahlcan dari perang Paregreg dan Puputan Bayu. Perang 
Paregreg terjadi pada tahun (1401-1404), sedangkan perang Puputan 



22 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Bayu terjadi pada tahun 1771-1772 (Anoegrajekti, 2006:66). Menurut 
Anoegrajekti berdasarkan tulisan Brandes (Anoegrajekti, 2006:66- 
67), perang Paregreg merupakan perang yang terjadi antara pasukan 
Bhre Wirabhumi dengan Wikrawardhana dalam memperebutkan 
kekuasaan. Perebutan kekuasaan antara kedhaton wetan dan kedhaton 
kulon. Sedangkan perang Puputan Bayu yang terjadi pada tanggal 
18 Desember 1771 (banyuwangikab.go.id/profil/sejarah.singkat.html, 
diunduh 20 April 2015) merupakan puncak perlawanan rakyat Blam- 
bangan melawan VOC. Dalam pertempuran tersebut menimbulkan 
banyak korban jiwa dan hanya menyisakan 8000 orang, sisa-sisa dari 
rakyat Blambangan inilah yang kemudian dinyatakan sebagai cikal 
bakal orang Using (Anoegrajekti, 2006:66-68). 

Menurut Scholte (Anoegrajekti, 2006:68), sebutan Using ini 
muncul atas pemberian sebutan yang diberikan oleh orang Jawa 
kulonan yaitu para imigran yang datang dari beberapa daerah barat 
(Jawa Timur bagian barat dan Jawa Tengah) yang datang bersamaan 
dengan dibukanya perkebunan-perkebunan milik Belanda di daerah 
Banyuwangi. Sebutan tersebut bersumber dari kata ” sing ” yang 
mempunyai arti ’’tidak” atau ”bukan”. Sebutan ini kemudian menegas- 
kan bahwa rakyat Blambangan adalah orang yang lebih dulu mendiami 
wilayah Blambangan, bukan Jawa. Predikat Using ini kemudian 
melekat pada masyarakat Blambangan. 

Beatty (2001, 25-26) dengan mengutip pendapat dari Stoppelaar 
menjelaskan secara lebih rinci mengenai ciri-ciri Using 1) pemukiman 
cenderung lebih padat kompak di tengah ’’orang barat”, dengan rumah- 
rumah yang berdekatan bersama; 2) endogami lokal sangat disukai, 
sehingga memberikan kedalaman pengetahuan genealogis dan pola 
yang jelas mengenai ikatan-ikatan kekerabatan yang bertumpang tindih; 
3) penekanan lebih besar pada nilai-nilai kekerabatan dibandingkan 
yang umum ditemukan di Jawa tercermin pada norma-norma sharing 
dan dalam ritual ekonomi yang sama dengan ’’keramaian” tukar 
menukar pada orang Jawa-meski dalam bentuk yang lebih mencakup 
seluruh aspek kehidupan; 4) di sebagian besar Desa Using, hampir 
setiap orang memiliki tanah sendiri sekurang-kurangnya sepetak tanah 
untuk rumah; secara tradisi, tidak ada perbedaan yang tegas orang yang 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi \ 23 



banyak memiliki dan kurang memiliki tanah. Dari ciri-ciri yang telah 
disebutkan di atas menunjukkan sifat egalitarian masyarakat Using, 
dimana tidak ada 'gep' antara yang kaya dan yang miskin. 

Menurut Wessing (Herriman, 2013:51), pada abad ke 19 dan 20, 
masyarakat Using dipandang sebagai masyarakat pribumi, sedangkan 
orang Madura dan Jawa merupakan masyarakat pendatang. Masing- 
masing tinggal secara terpisah, masyarakat Using tinggal di desa-desa 
persawahan yang dekat dengan aliran sungai dan gunung yang lebih 
datar, sedangkan masyarakat pendatang tinggal di daerah perkebunan, 
daerah pantai dan daerah yang kurang subur di sebelah selatan (Beatty 
2001:24-25). Menurut Pur (wawancara, April 2015), desa tertua 
Using adalah Desa Tumenggungan dan Desa Penatapan yang ada di 
Kecamatan Banyuwangi. 

Sejarah Desa Aliyan, Nama suatu daerah pada umumnya me- 
miliki sebuah arti atau makna. Makna atau arti tersebut biasanya 
berkenaan dengan latar belakang dari corak kehidupan sosial serta 
budaya yang berkembang dalam masyarakat yang menempati daerah 
tersebut. Demikian halnya dengan nama Desa Aliyan. Nama Desa 
Aliyan memiliki sejarah yang cukup menarik. 

Menurut Su’ud (wawancara, April 2015), sebelum menjadi Desa 
Aliyan, desa ini mempunyai nama Desa Karangmukti. Penduduk Desa 
Aliyan pada awalnya merupakan pendatang dari Desa Mangir. Para 
pendatang tersebut tertarik untuk menetap di Desa Aliyan karena 
melihat tanahnya datar dan rata serta air yang tersedia cukup banyak. 
Sebelum pendatang dari Desa Mangir menetap di Desa Aliyan, di Desa 
Karangmukti sudah ada satu keluarga yang menetap disana, terdiri dari 
bapak, ibu dengan dua anak laki-lakinya. Dan nama orang tersebut 
adalah mbah Wongso ( mbah kakung ) dan mbah Kenongo ( mbah putri) 
sedangkan kedua anaknya bernama Jaka Pekik dan Pringgo. Yang 
konon, pada akhirnya menurunkan garis keturunan keluarga Su’ud 
(sesepuh Desa Aliyan). 

Menurut narasumber (Su’ud), sebelum bemama Desa Aliyan, 
desa ini bernama Desa Karangmukti yang terkenal dengan kesuburan 
tanahnya. Menurut cerita, Desa Karangmukti berubah menjadi Desa 
Aliyan karena konon katanya setiap diadakan pertemuan warga 



24 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



( tebengan ) di Desa Mangir, Buyut Wongso tidak bisa menghadiri 
bahkan ketidakhadirannya tidak hanya sekali dua kali namun sampai 
berulang kali. Padahal dalam perkumpulan tersebut yang datang 
adalah wedhana (sekarang: wakil bupati). Ketidak hadiran Buyut 
Wongso disebabkan karena membantu orang lain yang melakukan pin- 
dah rumah, sehingga kemudian menyebabkan beralihnya nama Desa 
Karangmukti menjadi Desa Aliyan. 

Nama Desa Aliyan diambil dari corak kehidupan masyarakat 
pada waktu itu. Pada saat itu masyarakat sering berpindah-pindah 
dari suatu tempat ke tempat lain. Bila ditelaah dari arti katanya, Desa 
Aliyan berasal dari kata ”alih” yang kemudian mendapat akhiran -an. 
Dalam bahasa Indonesia, ”«ga/z7z” berarti pindah, sedangkan dalam 
bahasa Using menjadi ngalihan yang kemudian mengalami perubahan 
sebutan menjadi Aliyan. Berdasarkan karakteristiknya, masyarakat 
Aliyan adalah masyarakat yang heterogen yang berasal dari berbagai 
tempat. Lama kelamaan para pendatang tersebut menyatu dengan 
ragam budaya masyarakat Banyuwangi. 

Kini Desa Aliyan merupakan bagian wilayah dari Kecamatan 
Rogojampi kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Desa Aliyan terdiri 
dari 7 dusun, yaitu Dusun Krajan, Dusun Cempokosari, Dusun 
Timurejo, Dusun Bolot, Dusun Sukodono, Dusun Kedawung, dan Du- 
sun Damrejo. Demikianlah gambaran sekilas mengenai Desa Aliyan. 

C. Kependudukan 

Berdasarkan data profil Desa Aliyan tahun 2013, jumlah penduduk 
Desa Aliyan berjumlah 5.054 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki- 
laki 2.639 jiwa dan penduduk perempuan 2.415 jiwa dengan kepala 
keluarga 2.168 KK. Luas wilayah Desa Aliyan 613,431 Ha dengan 
jumlah penduduk 5.054 jiwa, memiliki kepadatan penduduk sebesar 
827 jiwa/km 2 . 

Penduduk Desa Aliyan, sebagian besar merupakan penduduk usia 
produktif. Bila dilihat dari segi pendidikan, penduduk usia produktif 
di Desa Aliyan memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah. 
Mayoritas mereka menempuh pendidikan hanya sampai tingkat 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi \ 25 



tamat SD (32,51 %). Tingkat pendidikan yang masih rendah sangat 
berpengaruh dalam sistem matapencaharian mereka. Kesempatan 
untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan layak terkendala oleh 
tingkat pendidikan yang dimilikinya. Pekerjaan yang bisa diakses 
menjadi terbatas. Tingkat pendidikan yang rendah menjadikan mereka 
bekerja di sektor pertanian seperti menjadi petani atau buruh tani. 
Berbeda dengan mereka yang mampu menempuh pendidikan yang 
lebih tinggi kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan menjadi 
lebih terbuka. 

Partisipasi penduduk Desa Aliyan dalam hal pendidikan berhubung- 
an erat dengan tersedianya fasilitas pendidikan yang tersedia dan 
dapat diakses dengan mudah oleh mereka. Pada umumnya mereka 
menyekolahkan anak mereka di sekolah dasar (SD) yang dekat dengan 
tempat tinggal, sedangkan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, 
berada di luar Desa Aliyan. Beberapa generasi muda Desa Aliyan 
ada yang melanjutkan sekolahnya ke luar desanya seperti ke Jember, 
Surabaya maupun Malang dan ke kota lainnya. 

D. Matapencaharian 

Karakteristik geografis suatu daerah pada umumnya berpengaruh 
terhadap kehidupan masyarakatnya. Demikian pula dengan Desa 
Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Keadaan geografis di wilayah Desa 
Aliyan mempunyai luas areal persawahan seluas 476,991 Ha, me- 
nunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Aliyan mempunyai 
matapencaharian sebagai petani. Berdasarkan monografi Desa Aliyan 
2013, jumlah petani ada 661 orang, sedangkan petani penggarap atau 
buruh tani menduduki posisi pertama dengan jumlah 1676 orang. Dapat 
disimpulkan bahwa jumlah petani penggarap atau buruh tani lebih besar 
daripada petani pemilik lahan. Pemilik lahan pertanian yang ada di Desa 
Aliyan mayoritas dimiliki oleh orang dari luar wilayah Banyuwangi. 
Menurut penuturan informan, pemilik lahan banyak dimiliki oleh orang 
dari jawa mataram (Yogyakarta-Solo). ’’Lahan sawah yang ada di Desa 
Aliyan 70% dimiliki oleh orang Jogja, sedangkan penduduk asli hanya 
memiliki 30%-nya saja” (wawancara dengan Pak Bam, April 2015). Hal 



26 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



ini menyebabkan sebagian besar penduduk Desa Aliyan mempunyai 
matapencaharian sebagai buruh tani. 



Tabell. Matapencaharian Penduduk Desa Aliyan 2012 



No 


Jenis Pekerjaan 


Laki-laki 


Perempuan 


Jumlah 


Persentase % 


1 


Petani 


518 


143 


661 


21,44 


2 


Buruh tani 


915 


761 


1676 


54,34 


3 


Pegawai Negeri Sipil/PNS 


22 


2 


24 


0,78 


4 


Pengrajin kerajinan RT 


48 


307 


355 


11,51 


5 


Pedagang keliling 


14 


2 


16 


0,52 


6 


Petemak 


8 


0 


8 


0,26 


7 


Montir 


4 


0 


4 


0,13 


8 


Pembantu rumah tangga 


0 


6 


6 


0,19 


9 


TNI/Polri 


5 


0 


5 


0,16 


11 


Pensiunan PNS/TNI/POLRI 


9 


0 


9 


0,29 


12 


Pengusaha kecil dan menengah 


6 


8 


14 


0,45 


13 


Dukun kampung terlatih 


1 


0 


1 


0,03 


14 


Arsitek 


1 


0 


1 


0,03 


15 


Karyawan perusahaan swasta 


51 


38 


89 


2,88 


16 


Karyawan perusahaan Pem. 


25 


7 


32 


1,04 


17 


Makelar/broker/mediator 


14 


0 


14 


0,45 


18 


Sopir 


30 


0 


30 


0,97 


19 


Tukang* 


40 


1 


41 


1,32 


23 


Tidak bekerja 


50 


49 


99 


3,21 




JUMLAH 


1.761 


1.324 


3.085 


100,00% 



Sumber: Profil Desa Aliyan Tahun 2013 
*Keterangan: Tukang: tukang batu, kayu, becak, ojek, cukur. 



Mengingat matapencaharian masyarakat Desa Aliyan sebagian 
besar sebagai petani, menjadikan waktu mereka habis untuk bekerja 
di sawah. Hampir setiap pagi dapat dijumpai pemandangan petani 
baik laki-laki maupun perempuan berjalan beriring-iringan menuju ke 
sawah. Selain sebagai petani matapencaharian penduduk Desa Aliyan 
cukup beragam (lihat tabel 1). Menurut informan Bam, ’’secara garis 
besar, matapencaharian penduduk Desa Aliyan terbagi dalam tiga ke- 
lompok yakni bidang pertanian, kerajinan (monte, peralatan rumah 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi | 27 



tangga dan kiling ) dan peternakan (kambing)” (wawancara, April 
2015 ). 

Potensi di bidang pertanian yang ada di Desa Aliyan, meliputi 
tanaman pangan dan tanaman keras. Tanaman pangan ditanam di areal 
persawahan sedangkan untuk tanaman keras pada umumnya ditanam 
di gumuk. Komoditas tanaman pangan yang banyak dikembangkan 
di Desa Aliyan meliputi tanaman padi ( oryza sativa), jagung ( zea 
mays ssp. mays), kacang tanah ( arachis hypogaea L.), ketela pohon 
(. manihot utilissima ( sawi )), ubi jalar ( ipomoea batatas L.), cabai 
(< capsicum annuum L.), sayuran, dan mentimun ( cucumis sativus L.). 
Sedangkan komoditas pertanian lainnya yang meliputi tanaman buah- 
buahan antara lain mangga ( mangifera indica), salak (sa/acca zalacca), 
rambutan ( nephelium lappaceum), pepaya ( carica papaya L.), durian 
( durio zibethinus), pisang, nangka ( artocarpus heterophvllus), melinjo 
( gnetum gnemori) dan nanas {ananas comosus L.). Demikian pula 
dengan tanaman keras yang ditanam oleh penduduk Desa Aliyan di 
gumuk antara lain pohon gaharu, bambu, kelapa, dan jati. 

Temak pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan usaha 
pertanian. Seperti di daerah pedesaan di Jawa pada umumnya petani 
tidak bisa dipisahkan dengan sapi atau kerbau sebagai hewan yang 
membantu kelancaran pekerjaan mereka di bidang pertanian yakni 
untuk membajak sawah. Berbeda halnya dengan di Desa Aliyan, bila 
dilihat dari potensi desa yang mayoritas masyarakatnya terjun di bidang 
pertanian, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Berdasarkan hasil 
observasi atau pengamatan yang dilakukan di Desa Aliyan hampir 
tidak dijumpai adanya warga yang memelihara sapi atau kerbau. 

Menurut warga, mereka enggan untuk memelihara ternak kerbau 
karena terkendala dengan lokasi atau tempat untuk memelihara ternak 
tersebut, mengingat lahan yang mereka miliki hanya pas untuk tempat 
tinggal. Dahulu mereka pernah melakukan usaha ternak kerbau secara 
bersama-sama (kelompok) dengan membuat kandang yang berada di 
sekitar lahan pertanian mereka yang jauh dari tempat pemukiman. 
Kandang ini dibuat untuk menaruh kerbau-kerbau yang dimiliki 
oleh warga yang tergabung dalam kelompok. Namun usaha ini gagal 
berkaitan dengan faktor keamanan dimana pada waktu itu temak- 



28 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



temak mereka sering dicuri walaupun setiap harinya ada upaya untuk 
melakulcan penjagaan secara bergantian. Kini, untuk membajak sawah 
petani lebih mengandalkan tenaga manual yakni dengan menggunakan 
tenaga manusia maupun mesin (traktor). 




Foto 1. Aktivitas petani memanen padi di sawah dan kambing peliharaan warga 

(doc. Tim Peneliti) 



Populasi temak yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Aliyan 
antara lain ternak kambing dan temak unggas seperti ayam kampung. 
Temak kambing dan ayam ini selain untuk investasi juga untuk 
konsumsi sendiri khususnya untuk ayam. Mengingat masyarakat Desa 
Aliyan sering menggunakan ayam sebagai rangkaian ritual adat (pecel 
pitik ) dalam setiap slametan yang diadakan baik slametan secara 
individual yang berkaitan dengan daur hidup manusia ( lifecycle ) 
maupun slametan secara komunal. Demikian pula dengan usaha 
temak kambing, manfaat selain sebagai tabungan, kotoran kambing 
dimanfaatkan untuk pupuk. 

Dalam usaha memelihara ternak kambing, warga yang masih 
memiliki lahan di rumah, membuat kandang kambing di sekitar 
halaman rumahnya. Namun ada pula warga yang memelihara ternak 
kambing, dengan membuat kandang di pinggir jalan desa yang juga 
menjadi daerah berbatasan dengan areal pertanian sawah. Hal ini 
disebabkan karena terbatasnya lahan yang dimiliki oleh warga. Warga 
menaruh temak kambingnya di kandang-kandang tersebut, dan tidak 
takut kalau ternak dicuri karena letak kandang tersebut dekat dengan 
mmah warga yang lain. Diantara warga terjalin rasa saling percaya, 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banvuwangi \ 29 



dengan dibuktikan bahwa warga yang lain ikut serta membantu dalam 
pengawasan ternak-temak tersebut. Hal ini menunjukkan semangat 
keguyuban dan semangat gotong royong yang terjalin diantara warga 
Desa Aliyan cukup tinggi. 

Matapencaharian di bidang pertanian bukan satu-satunya sumber 
penghidupan masyarakat Desa Aliyan. Untuk menambah penghasilan 
keluarga sebagian besar ibu-ibu rumahtangga melakukan kerja sambilan 
dengan membuat kerajinan dari monte. Hasil dari kerajinan monte 
tersebut mereka setorkan ke penampung atau pengusaha kerajinan 
monte yang ada di desanya yang nantinya hasil kerajinan dari monte 
tersebut akan dikirim ke Pulau Bali. Bentuk kerajinan dari monte yang 
dihasilkan dari Desa Aliyan antara lain tas, dompet besar maupun 
kecil, assesoris (kalung, cincin, dan anting), bros, dan sabuk. Dari 
hasil membuat kerajinan monte tersebut mereka mendapatkan upah 
sebesar Rp 30.000,00 perharinya. Pekerjaan sambilan yang dilakukan 
oleh ibu-ibu ini tidak banyak menanggung risiko sebab bahan-bahan 
sudah disediakan oleh pengusaha. Dengan menekuni usaha sambilan 
ini selain mendapatkan uang tambahan mereka masih bisa mengasuh 
anak-anak mereka, karena pekerjaan ini dikerjakan di rumah masing- 
masing dan tidak terikat waktu seperti jika mereka bekerja di luar 
seperti bekerja di pabrik ataupun sebagai pembantu rumahtangga. 
Pekerjaan sambilan ini menambah sumber perekonomian keluarga. 




Foto 2. Aktivitas ibu-ibu merangkai monte dan pembuatan perkakas rumah tangga 

(doc. Tim Peneliti) 



Desa Aliyan memiliki beberapa bidang usaha yang sangat poten- 
sial untuk menjadi usaha unggulan. Potensi usaha kerajinan yang 



30 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



berkembang di Desa Aliyan tersebut antara lain kerajinan monte, 
kerajinan alat-alat rumah tangga (perkakas), dan kerajinan kiling. 
Kerajinan monte yang berkembang di Desa Aliyan mampu menopang 
kehidupan masyarakat. Usaha kerajinan monte membuka peluang 
untuk menyerap tenaga kerja terutama tenaga kerja kaum perempuan 
baik muda maupun tengah baya. 

Kerajinan Monte. Kerajinan monte sangat berkembang di Desa 
Aliyan. Di Desa Aliyan terdapat beberapa orang yang sukses dalam 
menekuni usaha sebagai pengusaha atau distributor kerajinan monte. 
Usaha kerajinan monte yang berkembang di Desa Aliyan telah menjadi 
sumber matapencaharian yang menjanjikan. Hal ini tampak dari 
rumah para pemilik pengusaha monte yang telah sukses. Pengusaha 
monte mayoritas memiliki rumah mewah dengan fasilitas perabot 
rumah tangga yang lengkap dan modem. Berbeda dengan rumah- 
rumah yang dimiliki oleh warga biasa, perbedaan tersebut cukup 
signifikan. Pemasaran kerajinan monte hasil karya dari Desa Aliyan 
sudah merambah ke Pulau Dewata Bah. Pulau Bah merupakan daerah 
wisata dengan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, 
sehingga hal ini membuka peluang potensi monte dari Aliyan semakin 
dikenal oleh masyarakat luas. Selain dikirim ke pulau Bali dengan 
jadwal pengiriman yang sudah pasti, mereka juga melayani pesanan- 
pesanan atau order yang datang dari masyarakat umum. Order tersebut 
antara lain untuk souvenir pemikahan maupun pesanan yang datang 
dari perorangan untuk dijual kembali ke daerah lain seperti di kawasan 
Malioboro kota Yogyakarta. 




Foto 3. Rumah pengusaha kerajinan monte kontras dengan warga biasa 

(doc. Tim Peneliti) 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi | 3 1 



Kerajinan Kiling. Demikian pula dengan keraj inan kiling, keraj inan 
kiling yang ada di desa Aliyan ditekuni oleh Sah. Sah merupakan 
pembuat kiling satu-satunya yang ada di Desa Aliyan bahkan se- 
Banyuwangi. Menurut penuturan pada saat wawancara (wawancara, 
April 2015), pada mulanya usaha pembuatan kiling ditekuni oleh Sah 
berdasarkan pada kecintaannya terhadap kiling. Pada waktu itu, Sah 
muda senang dengan kiling yang diperoleh dari ayahnya. Ayahnya 
sering membuat kiling dan dipasang di dekat rumahnya, mendengar 
suara kiling yang merdu membuat Sah semakin jatuh cinta dengan 
kiling. Barn pada tahun 1974, Sah mulai membuat kiling namun masih 
sebatas menyalurkan hobi, kiling hasil karyanya belum dijual. Kiling 
hasil karyanya sering diikutkan dalam perlombaan-perlombaan yang 
diadakan oleh pemerintah kota Banyuwangi dalam rangka menyambut 
HUT RI. Dalam perlombaan kiling Sah sering keluar sebagai 
pemenangnya. Dengan antusias Sah menunjukkan piala dan piagam 
penghargaan yang diperoleh pada waktu mengikuti perlombaan 
kiling. 

Keahlian membuat kiling diperoleh Sah berasal dari keturunan 
yang diwarislcan oleh orang tuanya. ”Baru tahun 2005, saya mulai 
membuat kiling untuk dijual, kiling yang kecil harganya Rp 350.000,00, 
sedangkan ukuran yang besar mencapai satu jutaan bahkan lebih 
tergantung ukuran kiling ” (wawancara, April 2015). Pesanan kiling 
tidak hanya datang dari kota Banyuwangi dan sekitarnya. Menurut 
penuturan pernah ada orang dari Jakarta yang datang ke tempatnya 
untuk minta dibuatkan kiling dan kiling tersebut benar-benar dibawa 
ke Jakarta. Lebih lanjut Sah menjelaskan untuk membuat kiling 
diperlukan beberapa proses yang cukup rumit, penuh ketelatenan dan 
kesabaran: 

’’Proses pembuatan kiling, tahap pertama dari bahan mentah hingga 
setengah jadi (belum sempuma) memerlukan waktu empat hari. Mulai 
dari membentuk kayu utuh yang kemudian dibentuk menjadi pipih ( kiling ) 
dan membuat bagian-bagian dari kiling antara lain selut, manggar, kind, 
inger-inger, dan tahap pengecatan. Tahap selanjutnya, setelah musim 
angin tiba kiling tersebut dicoba untuk melihat bunyi yang dihasilkan 
apakah sudah selaras atau belum, jika bunyi kiling yang dihasilkan 



32 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



belum selaras diolah kembali sampai benar-benar menghasilkan bunyi 
yang selaras dan indah, setelah menghasilkan bunyi yang indah dan 
selaras kiting siap untuk dijual” (wawancara, April 2015). 

Proses yang lama adalah mengatur suara yang dihasilkan, apalagi 
kalau kondisi kayu masih basah. Sedangkan untuk pewamaan kiting , 
Sah menggunakan bahan alami dengan menggunakan arang sebagai 
bahan pewama, sedangkan untuk kuasnya Sah menggunakan daun 
lembayung. Penggunaan bahan alami dari arang dan kuas dari daun 
lembayung menurut Sah akan menghasilkan wama yang tidak luntur. 

Bahan kayu yang bisa digunakan untuk membuat kiling antara 
lain kayu langsat, jati, loloan, dan kapasan. Namun dari beberapa 
kayu tersebut, bahan dari kayu langsat akan menghasilkan suara yang 
lebih merdu. Alat-alat yang diperlukan untuk membuat kiling cukup 
sederhana yaitu cukup dengan pisau raut dan kintel. Namun demikian 
diperlukan keahlian khusus agar suara kiling bisa menjadi merdu. 
Rumitnya proses pembuatan kiling menjadikan orang terlebih generasi 
muda kurang berminat belajar membuat kiling. 




Foto 4. Bagian-bagian kiling{Aoc. Tim Peneliti) 



Kiling mempunyai makna filosofi haras selalu eling (ingat). Fungsi 
kiling menurut Sah hanya untuk kesenangan, biasanya dipasang di 
sawah, daerah di sekitar sungai dan di kebun atau di daerah terbuka 
yang tidak terhambat oleh angin. Kiling terdiri dari beberapa bagian. 
Bagian-bagian tersebut terdiri dari: 




Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi | 33 



-pangadeg: pangadeg merupakan bagian kiling sebagai tiang untuk 
menegakkan kiling. Pangadeg melambangkan sebagai pemimpin harus 
tegak, tidak boleh condong ke salah satu pihak. 

-manggar. manggar adalah bagian dari kiling yang menjuntai, yang 
terbuat dari bambu dengan hiasan dari kresek (plastik) dahulu terbuat 
dari dari daun jalin ( doni ). Manggar melambangkan sebagai manusia 
jangan sampai melanggar hal-hal yang jelek (melanggar asusila). 

- inger-inger : inger-inger merupakan bagian kiling yang berbentuk 
lancip (runcing). Inger-inger berfungsi untuk menentukan ke arah mana 
kiling akan berputar sesuai dengan arah angin yang bertiup. Inger-inger 
melambangkan bahwa manusia itu harus tahu arah hidupnya, agar arah 
hidupnya lurus tidak berbelok-belok, tahu perbuatan mana yang benar 
dan yang salah. 

-kind: kind merupakan bagian kiling yang terbuat dari baja atau besi. 
Kind berfungsi sebagai penyambung antara pangadeg dengan kiling. 
Kind melambangkan bahwa manusia harus kuat terhadap terpaan 
masalah dalam hidup. 

-selut: selut merupakan bagian killing yang terdiri dari dua bagian 
yaitu bagian atas dan bagian bawah yang berfungsi untuk mengunci 
antara pangadeng dan kiling. Selut merupakan simbol laki-laki dan 
perempuan. 

-kiling: kiling merupakan bagian kiling yang dapat menghasilkan bunyi. 
Kiling terdiri dari dua yaitu kiling laki-laki dan kiling perempuan. Kiling 
laki-laki bentuknya lebih tipis dan panjang serta bengkok, sedangkan 
kiling perempuan bentuknya lebih lurus dan lebar. Kiling yang dapat 
menghasilkan bunyi adalah kiling laki-laki. 

Menurut Sah fungsi kiling adalah untuk kesenangan atau hiburan 
saja, namun dengan dipasangnya kiling di sawah, kiling juga dapat 
digunakan sebagai alat untuk mengusir burung di sawah yang dibuat 
dengan menggunakan sentuhan unsur seni. Suara yang dihasilkan 
kiling sangat beragam bahkan suara kiling laki-laki ada yang bisa 
menghasilkan suara keras yang mampu terdengar hingga mencapai 
jarak 1 km. Sedangkan folklor yang berkembang di Desa Aliyan adalah 
bahwa kiling merupakan mainannya Ki Buyut Cungking. 



34 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



E. Kelembagaan Desa (Pertanian) 

Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi merupakan salah satu wi- 
layah tempat bermukim orang Using. Lembaga adat di Desa Aliyan 
yang barn saja berdiri menjadi bagian dari Lembaga Masyarakat 
Adat Using (LMAU) yang berpusat di Desa Kemiren. Setiap bulan 
ada pertemuan antarlembaga adat Using yang tersebar di beberapa 
tempat di Banyuwangi. Basis masyarakat Using ada di Giri, Glagah, 
Banyuwangi, Rabat, Rogojampi, during, Singojuruh, Slagi. Di Desa 
Aliyan lembaga adat Using Aliyan mewadahi selain kesenian di 
antaranya juga ritual adat keboan. Melalui lembaga ini diharapkan 
eksistensi tradisi ritual keboan tetap terjaga. 




Foto 5. Tempat Lembaga Masyarakat Adat Using Banyuwangi 

(doc. Tim Peneliti) 

Lembaga adat Using ini juga membina dan mengembangkan para 
generasi muda Using untuk berkarya dalam budaya khususnya dalam 
berkesenian. 

Tradisi adat ritual keboan berkait dengan pertanian, ritual tersebut 
di samping sebagai bentuk ucapan terimakasih dan berharap panenan 
yang lebih baik untuk musim berikutnya, juga sebagai penghormatan 
kepada leluhur Desa Aliyan yang telah menjaga desa sampai seperti 
sekarang ini. Masyarakat Desa Aliyan sebagian besar hidup sebagai 
petani. Sebagai petani mereka tergabung dalam kelompok tani, dan 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi | 35 



organisasi pengairan yang dipimpin oleh jaga tirta. Kelembagaan 
pengurusan air irigasi untuk pengairan sawah yang dihimpun dalam 
organisasi HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air) sebagai ketua 
dipegang oleh jaga tirta. Pengelolaan jaringan irigasi di tingkat desa 
dimana sawah yang diurus HIPPA terdiri dari 10 sub blok, satu sub 
luasnya 30 hektar. Untuk pembagian air dibagi sesuai kebutuhan (luas 
lahan). Setiap anggota ditarik pembayaran berupa hasil panen. 

Kelompok Masyarakat (Pokmas), yang ada di Desa Aliyan cukup 
banyak diantaranya yang disebut ’’Jenggirat Tangi” yang bergerak 
untuk penanggulangan kemiskinan; Pokmas ’’Gotong Royong” 
berfokus hanya melayani simpan-pinjam; ”Ijo Asri” kegiatannya 
penghijauan dan ternak kambing; Pokmas ’’Prabu Tawang Alun” 
khusus menyewakan luku pertanian; Pokmas ’’Gunung Banteng” dan 
Pokmas Kambing Wongso kegiatannya temak kambing (Profil Desa 
Aliyan 2013). 

Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) merupakan organisasi 
irigasi yang mengurusi pengelolaan distribusi air irigasi terutama 
di daerah kering atau yang memiliki periode musim kelangkaan air 
dengan tujuan meningkatkan produksi tanaman pertanian. Dalam 
hal ini pengelolaan air irigasi dikelola petani secara bersama-sama. 
Pengaturan dalam HIPPA ini diatur secara musyawarah, di antaranya 
bergotong royong bila saluran irigasi rusak, pengaturan pembagian 
air menurut luas lahan sawah yang digarap, pengaturan pembayaran 
untuk HIPPA yang ditentukan setiap satu sub memberi ’uang lelah’ 
dalam bentuk padi ke Jaga Tirta 12 karung atau 6 gembrong krupuk 
berupa padi hasil panen. Seperti diketahui luas persawahan Desa 
Aliyan 476, 991 Ha keseluruhannya merupakan sawah irigasi teknis. 
Dari luas sawah tersebut dimiliki oleh 350 keluarga. Pemilik lahan < 
1 hektar sebanyak 306 keluarga, 1-5 hektar 41 keluarga, 5-10 hektar 
3 keluarga. 

Dalam melaksanakan tugasnya jaga tirta dibantu oleh pembantu- 
nya yang disebut badal kurang lebih 10 orang yang ikut mengurusi 
keanggotaan HIPPA. Setiap pembantunya tersebut memiliki catatan 
nama penggarap sawah, luas sawah, masuk sub blok apa dan 
sebagainya. Para pembantu HIPPA ini juga ikut terlibat ketika acara 



36 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



ritual keboan digelar. Mereka ini yang ikut menyiapkan sesaji ketika 
ada slametan di dam gedhe, menyiapkan sesaji ketika gelar sanga, dan 
menyiapkan guyangan. Organisasi HIPPA di Aliyan ini setiap bulan 
Oktober ada pertemuan untuk bermusyawarah, tentang pembagian air, 
membicarakan kalau ada saluran bocor, berembug ritual yang akan 
dilaksanakan dan sebagainya. 

Organisasi Gapoktan Desa Aliyan mengkoordinir petani Desa 
Aliyan yang terhimpun dalam tujuh kelompok tani. Setiap kelompok 
tani anggotanya ada yang lebih dari 100 petani ada yang sekitar 90an 
petani. Ketujuh kelompok tani tersebut yaitu: Tawangalun, Wongso 
Kenongo, Kangkung Darat, Dewi Sri, Kembang Turi, Sudimampir, dan 
Cempokomulya. Kegiatannya simpan pinjam untuk anggota dan hal- 
hal yang berkait dengan pertanian. Ketika pemah mendapat bantuan 
dana 100 juta dari Dinas Pertanian dibagikan untuk 7 kelompok yang 
kemudian dikelola untuk simpan pinjam anggotanya. Simpan pinjam 
tersebut diperuntukkan khususnya untuk kebutuhan pertaniannya. 
Pengembaliannya pada saat panen. Apabila panen gagal ada keringanan 
dalam cara mengangsumya. Bagi kelompok yang aktif diprioritaskan 
mendapat bantuan peralatan pertanian (wawancara dengan ketua 
Gapoktan Desa Aliyan, April 2015). 

F. Organisasi Sosial 

Prinsip hubungan kekerabatan orang Using bilateral, yaitu meng- 
ikuti garis keturunan dari ayah maupun ibu. Namun ada kecenderungan 
berada pada prinsip patrilineal, yaitu mengikuti garis keturunan laki- 
laki. Kesatuan kekerabatannya yang utama adalah keluarga inti. Dalam 
kehidupan sosialnya ada pelapisan masyarakat yang termasuk golongan 
atas yang terdiri atas pertama para ulama, pemimpin desa/kampung, 
tokoh-tokoh kebatinan. Kedua, golongan menengah termasuk di sini 
pegawai, pedagang dan petani kaya, dan golongan bawah terdiri dari 
rakyat biasa dan buruh tani. 

Di Aliyan ada tokoh ulama yang terlibat dalam kegiatan agama 
dan sosial desa. Para ulama ini menjadi tempat untuk bertanya, me- 
minta nasehat, juga dimintai berkah keselamatan dan sebagainya. 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi | 37 



Kepemimpinan formal tingkat desa dipegang oleh kepala desa, yang 
dibantu oleh sekdes, dan di bawahnya ada kaur-kaur. Walaupun 
masyarakat Using sifatnya egaliter, tidak mengenal kasta seperti di 
Bali, tetapi terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang menonjol. 
Di Aliyan bila dilihat dari bangunan rumah tinggal terdapat kelompok 
masyarakat yang rumahnya cukup menonjol, besar, bertingkat, model 
spanyol pada umumnya adalah pemilik pedagang/juragan kerajinan 
manik-manik, dan pedagang beras. Rumah-rumah pegawai, karyawan, 
dan lain sebagainya rumahnya biasa hampir sama pada umumnya. 
Kelompoak buruh pada umumnya rumahnya kecil, dan tidak tembok. 

Kelompok menonjol lainnya bila dilihat dari kepemilikan lahan, 
ada kelompok pemilik lahan sawah yang luasnya 5-10 hektar hanya 
dimiliki oleh 3 orang. Hutan yang luasnya 611,3 hektar dimiliki secara 
perorangan, tetapi sayang tidak ada data jumlah pemiliknya. Tanah 
hutan ini bentuknya perbukitan. Tetapi bisa dipastikan bahwa pemilik 
hutan adalah orang-orang yang punya pengaruh dan tentunya kuat di 
bidang ekonomi. 

G. Religi 

Walaupun telah memeluk agama Islam, tetapi masyarakat Using 
masih percaya terhadap kepercayaan lama dari nenek moyang mereka 
yang animisme. Pada umumnya Orang Using masih menganut ke- 
percayaan turun temurun sebelum datangnya Islam. Mereka juga 
percaya kepada roh yang dipuja (danyang) di sebuah tempat misalnya 
ada di bawah pohon atau batu besar. 

Orang Using pada awalnya memeluk ajaran Hindu-Budha yang 
diyakini sebagai agama mereka. Agama Islam masuk dalam kehidupan 
orang Using karena gempuran Mataram yang keras ketika itu, yang 
memaksakan Islam kepada mereka akhirnya mereka terima. Itulah 
sebabnya yang kemudian sering terungkap dari ekspresi budaya orang 
Using yang pra-Mataram yang bercorak Hindu-Jawa (Anoegrajekti, 
2006: 80). Semenjak itu agama Islam secara perlahan merasuk dalam 
kehidupan orang Using dan secara perlahan orang Using menjadi 
pemeluk Islam. 



3 8 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Secara formal komunitas Using sudah memeluk Islam. Hal ini 
dapat dilihat dari tempat-tempat ibadah yang cukup banyak tersebar 
di wilayah kesatuan pennukiman orang Using. Penerimaan Islam 
sebagai agamanya tidak lantas menggusur tradisi yang sebelumnya 
ada. Kondisi ini justru yang memberi wama tradisi komunitas Using. 
Boleh dikata tradisi yang berlangsung pada komunitas Using masih 
diwarnai unsur-unsur animisme, dan dinamisme. Menurut pandangan 
Geertz mereka yang mayoritas petani, yang secara nominal adalah 
Islami tetapi masih terikat dengan ’animisme’ Jawa dan tradisi nenek 
moyang (dalam Beatty, 2001:40). 

Dalam sistem religi orang Using slametan menjadi hal yang paling 
mendasar dalam kehidupan orang Using. Ritus slametan menyelimuti 
hampir di semua hajatan yang diadakan oleh orang Using, dari 
slametan yang berkait dengan lifecycle seperti dari perkawinan, 
kelahiran sampai kematian. Anoegrajekti (2006: 82) menyebutkan 
slametan menjadi ritus paling penting yang mengintegrasikan kekuatan 
mikrokosmos dan makrokosmos yang dalam pandangan orang Using 
akan memberikan kedamaian, ketenteraman, dan kemakmuran hidup. 
Slametan bagi peserta upacara slametan sendiri dipandang sebagai 
bagian integral dari kehidupan mereka sebagai mahkluk sosial dan 
sebagai orang Jawa (Beatty, 2001: 35). 

Ada beberapa ritual yang masih dilaksanakan di lingkungan 
keluarga selain ritual desa yaitu slametan niliki sawah pada waktu 
padi usia satu bulan dengan sesaji pitik pekekeng. Kemudian ritual 
methik masih dilaksanakan, yaitu padi yang diambil dari sawah dibawa 
pulang disimpan, dikeluarkan lagi ketika akan mulai tandur berikutnya. 
Selamatan tingkat desa yaitu bersih desa. Upacara ini dilaksanakan 
sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat-Nya dan sebagai upaya 
untuk membersihkan atau menolak bencana yang disebut upacara 
keboan. 

Masyarakat Using Desa Aliyan sebagian masih percaya adanya 
tempat-tempat keramat, yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya 
para roh yang sewaktu-waktu hadir dalam kehidupan masyarakat 
Aliyan. Kehadiran mereka ini dibuktikan pada saat diselenggaralcannya 
upacara keboan, banyak warga Aliyan yang mengalami kerasukan 



Komunitas Adat Using Desa Aliyan Banyuwangi | 39 



'roll goib ’ tersebut. Masyarakat percaya 'roll go Hr yang masuk adalah 
penunggu tempat-tempat yang dianggap angker. Tempat-tempat yang 
dianggap ada penunggunya tersebut yaitu di gumuk-gumuk bukit 
hampir semuanya ada penunggunya, seperti Gunung Bayur, Gumuk 
Begundul, bukit Ki Jalen. Tempat yang dianggap keramat makam 
Buyut Wongso Kenongo, Buyut Wadung, juga di Petaunan tempat 
Joko Pekik. Sebelum ritual keboan diselenggarakan tempat-tempat 
tersebut diberi sesaji. 

S lame tan di makam Buyut Wongso Kenongo atau Buyut Wadung 
dilakukan oleh orang Using tidak hanya pada saat ritual keboan saja, 
tetapi juga bila ada keperluan lainnya misal akan hajatan perkawinan, 
khitanan, kelahiran, maupun keperluan lainnya dan bila sehabis me- 
laksanakan hajadan. Terbukanya masyarakat Using dalam menerima 
pengaruh dari luar ini membuat kepercayaan mistis dan agama masih 
bercampur. Masyarakat Using masih menjaga tradisi dan kepercayaan 
yang dianut jaman dahulu dan tetap bisa menerima agama Islam masuk 
ke wilayahnya saat itu maupun sekarang. 



BAB III 



PENGETAHUAN MASYARAKAT USING DESA 
ALIYAN TERHADAP LINGKUNGAN ALAM 



Masyarakat Using Desa Aliyan sebagian besar bermatapencaharian 
sebagai petani. Selain hidupnya bertumpu dari lahan sawah, sebagian 
juga mendapat penghasilan dari hasil perkebunan. Pergulatan mereka 
dalam menggarap sawah berpedoman pada pengetahuan yang mereka 
peroleh secara empirik. Petani Desa Aliyan dalam mengelola sawah di 
samping berpedoman pengetahuan yang dimiliki tersebut (pengetahuan 
lingkungan fisik) juga berpedoman pada pandangan mistis-religius 
yang mereka peroleh secara turun-temurun. Pandangan mistis religius 
berkait dengan usaha untuk keberhasilan dalam panen dan usaha untuk 
terhindar dari hama penyakit (pengetahuan non fisik). 

A. Pengetahuan Lingkungan Fisik 

1. Pengetahuan Lahan Sawah, Tegal, dan Pekarangan 

Manusia dalam kehidupannya tidak bisa hidup sendiri, dan tidak 
bisa lepas dari lingkungan alam. Dalam berinteraksi dengan ling- 
kungannya mereka harus beradaptasi dengan lingkungan alam, bagai- 
mana cara mengelola atau menghadapi lingkungannya. Manusia 
dalam hidupnya harus dapat menguasai lingkungannya, dan mampu 
menghadapi lingkungannya, bahkan mampu memanfaatkan lingkungan 
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 



41 



42 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Pengetahuan Lahan Sawah. Terkait dengan tanah sawah, ma- 
syarakat Using Desa Aliyan berpandangan bahwa tanah sawah 
merupakan sesuatu yang sangat penting karena masyarakat Using 
lebih menganggap sebagai kekayaan yang sangat penting dalam 
kehidupannya (Wawancara dengan Pak Bam, April 2015). Tanah 
sawah merupakan bentuk kekayaan bagi masyarakat Using. Hal ini 
dapat dikatakan bahwa tanah sawah merupakan sumber penghidupan 
sehari-hari. Oleh karena itu, masyarakat mengelolanya dengan sebaik- 
baiknya demi kelangsungan kesuburannya. Oleh karena itu, mereka 
berusaha bahwa tanah sawah tidak harus ditanami padi secara terus- 
menerus, akan tetapi diselingi tanaman palawija. Hal ini dimaksudkan 
agar tanah sawah tidak cepat tandus. 

Berkait dengan lahan sawah, di wilayah Desa Aliyan ada tanah 
yang subur dan tanah yang tidak subur. Berdasarkan pengalaman 
sehari-hari mengelola lahan sawahnya, masyarakat Using Aliyan 
mengetahui bagaimana tanda tanah yang subur maupun yang tidak 
subur. Tanda-tanda tanah yang subur menurut Pak Bam (wawancara, 
April 2015): 

a. Berwama kecoklatan dan ditanami apa saja bisa tumbuh 
dengan baik; 

b. Wamanya abu-abu kehitaman; 

c. Tanahnya gembur karena tidak banyak mengandung lempung 
dan berwama kebiru-biruan. Warna biru ini menunjukkan 
banyaknya kandungan bahan organik dari pupuk kandang 
maupun daun-daunan yang telah busuk dan kemudian menyatu 
dengan tanah; 

d. Berwama hitam legam yang oleh masyarakat setempat disebut 
lemah cepang; 

e. Jika dicangkul relatif mudah dan kalau diraba lengket, 
warnanya keabu-abuan juga ada unsur coklatnya; 

f. Berwama abu-abu dan ada unsur hitamnya serta pekat. Adapun 
bentuk tanahnya lembut dan mawur. 

Sebaliknya tanda-tanda tanah yang tidak subur berwarna kemerah- 
merahan, bentuknya pecah-pecah ( mbegak ). Manakala ditanami 



Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alain | 43 



tanaman yang sebenamya tak memerlukan perawatan sekalipun, 
hasilnya tidak akan menggembirakan, misalnya tanaman ketela dan 
pisang; 

a. Tanahnya gersang menyerupai padas yang jika ditanami sawi 
(ketela) atau pisang tidak akan tumbuh dengan baik; 

b. Tanah berwarna kemerah-merahan mendekati coklat dan 
struktur tanahnya pecah-pecah; 

c. Banyak kandungan lempungnya, bergumpal-gumpal ( mrong - 
kal-mrongkal ), berwarna merah; 

d. Jika dicangkul keras dan wamanya putih; 

e. Tanahnya berkapur; 

f. Tanah yang tidak subur warnanya kemerah-merahan dan 
bentuknya keras (seperti pasir). 

Namun demikian masyarakat Aliyan juga mengetahui cara-cara 
untuk menyuburkan tanah. Untuk meningkatkan kesuburan tanah, 
umumnya petani di Desa Aliyan mempunyai pengetahuan lokal 
(kearifan tradisional). Sebagai contoh tanah dalam jangka waktu 
tertentu dibalik dengan luku ( singkaf) dipacul dan diberi pupuk 
kandang (kotoran temak sapi) dan kompos daun-daunan. Selain itu, 
tanah juga diberi tambahan pupuk kimia (mes) sedikit saja karena jika 
kelebihan justru akan merusak humus tanah. Untuk lahan sawah (habis 
panen), jerami dibakar dan abunya diratakan pada bidang lahan sawah 
sehingga akan mendapat tingkat kesuburan yang cukup memadai pada 
lahan tersebut. Secara rinci berikut ini pengetahuan mereka (petani) 
dalam menyuburkan tanah: 

a. Tanah diberi pupuk (kandang, kimia, kompos/dami), dan 
pengolahan tanah dilakukan secara benar; 

b. Terutama yang lazim digunakan oleh petani lokal adalah 
pupuk kandang, tepatnya kotoran ternak kambing, sapi, dan 
unggas; 

c. Pemberian dolomite secukupnya; 

d. Digunakan tanaman talas; 



44 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



e. Kompos atau pupuk hijau yang berasal dari daun-daunan, 
seperti orok-orok dan lamtoro yang telah dibusukkan. Juga 
ditambah dengan jerami yang dibusukkan atau dibakar. 

Persawahan tidak dapat dilepaskan dari sistem pengairan karena 
air menjadi sesuatu yang vital bagi sebuah sawah. Sawah yang tidak 
mendapatkan cukup air hasil tanamannya tidak akan memuaskan atau 
bahkan bisa mengakibatkan gagal panen. Maka diperlukan sebuah 
usaha atau alat kelola dalam rangka untuk memberikan sawah yang 
cukup dengan air. Kaitannya dengan sawah berpengairan, Sumintarsih 
dkk (dalam Herawati dkk., 2004: 92) membedakan sawah menjadi 
tiga jenis pengairan: 

a. Sawah berpengairan teknis, yaitu sawah yang pengairannya 
dapat diatur, pemberian aimya yang dapat diukur, dan saluran 
pembantu serta pembuangan air memenuhi persyaratan teknis 
bangunan irigasi; 

b. Sawah berpengairan setengah teknis, yaitu sawah yang peng- 
airannya dapat diatur, tetapi pemberian airnya tidak dapat 
diukur, saluran pembawa dan pembuangannya memenuhi 
teknis persyaratan bangunan irigasi; 

c . Sawah berpengairan sederhana, yaitu sawah yang pengairannya 
tidak dapat diatur, pemberian airnya tidak dapat diukur dan 
bangunan irigasinya dibuat secara sederhana seperti umumnya 
terlihat di desa-desa. 

Berdasarkan kriteria ini sistem pengairan sawah di Desa Aliyan 
diatur dengan pengairan secara teknis. Dengan demikian setiap tahun 
dapat ditanami padi secara terus-menerus. Akan tetapi, untuk menjaga 
kesuburan tanah masyarakat petani Desa Aliyan menanami cukup dua 
kali menanam padi dan satu kali menanam palawija. 

Pengetahuan Tanah Tegal. Pada dasarnya, yang dimaksud dengan 
tegal adalah lahan kering, yaitu tempat atau tanah yang ditumbuhi 
pohon-pohonan, baik yang ditanam maupun liar, seperti kelapa, duren, 
rambutan, pohon nangka, dan tanaman liar lainnya. Tegal adalah tanah 
yang tidak dapat mendapat pengairan sehingga tumbuh tanaman keras. 



Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alain | 45 



Untuk Desa Aliyan, tegal dapat pula diartikan sebagai alas. Alas ini 
pada umumnya berupa perbukitan yang dimiliki secara perorangan. 
Dapat pula tegal diartikan sebagai tanah yang tidak mendapatkan 
pengairan secara intensif sedang tanaman yang ada adalah palawija, 
jagung, ketela pohon ( sawi ), mentimun, dan lombok. 

Selain itu, tegal juga merupakan tanah yang tidak banyak pohon 
yang besar, tetapi juga tidak bergenang air. Tanah ini biasanya ditanami 
palawija, seperti kentang, terong, ketela pohon, ketela rambat. Tanah 
tegal ini biasanya diberi batas dengan menggunakan pagar hidup, 
misalnya dengan pohon ketela. Pohon ini tumbuhnya tidak besar 
karena daunnya sering diambil untuk sayur. Untuk menjaga agar tanah 
ini tetap subur diberi pupuk alami, yaitu yang berupa tlethong (pupuk 
kandang). 

Ada yang menyebutkan tegal dengan istilah kebun, dan biasanya 
ada tanaman keras atau kekayuan, seperti kelapa, durian, juga kayu 
sono. Menurut Sumintarsih dkk (1993/1994), tegal bagi petani me- 
rupakan lahan pokok untuk mengusahakan jenis tanaman pangan 
maupun tanaman komersial, juga mempunyai arti: Sebagai tempat 
sesaban, yaitu tempat untuk melakukan sesuatu dan mencari sesuatu 
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagai gogo sawahe, 
yaitu sebagai sumber kehidupan sehari-hari bagi petani. 

Tegal merupakan tempat ubo rampe (barang kebutuhan) sehari-hari 
bagi petani. Para petani kalau ke tegal dapat mengambil berbagai jenis 
tanaman yang diperlukan, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun 
untuk dijual. Berdasarkan pengertian tegal tersebut, bagi masyarakat 
memang mempunyai arti yang sangat dibutuhkan keberadaannya 
untuk menunjang kehidupannya. Jadi, tegalan itu yang pokok tidak ada 
bangunan untuk tempat tinggal dan biasanya letaknya agak jauh dari 
pemukiman penduduk. Jenis tanaman di tegal berupa tanaman keras 
yang berupa kayu jati dan kayu sono keling yang dapat dimanfaatkan 
untuk bangunan rumah. 

Tanah Pekarangan. Selain tegal, lahan pekarangan juga termasuk 
dalam lahan kering. Antara lahan tegal dan lahan pekarangan ini 
terdapat ekosistem yang sulit dibedakan (Prasetya, 1984). Dilihat dari 
jenis tanaman yang diusahakan, antara lahan tegal dan pekarangan sulit 



46 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



dibedakan atau hampir sama. Pada lahan pekarangan, ada tanaman 
jangka panjang, juga tanaman jangka pendek. Namun demikian, yang 
jelas sekali membedakan, yaitu adanya bangunan tempat tinggal di 
lahan pekarangan, dan ini merupakan ciri utama dari adanya lahan 
pekarangan 

Uraian tersebut hampir sama dengan pendapat masyarakat. Menurut 
mereka, pekarangan adalah tanah yang biasanya ada penghuninya 
atau rumah tempat tinggal, dan biasanya di kanan-kiri ada tanaman, 
misalnya pohon hates, pisang, sayur-sayuran, juga bagian latar ditanami 
dengan bunga-bungaan, dapat pula berupa apotek hidup dan warung 
hidup. Ada pula yang berpendapat bahwa pekarangan, yaitu tanah ada 
di dekat rumah dan biasanya dibatasi dengan pagar hidup, seperti teh- 
tehan atau ketala pohon. Menurut istilah mereka, tanah erep digunakan 
untuk tempat tinggal mereka. 

Menurut Sumintarsih dkk (1993/1994), pekarangan adalah tanah 
yang dipilih untuk tempat bermukim, berproduksi, melakukan kegiatan 
ekonomi. Dengan kata lain, pekarangan adalah tempat manusia 
melakukann kegiatan yang cukup kompleks. Berdasarkan pengaturan 
tata ruangnya, lingkungan pekarangan terdiri dari bangunan rumah 
dikelilingi oleh halaman kanan-kiri, muka-belakang yang semuanya 
dimanfaatkan untuk budidaya tanaman. Selain halaman rumah, di 
daerah Aliyan pada umumnya ada bangunan beserta halaman yang 
juga ditanami aneka macam tanaman. Jenis tanaman pekarangan di 
Desa Aliyan antara lain tanaman kelapa, mangga, pepaya, dan lain 
sebagainya. Semua jenis tanaman pekarangan itu sangat bermanfaat 
dalam kehidupan masyarakat. 

2. Sumber Air 

Air mempunyai peran kunci bagi kelangsungan semua makhluk 
hidup di dunia ini. Termasuk di dalamnya adalah manusia, menurut 
Sudarmadji (Munawaroh, 2013:114), manusia dalam memenuhi 
kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam berupa tanah, air, 
udara dan sumberdaya alam yang lainnya termasuk sumberdaya yang 
terbarukan maupun yang tak terbarukan. Dari berbagai sumberdaya 
tersebut, air merupakan sumberdaya yang penting bagi kehidupan 



Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alain | 47 



makhluk hidup. Tanpa air makhluk hidup baik manusia, hewan maupun 
tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup. 

Air memegang peranan yang penting dalam siklus kehidupan 
manusia. Dari lahir hingga meninggal manusia selalu membutuhkan 
air. Dalam kehidupan manusia, air diperlukan untuk memenuhi ke- 
butuhan hidup sehari-hari seperti untuk minum, memasak, dan mandi, 
cuci, kakus (MCK). Menurut Sumintarsih dan Ariani (2007), selain 
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, air juga bermanfaat menunjang 
kegiatan atau aktivitas manusia dalam hidupnya seperti untuk sarana 
transportasi, perikanan, dan kegiatan pertanian. 

Di sektor pertanian, air menjadi hal mutlak yang dibutuhkan. Tanpa 
air, petani mengalami kesulitan dalam bercocok tanam. Termasuk di 
dalamnya pertanian sawah. Menurut Geertz (1983: 29) tanaman padi 
(oryza sativa ) yang ditanam dengan sistem irigasi adalah tanaman yang 
unik. Air dalam dinamika sawah memainkan peranan yang penting. 
Lapisan tanah yang tipis diatasi dengan memasukkan unsur hara 
melalui air dari irigasi untuk menggantikan zat makanan yang diambil 
dari tanah. Unsur hara diperoleh melalui proses pengikatan nitrogen 
oleh ganggang yang tumbuh subur di dalam air serta terjadinya proses 
pembusukan secara kimiawi oleh bakteri dari bahan-bahan organik, 
termasuk dari sisa-sisa tanaman yang tertinggal di dalam air. 

Selain pemenuhan unsur hara, menurut Grist (Geertz, 1983:30) 
penyediaan dan pengontrolan air juga merupakan aspek yang terpenting 
dari penanaman padi. Jika persediaan air cukup banyak dan terkontrol 
dengan baik, padi dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah dalam berbagai 
iklim. Tanaman padi hidup tergantung pada bahan yang melingkupi 
sebagai sumber makanannya bukan tergantung pada permukaan yang 
padat dimana tanaman itu berakar. Untuk itu air menjadi faktor kunci 
untuk kelangsungan suplai pangan yang berkelanjutan. 

Banyuwangi pernah menyumbang beras ketika India terancam 
bahayakelaparanpadatahun 1947 (Suhalik, 2015:178-179). Pengiriman 
bantuan beras Indonesia ke India ini salah satunya melalui pelabuhan 
Meneng Banyuwangi. Eksistensi reputasi Banyuwangi dalam produksi 
pangan (beras) tidak dapat dipisahlcan dari faktor geografis wilayah 
Banyuwangi. Wilayah Banyuwangi dikelilingi oleh gunung-gunung, 



48 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



dari pegunungan inilah mengalir sungai-sungai yang kemudian meng- 
alir menyebar di wilayah Banyuwangi. Masyarakat Banyuwangi 
dengan teknik yang sederhana kemudian membangun dawuhan 
(bendungan kecil). Te kn ik sederhana yang digunakan adalah dengan 
membuat tumpukan dari karung plastik yang berisi pasir, karung plastik 
yang telah diisi pasir kemudian disusun di sungai sebagai alat untuk 
membendung air. Bendungan kecil ini yang kemudian mengalirkan air 
ke saluran irigasi guna mengairi lahan pertanian milik warga. 

Demikian pula orang Using dengan kearifan lokalnya memilih 
tempat hunian sebagai permukiman dengan memilih tempat yang 
subur dan melimpah sumberdaya airnya. Hal ini menunjukkan bahwa 
masalah air menjadi syarat utama untuk kelangsungan hidup. Ke- 
langsungan hidup baik untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun 
untuk kebutuhan yang lain tennasuk untuk pertanian dan sebagainya. 
Demikian pula dengan masyarakat Using di Desa Aliyan, dalam 
menentukan lokasi pemukiman, para leluhur mereka pada waktu 
itu juga memperhatikan betul dengan melihat bahwa daerah Aliyan 
merupakan daerah yang subur dan memiliki kontur tanah yang datar 
dan rata serta air tersedia cukup banyak sehingga cocok untuk dijadikan 
tempat menetap. Seiring dengan berjalannya waktu kini kondisi 
wilayah Desa Aliyan mengalami perkembangan dan perubahan, dalam 
memenuhi air bersih masyarakat Desa Aliyan mengalami kesulitan. 
Melihat kondisi nyata bahwa untuk memenuhi kebutuhan air bersih 
bila membuat sumur galian mereka haras membuat sumur dengan 
kedalaman yang cukup dalam, sedangkan bila menggunakan air sungai 
keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi, airnya tidak sejernih dulu. 
Adapun untuk memenuhi air di Desa Aliyan terpenuhi dengan dua 
cara yaitu mengandalkan saluran irigasi untuk pertanian dan sumber 
air bersih melalui sumur gali, sumur bor serta PAM. 

Saluran Irigasi Desa Aliyan. Desa Aliyan sebagai daerah per- 
tanian, air menjadi kebutuhan yang penting. Untuk memenuhi ke- 
butuhan air sebagai penunjang kegiatan pertanian sawah, para petani 
di Desa Aliyan mengandalkan saluran irigasi yang airnya bersumber 
dari sungai yang melintas di wilayahnya, mengingat Desa Aliyan tidak 
memiliki sumber mata air (tuk). Wilayah Desa Aliyan dilalui oleh 



Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alain | 49 



beberapa sungai namun beberapa diantaranya mempunyai debit air 
yang kecil. Irigasi yang ada di wilayah Desa Aliyan antara lain meliputi 
irigasi Gintangan, saluran air Aliyan dan Toya Jati. Sedangkan untuk 
tiga irigasi tersebut bersumber dari sungai besar yang oleh masyarakat 
Aliyan sering disebut dengan daerah irigasi (DI) yaitu daerah irigasi 
Bomo yang ada di wilayah Gintangan, daerah irigasi Kumbo dan daerah 
irigasi Garit yang ada di wilayah Singojuruh. Sistem pengelolaan 
daerah irigasi ini menjadi tanggung jawab ketua Himpunan Petani 
Pemakai Air (HIPPA). 

Di Desa Aliyan, Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) diketuai 
oleh Jum yang sekaligus merangkap sebagai jaga tirta. Jum yang 
akrab dipanggil pak modin dibantu oleh 10 orang bawahan yang 
membantunya dalam mengkoordinir petani yang ada di Desa Aliyan. 
Jaga tirta atau jaga banyu memiliki tugas dan tanggungjawab dalam 
mengelola maupun memelihara saluran irigasi tennasuk di dalamnya 
menyelenggarakan upacara ritual yang berkaitan dengan ritual 
pertanian maupun upacara dalam upaya melestarikan sumber air yang 
telah berlangsung secara turun-temurun. Masyarakat secara tidak 
langsung memiliki caranya sendiri dalam upaya menjaga kelestarian 
alam termasuk kelestarian sumber air. Seperti halnya di Desa Aliyan, 
untuk menjaga kelestarian alam dan sumber air, masyarakat Desa 
Aliyan menyelenggarakan beberapa ritual. Pelaksanaan ritual tersebut 
di bawah tanggungjawab jaga tirta atau jaga banyu. 




Foto 6. Saluran irigasi di Desa Aliyan yang melintasi perkampungan warga 

(Doc. Tim Peneliti) 



50 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Ritual yang menjadi tanggungjawab jaga banyu atau jaga tirta 
adalah rebo wekasan dan pelaksanaan ritual keboan. Upacara rebo 
wekasan berkaitan dengan upacara slametan yang berkaitan erat 
dengan sumber air yang ada di daerah irigasi (DI). Upacara rebo 
wekasan dilaksanakan di Dam Ageng dengan tujuan agar air melimpah, 
sehingga air yang ada mampu untuk mengairi lahan pertanian mereka 
terlebih saat musim kemarau telah melanda. Dengan tercukupinya 
air dalam usaha pertanian mereka, para petani mengharapkan usaha 
pertaniannya dapat berhasil dan dapat menghasilkan panenan yang 
bagus. Dalam upacara slametan rebo pungkasan yang dilakukan 
oleh masyarakat Desa Aliyan ini, sesajian yang digunakan adalah 
pitik pethetheng (ayam bekekeng). Ritual keboan juga berkait dengan 
pertanian yang mengharapkan hasil panenan bagus. Di dalam upacara 
ini juga ada unsur air yang sangat dibutuhkan untuk mengairi sawah 
mereka. Oleh karena itu di dalam prosesi ini ketika upacara akan 
dimulai di tempat upacara (depan rumah jaga tirta ) dialiri air dari 
irigasi/sungai sebagai simbol sawah akan mendapatkan kecukupan air 
supaya hasilnya melimpah. 

Sumber Air Bersih. Sungai yang melintas di Desa Aliyan selain 
berfungsi untuk pengairan sawah atau lahan pertanian lainnya, juga 
dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk memenuhi kebutuhan hidup 
sehari-hari seperti mencuci pakaian, bahkan untuk mandi dan buang 
hajat. Pemandangan aktivitas sehari-hari mandi, cuci, dan kakus 
(MCK) warga masyarakat yang dilakukan di sungai ini telah menjadi 
pemandangan yang biasa bahkan telah menjadi aktivitas rutin bagi 
mereka terutama bagi kaum ibu-ibu. Walaupun jika dilihat dari segi 
kesehatan aliran sungai yang dimanfaatkan oleh sebagian warga Desa 
Aliyan untuk kegiatan mandi, cuci dan kakus (MCK) tersebut jauh 
dari ’sehat’. Air sungai nampak sudah tercemar, air yang mengalir 
berwama keruh kecoklatan dan di beberapa tempat tampak pula sungai 
tersebut terlihat kotor oleh tumpukan sampah yang dibuang ke dalam 
sungai. Banyaknya sampah yang ada di sungai menunjukkan bahwa 
kesadaran warga masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan 
masih kurang. Sampah yang ada di sungai menimbulkan pemandangan 
yang tak sedap dipandang mata. 



Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alain \ 5 1 



Menurut penuturan Bam tokoh masyarakat Dusun Timurejo 

”warga sebenamya memiliki kamar mandi sendiri di rumah masing- 
masing, namun demikian masih ada beberapa warga yang melakukan 
kegiatan mandi, cuci dan kakus (MCK) di sungai”, mereka merasa 
lebih ’puas’ melakukannya disungai” kata Pak Bam sambil tersenyum 
(wawancara, 15 April 2015). 

Sarana kamar kecil yang dimiliki oleh warga yang masih 
menyalurkan kebutuhan hidupnya di sungai jarang digunakan, 
mereka hanya kadang kala menggunakannya. Sarana tersebut banyak 
digunakan pada saat ada sanak famili atau tamu yang datang untuk 
berkunjung (silaturahmi). 




Foto 7. Pemanfaatan sumber air (sungai) untuk kebutuhan MCK 

(Doc. Tim Peneliti) 



Dalam memenuhi kebutuhan air, selain memanfaatkan air dari 
sungai masyarakat Desa Aliyan juga memanfaatkan air bersih yang 
diperoleh dari sumur galian, sumur bor maupun PAM. Mengingat 
kondisi wilayah Desa Aliyan yang tidak memiliki sumber ’ tuk ’ alami, 
untuk mendapatkan air bersih melalui sumur galian mereka harus 
melakukan penggalian sedalam 17 meter. Karena sulitnya warga untuk 
mendapatkan akses air bersih karena harus menggali hingga kedalaman 
17 meter, maka banyak warga yang kemudian memanfaatkan sungai 
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang berkaitan dengan air. Bagi 
warga yang mampu secara ekonomi lebih memilih untuk membuat 
sumur bor. Dengan adanya sumur bor, mereka tidak menjadi khawatir 



52 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



lagi dalam memenuhi kebutuhan air walaupun kemarau sudah melanda. 
Sumur bor mulai masuk di wilayah Desa Aliyan sejak tahun 1985. 
Untuk membuat sumur bor membutuhkan biaya yang tidak sedikit 
jumlahnya, sehingga tidak semua warga, mampu untuk membuat 
sumur bor. Sumur bor yang dimiliki oleh warga mencapai kedalaman 
hingga 85 meter. Menurut Bam (wawancara, April 2015), pemerintah 
desa di wilayah Desa Aliyan juga pernah merintis pemenuhan air 
bersih melalui PAM. Namun program ini tidak mampu bertahan lama 
dan sekarang ini telah berhenti disebabkan oleh faktor biaya tagihan 
listrik. 

’’Air PAM yang telah dirintis oleh pemerintah desa disalurkan ke 
masyarakat tanpa menggunakan meteran, sehingga ada warga yang 
menggunakan semaunya tanpa menghiraukan kebutuhan warga yang lain. 
Pada akhimya ada warga yang kekurangan air karena tidak mendapat 
bagian air. Hal ini menimbulkan kecemburuan diantara warga. Belum 
lagi tagihan listrik setelah 5 bulan berjalan, menjadi tinggi” (wawancara, 
15 April 2015). 

Menurut Bam, sekarang ini akan dibentuk lagi pengurus yang baru 
untuk mengelola sumber air bersih melalui PAM. Diharapkan dengan 
pengelolaan air bersih melalui PAM oleh kepengurusan baru dapat 
memperbaiki sistem pengelolaan air PAM, sehingga seluruh warga 
dapat terjangkau oleh air bersih. 

B. Pengetahuan Non Fisik 

Telah disebutkan bahwa petani Desa Aliyan dalam mengelola 
lahan sawahnya di samping berpedoman pada pengetahuan yang 
diperolehnya secara empirik, juga mengacu pada pengetahuan mistis- 
religius yang diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyangnya. 
Dalam pandangan kosmologinya masyarakat Jawa khususnya masih 
memandang pada keseimbangan dunia mikrokosmos dan makrokosmos. 
Mikrokosmos adalah dunia manusia atau jagad cilik dan makrokosmos 
adalah alam semesta yang menaungi tempat manusia berpijak atau 
jagad gedhe. Dalam dunia mikrokosmos dan makrokosmos ada 



Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alain | 53 



keyakinan dari manusia yang sifatnya supranatural. Untuk menjaga 
keseimbangan dunia mikrokosmos dan makrokosmos manusia 
melakukan ritual-ritual. Dalam alam kepercayaan mereka (petani) 
Dewi Sri merupakan personifikasi dewi kesuburan yang melindungi 
tanah persawahan mereka. Untuk menjaga hubungan ini, dalam sistem 
religi masyarakat petani Aliyan melakukan ritual pemujaan kepada 
Dewi Sri, misalnya dalam ritual methik, dan dalam ritual keboan. 
Dalam sistem pengetahuan mereka Dewi Sri yang menjadi danyang 
persawahan mereka dan yang menjaga padi ketika mereka panen. 

Masyarakat Aliyan juga percaya bahwa alam lingkungan di 
sekitar desanya dijaga oleh seorang Buyut yang dikenal sebagai tokoh 
mistis yang sangat dihormati oleh masyarakat Desa Aliyan. Dalam 
sistem kepercayaan mereka Buyut Wongso Kenongo maupun Buyut 
Wadung merupakan tokoh magis yang telah membantu warga Desa 
Aliyan menjadi seperti sekarang ini. Selain itu mereka juga memiliki 
keyakinan bahwa mahkluk halus berada di sekitar kehidupan mereka 
yang menempati tempat-tempat tertentu di sekitar desa. Oleh sebab 
itu warga masyarakat Aliyan berusaha melakukan hubungan baik dan 
memelihara hubungan itu supaya para mahkluk halus itu atau mereka 
menyebutnya 'roh go if/ tidak mengganggu kehidupan mereka dengan 
melakukan ritual-ritual (wawancara dengan Pak Sup ketua adat, April 
2015). Religi ini menurut Firth (dalam Radam, 2001: 1-2) merupakan 
suatu keyakinan, dan bisa disebut religi bila ada upacara yang 
menyertainya, karena suatu keyakinan akan memunculkan upacara, 
dan upacara sebagai ekspresi dari keyakinan tersebut. 

Praktik-praktik sosio-kultural yang terdapat pada masyarakat 
Using Banyuwangi sampai sekarang masih terns dilestarikan oleh 
masyarakat pendukungnya (Siswanto, dan Eko P, 2009: 12). Seperti 
halnya untuk menjaga kelestarian alam dan sumber air, masyarakat 
Desa Aliyan menyelenggarakan beberapa ritual. Pelaksanaan ritual 
tersebut di bawah tanggungjawab jaga tirta atau jaga banyu. Ritual 
yang menjadi tanggungjawab jaga banyu atau jaga tirta adalah rebo 
wekasan dan pelaksanaan ritual keboan. 



54 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



C. Distribusi dan Konsumsi 

Banyuwangi dikenal sebagai lumbung padi wilayah Jawa Timur. 
Daerah penghasil beras di Banyuwangi adalah di daerah Licin, yang 
terletak di lereng pegunungan Ijen, berhawa sejuk, lahan pertaniannya 
sangat subur dan sumber pengairannya berlimpah, karena berasal dari 
mata air di pegunungan. Selain itu Rogojampi dan Desa Khayangan 
juga menjadi daerah penghasil beras yang besar. Contoh hasil 
pertanian di Banyuwangi antara lain beras pulen yang banyak dikirim 
ke Bali dan kota-kota di Jawa Timur, beras organik, semangka, cabe, 
jeruk, buah naga, manggis, belimbing, anggur, rambutan, binjai, dan 
lain-lain. Contoh daerah penghasil pertanian adalah Licin, Benculuk, 
Blimbingsari, Rogojampi, Songgon dan lain-lain. Hasil pertanian 
seperti manggis, jeruk dan buah naga kualitas nomor satu ini bahkan 
sampai diekspor ke mancanegara, sedangkan beras dan buah-buahan 
lainnya banyak yang dikirim ke Bali dan kota-kota besar di Jawa 
(http://ehristabelangela.blogspot.eom/2012/l 1/kegiatan-ekonomi-di- 
banyuwangi.html, diakses 18 Mei 2015) 



r 




Foto 8. Hamparan sawah dan Kiting 

(doc. Tim Peneliti) 




Pengetahuan Masyarakat Using Desa Alivan terhadap Lingkungan Alam | 55 



Saat ini sebagian besar wilayah Rogojampi dihuni oleh masyarakat 
Using dan juga beberapa desa seperti Patoman dan sebagian Bomo. 
Pada wilayah tertentu didiami oleh masyarakat Jawa dan Madura. 
Sebagian besar merupakan wilayah pedesaan sedangkan di bagian 
tengah menjadi pusat kegiatan ekonomi, yaitu adanya pasar tradisional. 
Di kawasan Rogojampi, khususnya Desa Aliyan merupakan lansekap 
sawah dengan kiling yang menjadi gambaran tradisional persawahan 
Desa Aliyan. 

Pada waktu musim panen padi sebagian ada yang disimpan untuk 
dikonsumsi sendiri dan sebagiannya lagi dijual. Ada juga yang dijual 
semua. Penjualannya ada yang pembelinya datang atau dijual keluar. 
Pada umumnya menggunakan sistem tebas, biasanya ada ijon dulu. 
Tetapi, petani yang kuat sudah kontrak dengan pabrik. Dalam hal 
pemasaran ini kelompok tani tidak ikut campur. Kelompok tani ikut 
campur dalam hal produksinya, sifatnya juga hanya pembinaan yang 
mengarah ke pola tanam, atau gropyokan hama (wawancara dengan 
Pak Bam, April 2015). 

Lahan tanaman pangan Desa Aliyan selain padi juga diperoleh 
dari ubi jalar, ubi kayu, jagung, kacang kedelai, kacang tanah. Hasil 
buah-buahan mangga, rambutan, salak, papaya, durian, pisang, nangka. 
Tidak semua hasil tanaman mereka ini dikonsumsi tetapi ada yang 
dijual di pasar, ditebas atau lewat tengkulak yang datang ke petani. 



BAB IV 



RITUAL KEBOAN DESA ALIYAN PASCA MATISURI 



Desa-desa di Banyuwangi masih banyak yang melestarikan budaya 
leluhur yakni yang disebut sedekah descd yang diadakan setiap tahun, 
khususnya pada masyarakat Using. Tradisi sedekah desa ini di setiap 
desa memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Desa Grogol kecamatan Giri 
misalnya, menyelenggarakan sedekah desa pada bulan Rajab dengan 
tontonan tradisional dan doa bersama di atas makam leluhur Buyut 
Jiman. Di Desa Boyolangu, leluhurnya bernama Buyut Jaksa, sedekah 
desa diadakan pada bulan Sura. Selain tradisi ritual, di desa ini juga ada 
tradisi yang disebut puter kayun yang dilaksanakan setiap tanggal 10 
Syawal. Sedekah desa yang diadakan berkait dengan pertanian adalah 
Desa Bakungan, Kemiren, Olehsari, Alasmalang, dan Aliyan. Desa 
Alasmalang dan Aliyan, sedekah desa dengan ritual kebo-keboan. Di 
Desa Kemiren sedekah desa dengan arak-arakan Barong. Leluhurnya 
bernama Buyut Chili. Di Bakungan dan Olehsari, slametan dilakukan 
dengan menggelar seblang. Tradisi di berbagai desa yang bemuansa 
religi tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini masih berlangsung 
yang menandakan juga adanya hubungan manusia dengan alam 
kehidupannya. 



4 Sedekah biasa dkombinasikan dengan slametan dalam upaya untuk menyembatani yang hidup dan yang 
mati dalam ritual yang sama. Misalnya sesudah panen (panen melimpah maupun tidak) orang mengirim 
doa-doa bagi nenek moyang untuk berterimakasih atas tanah yang menghidupi mereka (Beatty, 200 1 : 
46), dan berharap semua diberi berkah yang baik untuk panen berikutnya, desa mendapat keselamatan 
dan warganya. 



57 



5 8 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Desa Aliyan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian 
sebagai petani. Menurut cerita dahulu kala desa tersebut sering men- 
dapat gangguan hama yang membuat hasil pertanian warga setempat 
tidak bisa dipanen dengan hasil mencukupi. Keadaan ini kemudian 
memunculkan upaya-upaya dari warga setempat untuk mengatasinya, 
di antaranya dengan melakukan ritual yang dilakukan para petani 
di lahan-lahan sawahnya, maupun ritual yang dilakukan oleh warga 
sedesa yang dikenal dengan ritual keboan. 

Dalam perjalanannya ritual keboan pernah mengalami stagnasi, 
bahkan ada yang mandeg tidak dilakukan lagi. Ritual keboan dalam 
kurun waktu yang cukup lama tidak dilaksanakan karena ada faktor- 
faktor ekstem maupun intern. Ritual keboan ini memiliki nilai penting 
bagi masyarakat Desa Aliyan, dan mampu menggerakkan warga Desa 
Aliyan menjadi satu. Pelaksanaan ritual keboan telah mengalami 
dinamika sejak dari keberadaannya sampai sekarang. Untuk itu gam- 
baran terjadinya stagnasi maupun perubahan-perubahan dalam ritual 
keboan akan dideskripsikan. Demikian juga ritual pertanian yang 
bersifat individual juga menjadi bagian dari deskripsi ini. 

A. Ritual Pertanian Lingkup Desa 

Di Desa Aliyan ada upacara yang berkait dengan pertanian yang 
diurusi oleh semua warga desa yaitu upacara yang disebut keboan 
dan kumara 5 . Upacara keboan pasca matisuri sampai sekarang masih 
dilakukan warga setiap bulan Sura. Upacara kumara sudah ditinggalkan 
masyarakat setempat. 



5 Upacara Kumara sudah tidak dilakukan lagi ketika upacara keboan semakin eksis dalam kehidupan warga 
Desa Aliyan. Ritual kumara dikenal sekitar tahun 1952/53. Sekarang ini ritual kumara tidak dilakukan 
lagi oleh warga Aliyan (sekitar tahun 1980-an). Pelaku ritual ini masih ada yaitu ibu Syamah yang masih 
ingat tembang-tembang mantra minta huj an. Upacara kumara atau punjari adalah ritual minta hujan yang 
dilakukan oleh seorang ’ pawang wanita’. Dalam ritual ini media yang digunakan untuk meminta hujan 
dengan kekidungan (menyanyikan) beberapa bait tembang yang mempunyai kekuatan sebagai mantra. 
Tembang-tembang itu dinyanyikan sambil menari (mirip seblang ) dan tangannya menggerakkan sebuah 
gayung dari tempurung kelapa disebut siwur. Di dalam gayung tersebut berisi sepotong gulungan kayu 
(seperti kayu manis) yang disebut kayu menengan, kemiri kopong, uang kepeng, dawet. Dalam ritual 
tersebut dawet disebarkan dengan harapan hujan akan cepat datang dan air berlimpah. . 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 59 



Bulan Sura menjadi pilihan warga Desa Aliyan untuk melakukan 
ritual keboan, juga ritual kebo-keboan Alasmalang. Bagi orang Jawa 
bulan Sura memiliki nilai sakral untuk melakukan kegiatan yang 
bersifat ritual. Bulan Sura tidak dapat dipisahkan dari sistem nilai 
dan keyakinan orang Jawa terutama pandangan sebagian besar orang 
Jawa terhadap sifat wingit dan sakral bulan Sura. Penghayatan orang 
Jawa terhadap inti kehidupan spiritual tidak dapat dipisahkan dari 
bulan Sura yang diyakini sebagai bulan yang harus dihadapi secara 
ritual. Kecenderungan ini karena orang Jawa masih memandang pada 
pentingnya keseimbangan dunia makrokosmos dan mikrokosmos 
(Hersapandi, dkk, 2005). 

Upacara Keboan Pasca Matisuri 6 . 

Upacara Keboan di Banyuwangi tidak hanya terdapat di Desa 
Aliyan, Rogojampi tetapi juga ada di Desa Alasmalang, Kecamatan 
Singojuruh dengan sebutan kebo-keboan. Upacara keboan maupun 
kebo-keboan pada prinsipnya hampir sama dalam pelaksanaannya, 
namun ada hal yang membedakan antara keboan Aliyan dengan kebo- 
keboan Alasmalang. Disebutkan keboan Aliyan dalam proses ritualnya 
masih ash, sedangkan kebo-keboan Alasmalang disebutkan imitasi 
(wawancara dengan Kasubid Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, April 
2015). Dalam arti, upacara keboan Aliyan masih asli sesuai adat, belum 
dikemas atau diatur untuk keperluan pariwisata. Sebaliknya kebo- 
keboan Alasmalang sudah dikemas sedemikian rupa untuk pariwisata. 
Keboan Aliyan tidak bisa diatur waktunya, pelaku keboan mengalami 
kesurupan atau trance bisa kapan saja menjelang upacara keboan, 
sedangkan kebo-keboan Alasmalang bisa diatur sesuai keperluan. 

Berikut deskripsi rekonstruksi ritual keboan Desa Aliyan pasca 
terjadinya stagnasi atau matisuri. Upacara Keboan Desa Aliyan sudah 
ada sejak dulu, sekitar abad 18. Ritual keboan Desa Aliyan dilaksanakan 



6 Data diperoleh dari wawancara dengan pelaku keboan, pawang , tetua adat Jaga tirta, modin, warga, dan 
melihat video upacara keboan di Desa Aliyan 2011-2014, upacara keboan Sukodono 2011 dan 2014. 
Untuk itu kami tim peneliti mengucapkan terimakasih atas pemberian VCD upacara keboan Aliyan 
yang kami peroleh sebelum penelitian ini dilakukan, sehingga walaupun kami tidak bisa menyaksikan 
secara langsung upacara keboan tersebut, lewat tampilan VCD tersebut bisa mengaplikasikan data yang 
kami peroleh dari wawancara, maupun buku. 



60 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



dari wilayah desa bagian barat dan desa bagian timur. Wilayah desa 
bagian barat meliputi Dusun Kedawung, Sukodono, dan Damrejo. 
Desa bagian timur yaitu Dusun Timurejo, Krajan, Cempokosari, 
dan Bolot. Pada awalnya pelaksanaan ritual keboan wilayah bagian 
barat dan timur sendiri-sendiri, karena perbedaan tokoh yang menjadi 
sentral pemujaan, dan titik-titik tempat yang dianggap keramat juga 
berbeda. Tempat-tempat keramat 7 disebutkan oleh ketua adat Aliyan 
yaitu: tempat makam Buyut Soka, Petahunan adalah tempat arwah 
yang menyusupi para pelaku keboan, tempat Jaka Pekik, Gumuk 
Begundul, dan Gunung Bayur. Tokoh pemujaan dari wilayah bagian 
barat bemama mbah Buyut Wadung, dan di bagian timur mbah Buyut 
Wongso Kenongo 8 . 

Sebutan tempat-tempat keramat yang menurut kepercayaan 
masyarakat tempat bersemayamnya arwah penunggu tempat tersebut, 
maupun arwah yang dihormati sebagai pepunden seperti Buyut 
Wongso Kenongo, Buyut Wadung, Joko Pekik, beberapa ada yang 
menurut tempat arwah tersebut bersemayam. Arwah dengan nama 
tempat misalnya arwah Gumuk Begundul, arwah Gunung Bayur dan 
sebagainya. 

Suatu saat upacara keboan wilayah barat dan wilayah timur ini 
berhasil disatukan atas upaya dari sesepuh desa. Bersatunya upacara 
keboan di bagian barat dan timur ini dengan catatan yaitu pelaksanaan 
upacara diatur, untuk menghindari pelaku keboan barat dan timur 
bertemu, karena faktor perbedaan ’ roh goib ’ yang merasuk dalam 
tubuh pelaku keboan tidak sama. Jadi pelaku upacara maupun tempat- 
tempat keramat dan uba-rampe ritual keboan memiliki tampilan 
sendiri-sendiri. Tampilan sendiri-sendiri yang dimaksud di sini bahwa 
ada kepercayaan sepasang kerbau jadian dalam upacara keboan berasal 
dari roh gaib yang sama. Kalau asalnya tidak sama akan gaduh, mereka 
akan saling berkelahi. Oleh sebab itu keboan Sukodono dalam tampilan 



7 Tempat keramat menurut tetua desa adalah tempat bersemayamnya pepunden atau leluhur desa yang 
telah berjasa menjaga desa menjadi seperti sekarang ini. Tempat keramat juga yang dianggap sebagai 
tempat bersemayamnya penunggu-penunggu desa hadir setiap desa ada kegiatan ritual keboan. 

8 Buyut Wongso Kenongo, Buyut Wadung merupakan tokoh sentral pemujaan di Desa Aliyan yang 
tempatnya agak jauh dari permukiman penduduk. Buyut Wongso Kenongo di perbukitan wilayah 
Cempokosari , dan Buyut Wadung di kaki perbukitan di area sawah-tegal Sukodono. 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 61 



idher bumi waktunya diatur tidak bersamaan dengan Timurejo atau 
Krajan. 




Foto 9. Makam Buyut Wadung dan Makam Buyut Wongso Kenongo 

(doc. Tim peneiti dan LAA) 



Jadi arak-arakan manusia kerbau tersebut terbagi menjadi dua 
arah: barat dan timur. Barat berasal dari Dusun Sukodono, Kedawung 
dan Damrejo. Sedangkan timur, dari Dusun Krajan, Cempokosari dan 
Timurejo. Kedua rombongan itu tidak boleh berpapasan langsung 
karena ’roh’ yang merasuki tubuh diyakini akan saling bermusuhan satu 
dengan yang lain. Hal ini pernah terjadi, ketika sepasang keboan dari 
Krajan dan Sukodono bertemu mereka menunjukkan permusuhannya. 
Menurut para pawang karena roh gaib yang merasuk keboan dua desa 
tersebut berbeda asalnya. Oleh karenanya upacara keboan bisa bersama 
tetapi pada bagian tertentu dari upacara dihindari. 

Sehari sebelum upacara adat keboan dilaksanakan, masyarakat 
Desa Aliyan mempersiapkan segala sesuatunya diantaranya adalah: 
Masyarakat menyiapkan dan memasang umbul-umbul di sepanjang 
jalan desa, yang merupakan penanda bahwa desa tersebut (Aliyan) 
akan mengadakan hajadan besar yaitu upacara keboan. Umbul-umbul 
tersebut berupa bendera wama-warni yang dipasang di sepanjang jalan 
Desa Aliyan. 

Selain itu membuat gapura yang dibuat dari bambu yang dipasang di 
pintu-pintu jalan masuk Desa Aliyan. Gapura tersebut dihiasi berbagai 
dedaunan dan janur dan berbagai macam hasil bumi. Berbagai hasil 
bumi berupa pala gemantung (buah-buahan), pala kependem (umbi- 



62 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



umbian), pala kesimpar (kacang-kacangan). Hasil bumi yang dipajang 
tersebut merupakan hasil pertanian masyarakat setempat. Hasil bumi 
juga merupakan simbol kesuburan dan kemakmuran desa tersebut. 
Gapura ini disebut lawang kori, ada yang menyebut pura kencana 
atau pura bungkil. Gapura ini ada yang dilengkapi dengan boneka 
seperti petani, bendera merah-putih, dan seikat padi, dedaunan yang 
menambah keasrian gapura tersebut. 




Foto 10. Pura bungkil di pintu masuk desa (doc. LAA) 



Kegiatan lainnya membuat kubangan atau guyangan 9 . Kubangan 
ini merupakan sarana ritual tempat keboan berkubang pada saat upacara 
keboan sedang berlangsung. Kubangan 10 atau guyangan dibuat di 
beberapa titik yang sudah ditentukan di sepanjang jalan yang menjadi 
rute idher bumi (arak-arakan) keboan. Kubangan tersebut ada yang 
utama, yang terletak dekat jaga tirta/modin, dan dekat balai desa, dan 
beberapa titik sepanjang jalan yang dilalui pada saat idher bumi. 



9 Kubangan atau guyangan di Sukodono dibuat dengan gotong royong. Malam hari sebelum hari H 
pawang keliling ke guyangan meletakkan kembang telon sambil shalawat.Untuk menjaga keamanan 
guyangan dijaga oleh panitia. Berbeda dengan Guyangan di Timurejo pembuatannya dengan diupah 
dan tidak diberi bunga telon serta tidak dijaga. 

10 Kubangan atau guyangan berupa lahan sawah, atau lahan bukan sawah yang digali tengahnya menjadi 
petakan segi empat. Petakan tersebut jumlahnya ada 9 titik yang ukurannya pada kubangan utama 1 0x6m, 
1 kubangan dekat kantor desa berukuran7x3m, 7 titik kubangan lainnyaberukuran 5x3m. Kubangan ini 
di Aliyan dibuat dengan diupah, tidak menggunakan sesaji dan tidak dijaga. Di Sukodono pembuatan 
kubangan dilakukan dengan bergotong royong, sebelumnya sudah disiapkan sesaji, dan sebelum 
digunakan dijaga bergantian. Petak-petak kubangan itu menjelang hari H, diisi air dan lumpur. 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 63 




Foto 11. Tempat guyangan /kubangan (doc LAA) 



Guyangan atau kubangan yang disiapkan untuk upacara keboan 
ini merupakan simbol tempat persemaian padi tumbuh menjadi 
tanaman padi dan menghasilkan bulir padi sebagai tanaman pangan 
yang penting bagi manusia. Oleh karenanya guyangan ini menjadi 
tempat penting untuk kerbau dalam melakukan tugasnya sebagai 
penggembur lahan sawah. Jadi ada relasi yang kuat antara kerbau dan 
guyangan. Setiap pelaku keboan yang sedang trance tempat pertama 
yang mereka cari adalah guyangan atau kubangan. Dalam ritual ini 
guyanganAi uban gan diyakini menjadi tempat yang memiliki ’kekuatan 
tak nyata ( empersonal power)' 11 karena tempat tersebut kemudian 
menjadi media tempat penyembuhan penyakit. 

Selain itu warga membuat gunungan hasil bumi. Gunungan ini 
berisi buah-buahan dan hasil bumi lainnya yang diperoleh dari desa 
setempat sebagai perwujudan kesejahteraan. Buah-buahan dan sayuran, 
dan padi merupakan simbol kemakmuran. Gunungan juga sebagai 
simbol keberhasilan petani dalam bertani. Bentuk gunung yang berisi 



1 1 Dalam setiap religi terdapat konsep mahkluk halus ( spiritual being) dan konsep kekuatan tak nyata 
(< empersonal power). Makhluk halus diyakini berada di sekitar kehidupan maupun kekuatan tak 
nyata Coderington menyebut mana yang dimiliki oeh benda-benda tertentu dapat membawa manfaat 
sebagaimana juga menimbulkan kerugian dan bencana. Dalam sistem religi ini masyarakat mempunyai 
rasa hormat, takjub, dan memunculkan tindakan yang berpola (Tylor dalam Radam, 2001 : 5-7). 



64 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



sayuran hasil bumi merupakan simbol perwujudan yang menyatu dari 
petani dalam menghasilkan tanaman pangan. 




Foto 12. Gunungan (doc. LAA) 



Rangkaian dalam proses menggarap sawah adalah dengan bajak 
atau singkal. Dalam ritual ini disiapkan bajak atau singkal yang 
digunakan oleh para keboan untuk melakukan ritual idher bumi. Bajak 
atau singkal ini menggambarkan petani sedang membajak sawah. Bajak 
dihias menggunakan dedauan segar dan ada yang diberi bendera merah 
putih yang melambangkan kesatuan dan persatuan. Singkal dikenakan 
oleh pelaku keboan ketika mereka mandi lumpur di guyangan, dan 
selanjutnya melakukan idher bumi dengan pasangannya. 

Bajak atau singkal ini menjadi alat penting bagi kerbau untuk 
menjalankan tugasnya menggemburkan lahan sawah. Dalam idher 
bumi singkal menjadi alat yang melekat yang menyatu dengan kerbau, 
demikian juga ketika kerbau bekerja di guyangan. Selain itu singkal 
juga menjadi simbol petani dalam mengerjakan sawahnya. 




Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 65 




Foto 13. Miniatur s/ngAal/bajak (doc. LAA) 



Dalam ritual ini perlengkapan yang penting adalah menyiapkan 
sesaji 12 berupa jajanan dan berbagai macam boneka hewan yang terbuat 
dari tepung, membuat perasan, buah kelapa, pisang, dan daun sirih, 
beras kuning, tumpeng kecil panca wama, bunga. Sesaji berada di 
makam buyut, sesaji di tempat upacara (jaga tirta ), dan sesaji di tempat 
dukun membacakan doa bersama sebelum acara makan bersama. 




Foto 14. Boneka binatang dan pisang, kelapa (doc.LAA) 



12 Sesaji disiapkan oleh perempuan tua yang disebut 'wong pawon’ yaitu perempan yang ’ wong tuwek 
sing mbanyu ” (orang tua yang sudah menopause). 




66 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 




Foto 15. Tumpeng panca warna dan ayam pekekeng dikrawu (doc.LAA) 



Selamatan di empat penjuru mata angin yang merupakan per- 
wujudan untuk mengingat leluhur Desa Aliyan yang dilakukan di 
bendungan air yang ada di desa tersebut. Selamatan dipimpin oleh jaga 
tirta sebagai penyelenggara ritual keboan. Setelah pembacaan doa yang 
dipimpin oleh modin (kebetulan sebagai jaga tirta), air irigasi dialirkan 
ke tempat ritual dan mengalir di tempat tersebut. Pengaliran air di 
tempat upacara ini merupakan simbol bahwa air sebagai unsur penting 
dalam kehidupan manusia, khususnya pertanian. Ritual pengaliran 
air tersebut juga merupakan simbol harapan dari pelaksanaan ritual 
tersebut supaya air melimpah. 




Foto 16. Berdoa bersama dan Sesaji (doc. LAA) 



Malam hari sebelum upacara dilaksanakan, para sesepuh desa, 
anggota kelompok tani, perangkat desa dan orang-orang yang biasa- 
nya sebagai ’pelaksana’ yang akan menjadi keboan dalam upacara 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 67 



adat tersebut, pawang, pembuat kubangan, pembuat sesaji, penabuh 
gamelan, berkumpul di rumah ketua HIPPA (jaga tirta ) untuk hadir 
dalam slametan yang dipusatkan di rumah jaga tirta. Setelah itu 
diadakan acara melekan atau begadang semalam suntuk. Pada pagi hari, 
prosesi upacara adat keboan dimulai dengan mengadakan selamatan 
yang dilakukan di pinggir jalan desa oleh masyarakat Desa Aliyan 
yang kemudian diberi doa oleh sesepuh desa. 

Dalam acara ini terdapat sesajian, berupa makanan-makanan 
simbolik seperti tumpeng kecil ’ panca warna’ merah, hijau, kuning, 
merah, putih, ayam pekekeng, bunga, kinang, pisang, kelapa, didoakan 
bersama dipimpin oleh sesepuh desa. Sesajian tersebut merupakan 
persembahan yang ditujukan kepada para leluhur desa agar desa diberi 
perlindungan dan warganya diberi kehidupan yang makmur. Dalam 
doa juga disampaikan rasa terimakasih karena telah memberi panen 
yang melimpah. Ujub dari doa-doa yang disampaikan sesepuh adat 
merupakan keinginan dan harapan warga masyarakat. 

Acara doa bersama yang dihadiri warga sekitar dan dipimpin 
oleh sesepuh desa ini merupakan representasi kolektif yang bertujuan 
terciptanya keteraturan sosial (Leach dalam Beatty, 2001:36). 
Keteraturan sosial akan menumbuhkan kehidupan yang harmoni 
antarwarga dan dengan lingkungan hidupnya. Sehubungan dengan itu 
sawah - petani - kerbau - benih padi mendapat perhatian supaya bisa 
melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian 
dalam ritual ini sawah, kerbau, padi merupakan simbolisasi sumber 
kehidupan petani. 

Pada pagi itu warga masyarakat Desa Aliyan berada di sepanjang 
jalan desa setempat untuk melaksanakan ritual keboan. Di beberapa 
jalan masuk desa tersebut dipasang gapura puro bungkil. Gapura dari 
bambu yang diberi janur dan digantungi hasil bumi dari desa setempat 
antara lain pala kependem, pala kesimpar, dan pala gemantung. Hasil 
bumi itu berupa ketela, semangka, kacang-kacangan, pisang, kates, 
terong, kelapa, jeruk, padi, yang merupakan simbol kesuburan dengan 
panen melimpah. Buah, sayuran, pala kependem yang digantungkan 
di pura kencana diperoleh dari para petani. Pala kependem, pala 
kesimpar, pala gumantung harus merupakan hasil tanaman petani 



68 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



setempat. Kalau bukan penghasilan tanaman setempat, keboan akan 
marah dan mengamuk. Gapura yang berhias hasil panen desa ini ada 
yang menyebut lawang kori, puro bungkil, ada pula dengan sebutan 
pirn) kencana. 

Masyarakat Desa Aliyan pada pagi hari itu sudah menggelar tikar 
di depan rumah masing-masing. Seperangkat makanan nasi lengkap 
dengan lauk-pauk seperti pecel pitik , pekekeng (ayam), ada yang 
menyebut peteteng dan lauk lainnya yang menyertainya diletakkan 
di atas tampah, baskom, dan ditata di atas tikar. Ayam-ayam yang 
disembelih lalu diolah sebagai lauk tumpeng, menjadi persembahan 
kepada leluhur. Ayam pekekeng adalah olahan ayam yang dibakar 
dengan tambahan parutan kelapa muda. Acara makan bersama di 
sepanjang jalan ini menjelaskan bahwa acara ritual keboan memiliki 
daya untuk menyatukan, dan merepresentasikan adanya pemahaman 
kolektif bahwa selamatan sedekah desa penting sebagai media 
permohonan untuk mendapatkan keselamatan, kesejahteraan warga 
masyarakat Desa Aliyan. 

Mereka menunggu prosesi makan bersama yang dipimpin 
sesepuh desa dan ulama setempat yang memimpin doa dari masjid 
yang dikumandangkan lewat pengeras suara 13 . Doa dipanjatkan untuk 
meminta keselamatan dan berkah seluruh warga Desa Aliyan. Ketika 
doa dipanjatkan, warga desa semua mengikuti dengan khitmad, setelah 
selesai, mereka semua menikmati makan bersama. Dalam acara makan 
bersama ini sesama warga, tetangga saling memberi atau mencicipi 
makanan yang dibawa, ada juga yang bergabung ikut makan. Suasana 
di sepanjang jalan Desa Aliyan saat itu menjadi ramai. Dalam acara 
ini komunikasi antarberbagai segmen para pendukung ritual keboan 
berbaur tanpa sekat. 

Acara makan bersama ini juga dimeriahkan oleh kedatangan 
saudara, keluarga lain yang ingin melihat upacara keboan. Bagi warga 
Aliyan semakin ramai dan banyak saudara dan teman yang datang 
memberikan arti tersendiri. Ada rasa bahagia, bangga mempunyai 
banyak tamu, walaupun pengeluaran untuk menyiapkan makanan dan 



1 3 Sebelum matisuri doa ritual dipimpin tetua adat atau dukun dengan bahasa Using 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 69 



sebagainya cukup besar. Bahkan dalam perkembangannya ada yang 
menyebutkan acara ini untuk menunjukkan gengsi sosial yang tinggi 
dengan lewat makanan yang dipersiapkan dan tampilan pemberian 
hantaran kepada saudara, tetangga dan sebagainya. 




Foto 17. Makan bersama (doc. LAA) 

Sementara itu ketua adat/dukun dengan mengenakan kostum 
celana hitam, tanpa baju duduk bersila dan dihadapannya ada anglo 
dengan kepulan asap kemenyan, dan serabut kelapa yang dibakar. 
Kemenyan dengan asap yang membumbung tinggi sebagai media 
komunikasi antara dunia atas dan dunia bawah, dan serabut kelapa 
yang dibakar merupakan sarana untuk ngeme yaitu untuk mengusir 
sambet atau gangguan desa. Kepulan asap kemenyan, sesaji, diyakini 
oleh para pendukung ritual sebagai ’makanan’ yang dipersembahkan 
untuk para danyang desa. Dalam pengiriman doa tersebut peserta ritual 
percaya bahwa semua arwah danyang menyaksikan dan hadir dalam 
ritual tersebut. Asap kemenyan menurut Beatty (2001: 50-51) sebagai 
wahana kata-kata yang menjembatani komunikasi antara dunia kasar 
(materi) dan dunia halus (spiritual), yang tidak atau sulit terjadi yang 
kemudian disampaikan lewat asap kemenyan dan sesaji simbolik. 

Setelah slametan desa ada kegiatan gitikan, ada yang menyebut 
tajen atau adu ayam yang kebetulan Sukodono masih melaksanakan 
(Desa Krajan sudah tidak melakukan). Aduan ayam ini hanya sebagai 
syarat dari rangkaian prosesi keboan, tidak untuk taruhan. Di arena 
gitikan juga diberi sesaji bunga, pecel pitik, dan kemenyan. Ritual 




70 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



gitikan sudah lama menjadi himbauan untuk tidak dilakukan, karena 
dianggap perbuatan yang menyiksa binatang dan bisa membawa 
pengaruh yang tidak baik. Pasca ritual keboan matisuri ritual gitikan 
tidak dilakukan lagi. Tetapi di Dusun Sukodono masih ada gitikan 
dalam rangkaian ritual keboan. 




Foto 18. Dukun sedang membakar kemenyan dan sanggah tempat sesaji 

(doc. LAA) 




Foto 19. Ayam aduan dimintakan doa ke pelaku keboan yang sedang kesurupan dan 

arena acara gitikan/tajen 

(doc. LAA) 



Sementara itu seperangkat sesaji diletakkan di gubug kecil seperti 
cakruk yang disebut sanggah. Di tempat sanggah ini diletakkan sesaji 
tersebut antara lain tumpeng kecil wama rnerah, kuning, biru, hijau, 
putih, atau ’ tumpeng panca wama’, jenang rnerah yang di tengahnya 
ada parutan kelapa muda, minuman, dawet, bunga telon, aneka 




Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 7 1 



binatang untuk gelar sanga, ayam pekekeng atau peteteng, pecel pitik, 
dan lauk-pauk lainnya. Dukun (tokoh adat) menengadahkan tangannya 
membacakan doa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa berkah 
dan perlindungannya, dan meminta kepada para leluhur desa untuk 
kelancaran upacara. 

Sementara saat itu beberapa warga ’pelaku’ keboan .sudah ada 
yang mulai trance, atau kejiman, ada yang menyebut kepileng, tidak 
sadar atau kesurupan. Bahkan ada yang sudah kesurupan tiga hari 
sebelumnya atau pada tengah malam sebelum upacara dimulai. 
Beberapa warga mengatakan: 

” kesurupan seperti itu tidak bisa dipastikan atau diatur kapan harus 
kesurupan, karena kalau sudah datang tidak bisa dihindari. Walaupun 
tidak mengharapkan, kalau sudah dihampiri langsung tidak sadar siapa 
dirinya. Mereka yang kesurupan maupun yang merasuk menjadikan 
kesurupan sudah langganan. Bisa dikatakan sudah turunan, biasanya 
dulu kalau tidak bapaknya, atau kakeknya juga kesurupan setiap upacara 
keboan ” (disampaikan pawang keboan Pak Bah, tg 13 april 2015). 

Tetapi beberapa yang kesurupan, ada yang tidak memiliki garis 
keturunan. Menurut seorang pawang Pak Bah, siapa yang akan 
dirasuki merupakan kehendak dari Buyut Wongso Kenongo. Apakah 
laki, perempuan tua atau muda, anak-anak kalau sudah dihampiri, 
tidak bisa menghindari, kalau kerasukan ya akan terjadi begitu saja. 
Kerasukan bisa datang pagi, siang, malam hari. Warga masyarakat 
percaya bahwa terjadinya kerasukan, yaitu masuknya roh goib dalam 
tubuh pelaku sudah menjadi pilihan para leluhur yang bersemayam di 
Desa Aliyan. Oleh karenanya warga tidak takut ketika saudara, teman, 
atau tetangganya ada yang kerasukan, karena roh goib yang masuk 
juga bagian dari Desa Aliyan. 



72 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 





Foto 20. Pelaku keboan berada di guyangan ditolong keluarganya (doc. LAA) 



Sudah menghindar tetap dihampiri. Pi’i, pada tengah malam 
sudah gelisah, roh telah merasuki raganya pada Sabtu pukul 12 dini 
hari. Keluarganya sudah biasa menghadapi ini dan hafal kondisi 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 73 



Pi’i.’Matanya nanar tapi kosong’, kata adiknya. Pagi itu Pi’i setengah 
berlari ke luar rumah diikuti saudaranya, Pi’i mencari kubangan 
sawah. Keluarganya menjaganya sambil membawa ember berisi air 
kemanapun Pi’i berjalan. Kakak Pi’i yang perempuan mengatakan 
’dia itu mendapat dari bapak, simbah dulu juga pelaku, tapi sudah 
meninggal, kasian adik saya tapi bagaimana lagi kalau sudah datang 
tidak bisa dihindari . . . ya harus diterima”. 

Pak Sad, seorang pelaku keboan yang sudah tua, yang mulai ke- 
rasukan sekitar tahun 1960-an, sampai sekarang. Ketika menjelang 
akan ada upacara keboan, oleh anak-cucunya ia diungsikan ke tempat 
lain supaya terhindar dari kesurupan sebagai keboan. Anak cucunya 
mengatakan mereka tidak tega lihat bapaknya atau kakeknya yang 
sudah tua kesurupan. Akan tetapi upaya ini tidak berhasil, karena 
di tempat pengungsiannya itu Pak Sad dihampiri alias kerasukan. 
Ia meronta-ronta ingin ke kubangan sawah. Terpaksa anak cucunya 
membawa kembali ke Aliyan. Di tempat tersebut Pak Sad dicari 
pasangannya yang sejak dulu bersama, temannya yang juga kerasukan 
dengan membawa singkal di pundaknya. Sang Pawang mengatakan: 

’’Yang merasuki Pak Sad sama yang selalu menghampiri ayahnya dulu 
setiap upacara keboan’, alias sudah keturunan. Keturunan di sini baik 
yang dirasuki maupun yang merasuki. Maksudnya roh gaib yang masuk 
ke tubuh Pak Sad sama dengan roh gaib yang dulu masuk ke tubuh 
ayahnya”. 

Mengungsikan para pelaku keboan supaya tidak dirasuki juga 
dilakukan oleh beberapa warga lainnya. Mbah Kar bersama keluarganya 
tiga hari sebelum upacara keboan pergi ke Surabaya, tetapi ketika 
sampai di terminal mbah Kar tiba-tiba kesurupan. Akhirnya oleh 
keluarganya dibawa kembali ke Aliyan untuk menemui pawangnya. 
Demikian juga Kas, malam sebelum ada kegiatan katanya badan 
rasanya tidak enak, menjelang pagi ia sudah . . . cengek-cengek . . . 
melenguh seperti kerbau, ini diceritakan oleh kakaknya. Kas juga tidak 
tahu dari tiga saudaranya ia yang dihampiri untuk dirasuki ’ roh goib ’ 
yang dulu merasuki ayahnya (sudah meninggal). Kas juga berusaha 
untuk menangkal kekuatan itu dengan caranya sendiri, dengan puasa, 



74 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



tidur malam, tetapi tidak berhasil. Bisa dikatakan sudah menghindar 
tetap dihampiri. 

Menurut cerita Pak Bam (wawancara, April 2015) ada yang sudah 
pergi ke tempat jauh di Lombok (Pak Turn). Ketika Aliyan akan ada 
kegiatan keboan, tidak diberitahu oleh keluarganya, tetapi ketika 
menjelang upacara keboan sudah dekat Pak Turn sudah gelisah, ada 
keinginan yang mendesak untuk pulang. Maka pulanglah Turn diantar 
keluarganya. Padahal biayanya perjalannnya mahal. Kesurupan ini 
memang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Ketika prosesi 
sedang barlangsung banyak warga yang berjatuhan kesurupan, ada 
yang sedang berjalan, duduk dengan temannya, bahkan pada waktu 
sedang tidur terbangun. Mereka yang akan kerasukan biasanya 
memiliki tanda-tanda matanya kosong, menjadi pendiam, tangannya 
mengepal, dan badannya terasa lemas. Apabila sudah kerasukan ada 
yang meronta-ronta sambil mengeluarkan suara lenguhan kerbau, ada 
yang berlari seperti kerbau. Pastinya mereka akan terjun ke kubangan 
yang berlumpur dan berperilaku seperti kerbau di situ. Apapun 
kondisi yang kesurupan akan diikuti dan ditolong oleh keluarganya, 
dari menuntun, memegangi tubuhnya, berlari ke kubangan ikut mandi 
lumpur, memegangi kepalanya supaya tidak masuk lumpur dengan 
mengguyur air dan sebagainya. 

Semua pelaku keboan yang kerasukan menjadi urusan pawang' 4 . 
Setiap pawang akan dihampiri oleh keboan yang kerasukan yang 
dikenal oleh pawang. Pawang mengenal roh yang merasuki pelaku 
keboan, ”roh-roh yang menyusup itu ada namanya” ( Pawang tidak 
mau menyebut nama roh tersebut). Pawang tersebut yang bertanggung 
jawab terjadinya kesurupan di lapangan. Pawang adajugayang bertugas 



14 Seorang pawang Ibu Newa menjadi pawang tanpa ia sadari. Ia hanya merasakan ketika upacara keboan 
tiba-tiba dihampiri oleh pelaku keboan yang sudah dirasuki roh goib. Ia tidak memiliki mantra , Ia hanya 
merasa sudah dianggap sebagai cucu Buyut Wongso Kenongo. Sejak kecil umur 5 tahun ia sudah sering 
berkunjung ke makam Buyut 

Wongso Kenongo. Ia juga menyadari ia mendapat kekuatan sebagai pawang karena keturunan dari 
kakek dan ayahnya yang juga pawang. Sebagai pawang ia sudah berhubungan dengan roh goib yang 
ada di gumuk Joko Pekik, Sulaiman, Petahunan, bukit Jalebu, dan sepanjang jalan ke makam. Dalam 
proses penyembuhan yang dirasuki Newa membaca alfathikah dan loloh kemenyan. 

Pak Suyit pawang Sukodono menyebutkan sebagai pawang juga menggunakan mantra , warisan dari 
orang tua. Namun ia tidak mengira akan jadi pawang. Sebagai pawang harus sering puasa, sering melek , 
perilakunya juga harus baik, jujur. 



Ritual Keboan Desa Aliy an Pasca Matisuri \ 75 



di balai desa ketika ritual keboan berlangsung. Kesurupan yang terjadi 
di sepanjang jalan selama prosesi upacara sampai menyembuhkan dari 
kerasukan menjadi tanggungjawab pawang lapangan. Pawang balai 
desa yang bertanggungjawab para pelaku keboan pada waktu berada 
di balai desa. 




Foto 21. Kerasukan dikawal keluarganya (doc. LAA) 

Sosok seorang pawang seperti warga biasanya, tidak ada tanda- 
tanda khusus. Seorang pawang memiliki keahlian sebagai penyembuh 
orang yang kesurupan (ketika ada ritual keboan ), tanpa ia sadari. Ia 
mengetahui bahwa ia menjadi pawang ketika para pelaku keboan 
mendatanginya, seperti yang dirasakan bu Newa. Demikian juga 
pawang Pak Suyit, ia tidak mengira akan jadi pawang. Ia pertama kali 
ada komnn ik asi dengan roh goib ketika seseorang yang kemasukan 
bilang ’ingin ke mbah Suyit’. Pak Suyit sadar ia merasa tidak memiliki 
ilmu, tetapi sejak itu ia bisa berkomun ik asi dengan roh goib. Pak Suyit 



76 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



sadar bahwa ia dikehendaki oleh leluhur untuk menjadi pawang. Ia 
menjalani sebagai pawang tahun 1997. Ayah Pak Suyit bukan pawang 
tetapi hanya membantu pekerjaan pawang. Untuk menjaga kegiatannya 
sebagai pawang menurut Pak Suyit seorang pawang di hari tertentu 
harus mejalani puasa, betah lek (tidur larut malam), dan berperilaku 
baik (jujur). Ia juga bertanggung jawab menjaga keamanan guyangan 
secara spiritual, dengan keliling guyangan, memasang bunga telon dan 
sholawatan. 

Warga yang kesurupan ini disebut keboan atau kerbau jadi-jadian. 
Di dalam upacara ini kerbau menjadi simbol hewan yang menunjukkan 
hewan kerbau di jaman dahulu, yang merupakan hewan yang selalu 
membantu petani dalam mengerjakan sawahnya mulai dari membajak 
hingga panen. Dalam upacara ini ada tiga macam tingkatan kerbau 15 : 
kebo kawak (kerbau tua) biasanya disebut juga kebo singkal, kebo 
pasangan yang membawa singkal, raja kebo yang memimpin keboan 
dengan menggigit anglo kecil pedupaan, kebo jagir, anak kebo yang 
sudah dewasa, dan kebo gudel, anak kebo yang masih kecil. Warga 
yang menginginkan penyembuhan sakit, kelancaran dalam bertani, 
minta kepada kebo kawak atau raja kebo. 




Foto 22. Kebo kawak (doc. LAA) 



15 Para pelaku adat memperoleh sedikit imbalan uang istilahnya ’ tukon sabun’ pawang, pelaku keboan , 
pembuat kubangan, penabuh musik , pembuat sesaji. Pelaku keboan kawak dapat 100 ribu, jagir 50 
ribu, gudel 35 ribu, pawang 100, penggamel 50 ribu, pembuat dan penutup kubangan mendapat 25 ribu. 
Semuanya itu diurusi oleh pembantu jaga tirta yang disebut Badal 




Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 77 



Dalam ritual keboan warga yang kesurupan menjadi tanggung jawab 
keluarganya. Oleh sebab itu begitu ada yang jatuh kesurupan keluarga 
yang memapah, menuntun, mengendalikan, karena ia meronta dengan 
kekuatannya, dan berlari untuk mencari kubangan di sawah, yang 
memang sudah disiapkan untuk itu. Keluarganya terns mengikuti dan 
memapah masuk kubangan sambil kepalanya disiram air yang dibawa 
dengan ember. Para pelaku keboan atau yang kesurupan sebelumnya 
sudah ada tanda-tanda kalau akan kena. Biasanya pandangan matanya 
nanar kosong, berdiam diri, tidak merespon sekelilingnya, kemudian 
akan terjatuh dan saat itu kekuatannya akan berlipat, sehingga ketika 
ditolong butuh beberapa orang untuk memapahnya. Saat itu juga ia 
akan berlari atau jalan cepat mencari tempat guyangan atau kubangan, 
setelah ditemukan akan terjun di tempat tersebut sambil melenguh- 
lenguh, dan pendampingnya juga ikut terjun ke kubangan. 

Ketika kubangan atau guyangan sudah dihampiri oleh keboan, 
banyak yang ikut masuk ke guyangan tersebut. Mereka berharap air 
lumpur yang sudah kemasukan keboan akan memberikan pengaruh 
magis bagi tubuhnya antara lain diberi kesehatan, disembuhkan dari 
sakit, dan sebagainya. 




Foto 23. Pelaku keboan di guyangan dipapah oleh keluarganya (doc. LAA) 



Para pelaku yang kerasukan dan masuk ke guyangan akan 
berperilaku seperti kerbau yang sedang menggarap lahan di kubangan 
atau guyangan tersebut. Mereka ini melenguh-lenguh seperti binatang 



78 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



kerbau, dan tubuhnya terendam lumpur. Keluarganya berusaha me- 
megangi dagu dan kepalanya supaya tidak terendam lumpur. Oleh 
karenanya muka dan kepalanya diguyur air. 




Foto 24. Pelaku keboan A\ guyangan dijaga keluarganya dan diguyuri air 

(doc. LAA) 



Ketika acara dimulai orang-orang yang telah kesurupan berkumpul 
di depan rumah ketua HIPPA atau jaga tirta (orang yang mengurusi 
air). Di tempat ini merupakan pusat kegiatan inti upacara keboan. Jaga 
tirta dapat dikatakan sebagai penyelenggara kegiatan ini. Jaga tirta 
atau jaga banyu (penjaga air) dianggap menjadi titik pusat awal dari 
aktivitas menggarap sawah. Dalam menggarap sawah air merupakan 
kebutuhan pokok untuk kehidupan bersawah. Oleh karenanya di tempat 
tersebut juga diguyuri air yang diambil dari beberapa sungai. 

Di tempat jaga tirta warga yang sudah menjadi keboan melakukan 
ritual gelar sanga yaitu sebuah ritual selamatan yang dilakukan oleh 
para keboan, khususnya raja kebo dan kebo kawak, berupa nasi krawu 
sebanyak sembilan buah yang diletakkan di atas daun pisang. Daun 
pisang yang masih ada pelepahnya digelar dan keboan kemudian 
berguling-guling di atasnya dengan memakan makanan ( tumpeng 
kecil-kecil sembilan), yang ada di atas daun pisang dan menyantap 
berbagai boneka binatang 16 yang merupakan simbol ekosistem sawah 



1 6 Berbagai bentuk binatang yang ada pada acara gelar sanga menggambarkan berbagai binatang yang ada 
di Aliyan seperti tikus, ular, ulat, katak, cacing, yang dibuat dari glepungl tepung wama putih. 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 79 



yang diletakkan di tampah (anyaman bambu). Aneka boneka binatang 
yang diletakkan di tampah merupakan simbol ekosistem keseimbangan 
yang terdapat di sawah yang berfungsi sebagai penyubur tanah. Gelar 
sanga juga sebagai penawar tujuh balak-bilai, srakat atau sengkala 
(menurut istilah mereka) terhadap bencana yang dapat menyengsarakan 
manusia yaitu: (l)terjadinya gempa bumi, (2) angin besar/kencang, (3) 
api kebakaran, (4) air banjir, (5) wabah penyakit, (6) paceklik, dan (7) 
perang antarmanusia, antarsaudara. Gelar sanga juga sarana untuk 
mengundang pelaku kebo kawak atau raja kebo untuk melakukan ritual 
di depan rumah jaga tirta. Di samping itu ada perlengkapan sesaji 
yang disiapkan di tempat tersebut yaitu peras kelapa, beras kuning, 
gula, pengilon kecil, gecok gempol 17 dan menyan wangi (wawancara 
dengan jaga tirta, modin, April 2015). 

Pada saat prosesi gelar sanga tingkah para keboan sambil 
mengesot-ngesot tertelungkup memakan makanan yang ada di atas 
daun pisang. Bahkan ada yang berserakan di tanah dimakan langsung 
ke mulutnya, sambil melenguh-lenguh. Pada prosesi ini yang melihat 
ada yang menangis, mereka merasa kasihan, tidak sampai hati melihat 
adegan itu. Bahkan ketika kami melakukan wawancara dengan jaga 
tirta tentang gelar sanga, wawancara terhenti karena jaga tirta 
menangis. 

Acara gelar sanga ini sejak dulu termasuk yang direkomendasikan 
para ulama untuk dihilangkan atau dialihkan dengan ritual yang 
bernuansa Islami. Prosesi ini sebagai tanda idher bumi siap dimulai. 
Sebelum dimulainya prosesi idher bumi pelaku keboan diloloh pitung 
tawar 18 agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan para pelaku 
keboan. 



1 7 Gecok gempol , tumpeng kecil yang diberi buah gempol diurap diberi gereh teri, dan suwiran daging 
ayam 

1 8 Pitung tawar berupa beras wama kuning ramuan dari beras, kunir, bremo, dan kencur yang merupakan 
simbol penawar bagi segala penyakit. 



80 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 




Foto 25. Ritual gelar sanga, pelaku keboan merangkak sambil makan sajian yang ada 
di atas daun pisang, ada yang menghirup kepulan asap dupa/kemenyan 

(doc. LAA dan Ampri Bayu. Pamong budaya) 

Pada waktu pelaksanaan upacara keboan warga melakukan 
ritual selamatan di empat penjuru desa. Setelah itu dilanjutkan 
arak-rakan idher bumi. Para pelaku keboan mengelilingi desa ke 
arah empat penjuru mata angin. Ketika melakukan idher bumi, para 
pelaku keboan sudah banyak yang mengalami trance tidak sadar. 
Para pelaku keboan saat itu sudah dimasuki roh gaib. Beberapa dari 
mereka secara berpasangan ada yang di pundaknya dipasangi singkal 
peralatan untuk membajak. Ada yang berjalan seperti kerbau sambil 
tangannya mengepal, ada yang sudah bergumul di tempat guyangan 
yang memang sudah disiapkan sebelumya. Warga berjubel, berbaur 
melihat dan mengikuti upacara tersebut. Para pelaku dalam ritual ini 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 8 1 



menggambarkan bagaimana berlangsungnya penggarapan sawah yang 
dilakukan kerbau dan petani. 

Pelaku keboan yang membawa singkal ada tujuh pasang. Mereka 
diarak menuju balai desa bersama dengan para pelaku keboan lainnya. 
Dalam arak-arakan itu diikuti warga yang membunyikan tetabuhan 
gong, kendang, saron, dan kencreng yang ditabuh oleh kurang lebih 
30 niyaga. Gerakan keboan mengikuti ritme tetabuhan. Tetapi kalau 
tetabuhan ritmenya tidak pas keboan bisa mengamuk (wawancara 
dengan Pak Sup yang mengurusi ritual keboan, April 2015). Setiap 
pelaku keboan dijaga oleh beberapa orang pemuda dan keluarganya. 
Mereka ini tidak bisa menggiring keboan yang kerasukan, tetapi hanya 
menjaganya supaya tidak melakukan hal yang berbahaya. 




Foto 26. Pelaku kebo pasangan membawa singkal (doc. LAA) 



Dalam upacara keboan tersebut para petani, Dewi Sri, dan warga 
masyarakat melakukan idher bwni keliling desa dengan diiringi 
musik khas desa tersebut. Idher bumi dapat diartikan keliling, atau 
mengelilingi wilayah atau area tempat tinggal, yaitu tempat-tempat 
yang berkait dengan area upacara. Idher bumi dilakukan dengan 
arak-arakan ritual yang diikuti keseluruhan masyarakat Using tempat 
diselenggarakannya ritual. Idher bumi mengandung spirit religius, 
karena di dalamnya merupakan kegiatan yang berupa upaya-upaya 
sosial kemasyarakatan dan doa (ritual) untuk memohon diberikan 



82 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



kesejahteraan dan keselamatan hidup masyarakat. Dalam kehidupan 
masyarakat agraris harapannya di antaranya pada kesuburan tanah, 
terhindar dari hama, menghasilkan panenan yang melimpah, dan 
terhindar dari segala macam malapetaka. 




Foto27. Idher Bumi 

(doc. LAA) 



Dalam iring-iringan ini juga ada yang bertindak sebagai penari 
gandrung yang diperankan seorang lelaki, ada juga kesenian kuntulan. 
Dewi Sri di sini sebagai simbol dewi kesuburan, dan yang menjaga 
sawah mereka. Warga yang dipilih menjadi Dewi Sri ditunjuk melalui 
'roh goib’ yang sudah merasuki pelaku keboan. Kemudian keboan 
tersebut yang menunjuk seseorang menjadi Dewi Sri. Dalam acara 
ini Dewi Sri mengenakan kostum dewi yang cantik dan dirias bagai 
seorang dewi kayangan. Ia mengawal padi yang nantinya untuk ritual 
ngurit. Ia ditandu dan didampingi oleh dewa-dewi dayangnya dan 
diikuti para petani. Di Sukodono Dewi Sri dirias lebih meriah dan 
modem, kostum dan riasan seperti artis carnival yang sekarang sedang 
ngetrand. 

Figur Dewi Sri dalam ritual pertanian merupakan simbol dewi 
padi. Padi yang ditumbuk menjadi beras merupakan makanan pokok, 
yang maknanya bahwa beras merupakan penyangga kehidupan yang 
sangat penting bagi manusia. Sepanjang sejarah beras merupakan 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 83 



komoditas bahan pangan yang terns diproduksi untuk kehidupan 
manusia (Nurtjahyo, 2005: 68). Beras tidak hanya sebagai bahan 
makanan, tetapi berkait dengan kelembagaan dan spiritualitas. Padi 
dan persawahan merupakan kesatuan siklus pertanian yang ditentukan 
oleh momentum waktu, varietas padi, keterlibatan organisasi, tenaga 
kerja, dan spirit ritual (Hamilton, 2003 dalam Triguna, 2005: 627). 




Foto 28. Dewi Sri Sukodono dan Dewi Sri Timurejo (doe. LAA) 



Setelah itu pelaku keboan dan masyarakat melakukan idher bumi 
menuju balai Desa Aliyan. Di balai desa para keboan disambut oleh 
kepala desa yang kemudian mempersilahkan para keboan untuk 
melanjutkan idher bumi mengelilingi desa. Di sepanjang jalan seringkali 
keboan masuk di kubangan yang telah disediakan. Dalam idher bumi, 
semua warga mengikuti arak-arakan keboan yang diiringi oleh musik 
khas masyarakat Using. Dalam arak-arakan ada sekelompok petani 
yang sebagian besar wanita yang mengenakan pakaian Jaw a Kebaya 
yang beraneka wama. Mereka mengenakan caping dan membawa 
peralatan bertani yang digendong dengan kain panjang. 

Di kubangan atau guyangan itu ia (pelaku keboan ) berguling- 
guling dan keluarganya berusaha menjaga agar kepala, muka tidak 
tertutup lumpur, dengan cara menyiram muka dan kepalanya dengan 
air yang selalu dibawa dengan ember oleh keluarganya. Warga yang 
kesurupan ini pada tubuhnya dipasang kain panjang (selendang) yang 
diikatkan pada tubuhnya, yang berfungsi sebagai pengendali, yaitu 
untuk pegangan supaya tidak lari. Warga yang kesurupan ini cukup 



84 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



banyak bisa mencapai puluhan, saat itu ada yang menyebutkan sekitar 
90-an. Mereka ini disebut ’pelaku’ oleh warga setempat, yaitu orang 
yang menjadi ’ keboan ’, atau kerbau jadian dalam upacara keboan. Jadi 
bisa dibayangkan setiap saat ada kegaduhan karena ada warga yang 
jatuh kesurupan bertingkah seperti kerbau yang kemudian berlari ke 
kubangan diikuti oleh keluarganya. Mereka yang kesurupan ini tidak 
pandang bulu dari yang umur muda sampai tua, bahkan kakek-kakek. 
Setelah banyak pelaku keboan nyemplung di lumpur guyangan atau 
kubangan, biasanya ada beberapa orang yang ikut masuk ke kubangan 
yang tujuannya untuk penyembuhan suatu penyakit. Di sini air lumpur 
kubangan dianggap bertuah dapat untuk penyembuhan penyakit. 




Foto 29. Pelaku keboan menggigit anglo dan gandrung di idher bumi 

(doc. LA A) 



Sebelum sampai ke acara puncak para keboan diarak menuju 
makam Buyut Wongso Kenongo di Dusun Cempokosari. Juru kunci 
makam Su’ud masih keturunan Buyut Wongso Kenongo yang menjadi 
juru kunci makam tersebut mengatakan ’’Buyut Wongso Kenongo 
diyakini penduduk sebagai pembuka kampung yang sebelumnya 
bernama Dukuh Karang Mukti. Dari leluhur desa itulah, masyarakat 
percaya, awal dari diadakannya ritual kebo-keboan” (wawancara 
dengan Pak Su’ud, April 2015). Oleh karenanya warga masyarakat 
Desa Aliyan mengeramatkan Buyut Wongso Kenongo sebagai figur 
leluhur yang telah menjaga dan menolong warga Desa Aliyan. Para 
pelaku keboan kemudian ke makam keluarganya. 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 85 




Foto 30. Pelaku keboan sedang berkunjung di makam keluarganya 

(doc. LAA) 



Di makam keluarganya tersebut para keboan berteriak menge- 
luarkan suara-suara seperti kerbau. Di tempat makam ini para pelaku 
keboan melenguh-lenguh sambil ngesot-ngesot menelungkup, ada yang 
menjilati makam sambil menangis. Pemandangan yang dilakukan para 
pelaku keboan di makam ini sangat mendebarkan, menyayat hati dan 
meng-ibakan. Prosesi di makam Buyut maupun di makam keluarga 
pada saat ritual keboan juga direkomendasikan oleh ulama untuk 
dipangkas, karena dianggap sudah melanggar kaidah-kaidah agama 
Islam. 

Ritual diakhiri dengan prosesi membajak sawah, hal ini digam- 
barkan oleh dua manusia kerbau {keboan) yang membawa alat pembaj ak 
sawah atau singkal, yang masuk ke kubangan sawah dilanjutkan 
dengan prosesi ngurit (menebar benih) padi oleh figur seorang Dewi 
Sri atau pawang. Ritual ngurit ini merupakan acara puncak, dimana 
benih padi disebarkan di tempat tersebut dan para keboan didampingi 
oleh seorang gadis cantik sebagai perwujudan Dewi Sri yang melihat 
prosesi itu sampai selesai. 

Para keboan kemudian berguling-guling di atas benih padi yang 
sudah disebarkan. Masyarakat ikut berebut untuk mendapatkan benih 
padi, karena mereka percaya bahwa benih padi tersebut memiliki daya 
magis dan bisa digunakan sebagai tolak bala. Benih padi tersebut 
diyakini dapat memberikan pengaruh kesuburan dan keberhasilan 



86 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 




dalam panen, dan dapat terhindar dari hama, maupun bencana lainnya. 
Benih padi yang sudah terkena tubuh keboan ketika melakukan ritual 
ngurit dipercaya memiliki kekuatan magis yang bila disebarkan 
ke sawah dicampur dengan benih padi lainnya akan menghasilkan 
penenan yang bagus. 

Ritual ngurit disebut sebagai puncak acara, karena dalam ritual 
ngurit mengekspresikan tujuan dari upacara keboan, yakni Dewi 
Sri turun dari tandu memberikan benih padi (simbol kemakmuran) 
kepada pawang untuk disebarkan. Benih padi tersebut sebagai bekal 
para petani mendapatkan panen yang melimpah. Di sini merupakan 
personifikasi Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Ada relasi Dewi Sri 
dengan petani - keboan yang akan memberikan daya magisnya untuk 
kemakmuran warga desa. Di tempat ritual ngurit disebutkan sebagai 
tempat keramat, tempat sakral ketika ritual tersebut berlangsung. 



Foto31. Ritual ngurit dan pelaku keboan bergulingan di atas padi yang disebar yang 
kemudian dirayah oleh inasyarakat (doc. LAA) 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 87 




Foto 32. Dewi Sri menyaksikan ritual ngurit dan Dewi Sri naik tandu (doc. LAA) 



Koentjaraningrat (1974: 228-229) menyebutkan bahwa sifat-sifat 
keramat atau sacred menyangkut semua tindakan religi yaitu bisa 
tempat, benda, orang bersangkutan, yang semuanya didorong oleh 
emosi keagamaan. Kelakuan serba religi ini mempunyai nilai keramat 
atau sacred value. Dalam hal ini keboan dalam ritual tersebut dianggap 
keramat atau the sacred meminjam istilah Durkheim. Keboan dalam 
ritual tersebut sebagai binatang jadian yang disakralkan, karena ia 
sebagai simbol yang menjembatani hubungan antara manusia (petani) - 
leluhur - Dewi Sri - pertanian. Di sini ada nilai-nilai yang disakralkan 
yang merupakan simbol utama masyarakat (beliefs). Nilai-nilai yang 
disepakati (the sacred) tersebut berperan menjaga keutuhan dan ikatan 
sosial sebuah masyarakat (Astono dan Ario Soembogo, 2005: 89-90). 
Relasi tersebut bila digambarkan sebagai berikut: 

pertanian 

A 1 X 

Dewi Sri ◄ ► Keboan < — ► leluhur 

\ 1 / 

Manusia (petani) 



88 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Dalam acara itu ada yang khusus mencari benih padi yang 
disebarkan untuk melakukan pengobatan alternatif di tempat keboan. 
Warga berebut meraup benih padi seperti yang dilakukan Bu Warni, 
Supi, pak Udin. Bagi mereka ini dan pencari benih padi lainnya 
percaya bahwa melalui benih padi tersebut dapat untuk mengusir 
semua pengganggu yang akan mencelakai manusia termasuk mengusir 
hama di sawah. 




Foto 33. Pawang melakukan penyembuhan pelaku keboan dari kesurupan 

(doc. LAA) 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 89 



Setelah acara ngurit selesai para keboan berkumpul dan para 
pawang keboan menyadarkan kembali para keboan. Penyadaran 
para keboan yang dilakukan oleh pawang dengan berbagai cara. Ada 
yang menggunakan minyak wangi yang dioleskan di hidung dan 
keboan diloloh atau memakan secuwil kemenyan. Pawang lain ada 
yang menggunakan pelepah daun pisang yang disentuhkan ke tubuh 
keboan. Pawang lain mengoleskan minyak wangi sambil membaca 
alfatehah. Ada yang memberikan beras kuning agar roh yang merasuki 
manusia kerbau keluar dari tubuh warga yang kesurupan. Dalam ritual 
penyadaran dari kesurupan ada pawang yang membaca mantra: 

’Bismillah hirrohmann nirrohim, berdes putih aranning syetan, Tunggul 
Manik gurune syetan, suminggah-sumingkir baliha neng papanmu, 
sal am, wassalamualaikum. . .menepuk bathuk 3x dan shalawat. ’ 

’Bismillah hirrohmann nirrohim, berdes putih namanya setan, 
Tunggul Manik gurunya setan, pergilah pulang ke tempatmu, salam, 
wassalamualaikum... menepuk jidat yang bersangkutan 3x dan 
shalawat’. 

Setelah semua keboan sadar dari kesurupan, maka upacara adat 
keboan Desa Aliyan selesai. Meski demikian para pelaku keboan yang 
sudah disembuhlcan, masih lemas seperti tertidur. Sementara itu ada 
prosesi tari seblang yang dilakukan oleh wanita tua sambil memegang 
sapu yang artinya ngulih-ngulihake atau mengembalikan seperti 
semula. 

Jejak Riwayat Upacara Kebo-Kebo-an 19 . Menurut ceritanya 
konon upacara keboan sudah dilakukan pada abad 18. Desa-desa 
penyelenggara ritual kebo-keboan pada masa sampai dengan tahun 
50-an sebagian terbesar terletak dalam cakupan bekas-bekas istana 
terakhir kerajaan Blambangan yaitu, Bayu, Macan Putih, Kota 
Lateng, yang disebut sebagai daerah golden triangle. Di kawasan 



19 Diambil dari ’’Sejarah Kebo-Keboan dan Sunan Giri Membangun Kebo Mas, dan Ritual Kebo-keboan ” 
(bagian tertentu) dalam https://padangulan.wordpress.com/2011/06/09/, diunduh 4 Maret 2015). 
Wawancara dengan juru kunci makam Buyut Wongso Kenongo Pak Su’ud dan Pak Bam tokoh adat 
Aliyan. 



90 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



daerah ini disebutkan tradisi dan adat-istiadat, peradaban Blambangan 
masih tersimpan sebagai harta pusaka yang sangat bemilai. Desa itu 
adalah Aliyan, Alasmalang (Wonorekso), Gladak, Lemahbang Dewo, 
Watukebo, Tambong, dan Bubuk. Ritual ini semula menjadi bagian 
penting dalam menjaga tradisi leluhur, maka penyelenggaraannya 
menjadi tanggungjawab bersama masyarakat desa. Tetapi oleh berbagai 
faktor, dari tingkat kesejahteraan masyarakat, serta pengaruh budaya 
modem yang pragmatis maka sejak tahun 1960-an penyelenggaraan 
upacara kebo-keboan Banyuwangi mulai berkurang dan hilang pada 
masa orde barn. Setelah reformasi tradisi kebo-keboan muncul kembali 
di Desa Alasmalang atas usaha budayawan Sahuni. Sejak itulah 
penyelenggaraan upacara kebo-keboan mendapat dukungan sponsor. 
Berikutnya Aliyan sebagai desa penyelenggara upacara keboan 
yang dianggap masih kuat tradisi dan adatnya. Dalam kemasannya 
berbeda dengan Alasmalang. Dua desa di Banyuwangi ini yang masih 
melaksanakan upacara keboan. Namun upacara keboan Aliyan juga 
mengalami matisuri sehingga tidak terselenggara. 

Upacara Keboan , Upacara Hindu dan Lambang Kerajaan. 
Pelaksanaan upacara kebo-keboan tersebut pada desa yang masih 
dalam cakupan istana Kerajaan Blambangan mungkin ada hubungan 
dengan kegiatan istana atau dengan upacara agama Hindu. Kerajaan 
Blambangan diketahui sebagai kerajaan Hindu yang kuat, dan ma- 
syarakatnya adalah penganut Hindu yang teguh, karena di daerah 
Blambangan terdapat gunung yang disucikan oleh umat Hindu 
mulai pada zaman Singosari sampai saat ini yaitu Gunung Semeru. 
Binatang Kerbau dalam keyakinan Hindu adalah Sang Hyang Nandini 
tunggangan hewan kesenangan Dewi Durga Mahisasumardani, 
permaisuri Dewa Siwa, salah satu dari pemimpin para dewa yang 
diagungkan oleh umat Hindu. Dalam kitab Purana salah satu kitab 
tentang ajaran Hindu Dewi Durga digambarkan bertangan delapan 
bersikap tribangga, empat tangan kanan memegang cakra berapi, 
sara, serta seekor kerbau, dan empat tangan kiri masing-masing 
memegang sangkha, pasa, dan pasa lagi, serta rambut asura. Pada 
tangan kanan adalah lambang kebajikan yaitu penguasa tanaman dan 
kesuburan terdapat lambang seekor kerbau atau Sang Hyang Nandini, 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 9 1 



dan tangan kiri sebagai lambang angkara murka pembinasa asura dan 
menguasai berbagai penyakit menular. Meskipun Sang Hyang Nandini 
dimulyakan tetapi tidak ada satu prosesi yang dilakukan untuknya baik 
pada masa Hindu kuno maupun Hindu saat ini (https://padangulan. 
wordpress. com/20 11/06/09/ diakses 10 Maret 2015). 

Salah satu sumber terkuno yang menyebut adanya pemuliaan 
kepada kerbau yang dilakukan dalam arak-arakan adalah kitab Negara 
Kertagama. Dalam kitab ini ditulis bahwa apabila ada perayaan besar di 
ibu kota Majapahit, maka para wakil penguasa dari empat penjuru mata 
angin yang ikut dalam upacara masing-masing mengibarkan lambang- 
lambang tanda kebesarannya. Penguasa yang menggunakan lambang 
kerbau adalah Baginda Raja Matahun (mertua Bhree Wirabhumi 
Blambangan). Raja Matahun adalah ayah permaisuri adipati Majapahit 
Kedaton Wetan Bhree Wirabhumi. Patut diduga kerajaan ini berada 
dalam barisan Raja Matahun yang memuliakan Sang Hyang Nandini. 
Majapahit Kedaton Wetan adalah daerah yang subur dan makmur 
menjadi pusat lumbung pangan Majapahit oleh karenanya disebut 
Balumbun. Dari kata balumbun yang berarti daerah memiliki banyak 
lumbung muncul kata Blambangan. Maka wajarlah bila kerajaan 
Majapahit Kedaton Wetan atau Blambangan menggunakan lambang 
kerbau (https://padangulan.wordpress.com/20 1 1/06/09/sejarah-kebo- 
keboan, diakses 10 Maret 2015). 

Lambang lcesuburan dinyatakan dengan Dewi Sri. Telah disebut- 
kan bahwa kerbau adalah lambang kebaikan dari Dewi Durga tetapi 
dalam upacara kebo-keboan atau dalam upacara slametan sawah 
wong Blambangan mengaitkan dengan Dewi Sri. Dalam ajaran Hindu 
Kuno yang tercantum dalam kitab Parana, yang berkembang di 
India Dewi Durga memiliki dua sifat kebaikan dan kejahatan. Tetapi 
dalam kepercayaan masyarakat Jawa kebaikan dan keburukan tidak 
mungkin bersatu. Akhirnya Dewi Durga menjadi lambang keburukan 
dan lambang kesuburan adalah Dwi Shri Laksmi permaisuri Dewa 
Wisnu. Ketika masa Sanggramawijaya pengagungan terhadap Sri 
Laksmi tetap berlangsung, maka terjadilah simbiosis, lambang 
kesuburan pertanian dilambangkan dua simbol yaitu Sang Hyang 
Nandini (kerbau) dan Dewi Shri. Maka dalam perayaan kebesaran 



92 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



kerajaan Blambangan kedua lambang digunakan berdampingan. Oleh 
karenanya bisa difahami bila sebenamya upacara kebo-keboan adalah 
sebuah simbol bahwa Blambangan adalah sebuah kerajaan yang subur 
makmur (https://padangulan.wordpress.com/20 1 1/06/09/sejarah-kebo- 
keboan, diakses 10 Maret 2015). 

Berdasarkan uraian sebelumnya menunjukkan bahwa upacara 
keboan jauh dari pengertian ritual keagamaan karena sudah tidak ber- 
kaitan lagi dengan upacara keagamaan tetapi menunjuk pada lambang 
kebesaran Blambangan. Kerbau sebagai lambang kerajaan sangat 
penting untuk wong Blambangan. Maka Sunan Giri sebagai keturunan 
darah biru Blambangan memulai kegiatan dengan membangun 
pesantren yang diberi nama Kebo Mas. 

Bisa difahami apabila upacara kebo-keboan di desa-desa kawasan 
golden triangle istana Blambangan merupakan pesan penting dari 
leluhur Blambangan bahwa mereka memiliki sejarah yang panjang. 
Sekarang desa-desa penyelenggara upacara kebo-keboan masyarakatnya 
telah menjadi muslim yang taat. Dalam khasanah peradaban Islam 
tentu tidak ada ritual seperti itu. Di sisi lain desa penyelenggara 
upacara kebo-keboan merupakan desa-desa kuno (desa-desa yang 
sudah ada sejak abad 17). Ritual keboan yang masih digelar di salah 
satu wilayah kawasan tersebut adalah di Desa Alasmalang dan Aliyan 
(https://padangulan.wordpress.com/2011/06/09/sejarah-kebo-keboan, 
diakses 10 Maret 2015). 

Ritual keboan Desa Aliyan diselenggarakan setiap bulan Sura. 
Diperkirakan ritual ini sudah dilakukan sekitar abad 18 Masehi 20 . 
Menurut cerita waktu itu, masyarakat desa di daerah tersebut dilanda 
pageblug penyakit dan kemarau panjang sehingga mengalami gagal pa- 
nen dan paceklik ( kresek ) yang berkepanjangan. Pageblug tersebut be- 
rupa hama, wereng, tikus, dan penyakit tanaman lainnya. Sesepuh desa 
Mbah Wongso Kenongo mendapat petunjuk dalam semedinya untuk 
mengadakan upacara keboan agar kemarau panjang bisa berakhir. 



20 Latar belakang kemunculan ritual keboan hampir sama dengan ritual kebo-keboan di Desa Alasmalang 
Kecamatan Singojuruh. Hal yang membedakan adalah sesepuh desa yang memprakarsai upacara kebo- 
keboan Alasmalang bemama Buyut Karti, sedangkan keboan Aliyan Buyut Wongso Kenongo. Proses 
pelaku keboan kesurupan yang terjadi di kedua desa juga berbeda. 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 93 



Mbah Wongso Kenongo kemudian meminta anaknya yang ber- 
nama Raden Joko Pekik dan Raden Pringgo untuk bersemedi/meditasi 
minta petunjuk. Dalam menjalankan perintah mbah Wongso untuk 
bersemedi tersebut diikuti oleh beberapa warga masyarakat yang setia 
mendampinginya. Pada saat itu terjadi peristiwa Joko Pekik dan Raden 
Pringgo tiba-tiba perilakunya seperti kerbau. Ia berguling-guling di 
area lahan sawah yang pada waktu itu kena wabah penyakit. Perilaku 
seperti kerbau ini diikuti oleh orang-orang yang mengikuti Joko Pekik. 
Akhimya ada tanda-tanda pageblug penyakit berangsur-angsur hilang. 
Beberapa waktu kemudian dari hasil perilaku di sawah tersebut olah 
pertanian masyarakat ada peningkatan. Berikutnya masyarakat bisa 
menikmati hasil panen yang melimpah. Kejadian yang dilakukan oleh 
kedua anak Buyut Wongso Kenongo kemudian ditiru dan dilanjutkan 
oleh masyarakat setempat yang selanjutnya disebut dengan ritual adat 
keboan. Tradisi ini dilaksanakan secara rutin turun-temurun. Upacara 
ini juga dilakukan di tempat lain yaitu di Desa Alasmalang, Kecamatan 
Singojuruh disebut kebo-keboan (ringkasan wawancara jura kunci 
makam Buyut Wongso Kenongo/sesepuh adat Bapak Su’ud, April 
2015 ). 

Keboan Sebagai Simbol Ritual. Kerbau merupakan simbol hewan 
yang dahulu berfungsi sebagai tenaga andalan bagi petani setempat 
dalam mengerjakan sawahnya. Namun sekarang ini hewan kerbau di 
Desa Aliyan sudah tidak menjadi andalan petani lagi. Bahkan sudah 
jarang dijumpai petani yang memiliki kerbau. Pengolahan sawah 
sudah berganti dengan teknologi mesin. Namun demikian dalam ritual 
keboan, hewan kerbau merupakan simbol penting dalam pertanian. 

Binatang kerbau merupakan binatang yang lekat dengan kebudayaan 
agraris. Dalam kehidupan agraris, kerbau, sapi, merupakan binatang 
yang membantu petani dalam mengolah lahan sawahnya. Bahkan 
dalam mengolah sawah kerbau dianggap lebih kuat daripada sapi. 
Binatang kerbau di berbagai wilayah di Indonesia menjadi binatang 
penting dalam ritual adat. 

Secara arkeologis telah terbukti bahwa hubungan manusia dan 
kerbau di Indonesia sudah berlangsung sejak masa prasejarah hingga 
periode Hindu-Budha. Munculnya persepsi masyarakat tentang 



94 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



kerbau baru berkembang setelah dikenalnya sistem religi pada 
periode prehistori akhir, ketika manusia mengalami apa yang disebut 
cultural revolution, yaitu transformasi budaya dari food gathering 
ke food producing, dimana manusia memulai hidup sedenter setelah 
cukup lama nomaden. Pada periode ini ditandai dengan tumbuh dan 
berkembangnya konsepsi keyakinan terhadap kerbau sebagai sumber 
kekuatan magis yang mampu mengusir dan menolak kekuatan jahat, 
sehingga kerbau banyak digunakan sebagai hewan kurban dalam ritual 
pemujaan roh nenek moyang (Fadillah, A, 2010: 24-25). 

Kerbau merupakan hewan terpenting dalam kebudayaan Nusan- 
tara, karena selain binatang pekerja dan hewan peliharaan, kerbau 
juga dianggap sebagai the sacred animal, yang secara turun temurun 
menjadi binatang persembahan dalam berbagai ritual ancestor 
workship. Pandangan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa pengur- 
banan kerbau diyakini sebagai sumber kekuatan magis ( als magische 
krachbron) dalam menjaga keseimbangan kosmik antara makrokosmos 
(jagad raya) dan mikrokosmos (dunia manusia). Begitu kuatnya asosiasi 
kerbau dengan budaya suku-suku bangsa di Indonesia, sehingga 
muncul sebutan kepulauan Nusantara sebagai centrum van buffecultus 
(Fadillah, A, 2010: 26-27). 

Kerbau diyakini secara mistis-simbolis. Dilihat dari perspektif 
mitos, ’kerbau’ dalam masyarakat agraris memiliki fungsi sosial- 
kultural, yang dapat dijelaskan dan bahkan digunakan untuk menye- 
lesaikan persoalan-persoalan dunia dan kontradiksi-kontradiksinya 
secara ajaib. Kerbau dalam ritual-ritual adat dan bahkan simbol-simbol 
kebudayaan masyarakat tertentu menunjukkan bagaimana masyarakat 
mengkonseptualisasikan pesan kepentingannya untuk divisualisasikan 
dan disimbolkan dalam bentuk ’kerbau’ untuk disampaikan kepada 
masyarakat lain. Kerbau dalam konteks ini dihadirkan sebagai per- 
wujudan konseptualisasi keyakinan sosial secara simbolik dan bahkan 
lebih dari itu ’kerbau’ dijadikan sebagai medium untuk menyatakan 
identitas diri, status, prestise dan nilai-nilai simbolik lainnya (Majalah 
Cangkir, edisi 03/6-7/2012, majalahcangkir@facebook.com). 

Upacara keboan di Desa Aliyan menggunakan mitos ’kerbau’ 
sebagai media visualisasi yang menunjukkan hubungan manusia 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 95 



dengan alam ligkungannya. Dalam upacara tersebut ditandai dengan 
beberapa warga yang kesurupan yang bertingkah seperti kerbau. 
Mereka ini oleh warga setempat disebut sebagai ’pelaku’. Para pelaku 
ini tidak dari warga biasa tetapi yang mempunyai garis keturunan 
sebagai pelaku di setiap upacara keboan. Jadi tidak semua orang bisa 
menjadi keboan, hanya orang-orang tertentu saja, yaitu orang-orang 
yang mempunyai keturunan menjadi keboan dari leluhurnya sejak 
upacara keboan pertama kali dilaksanakan. 

Mereka yang menj adi pelaku pada umumnya keturunan dari generasi 
terdahulu yang biasa jadi keboan. Dalam upacara keboan tersebut ada 
’pelaku’ yang menyerupai perangai kerbau, bertingkah laku seperti 
kerbau. Kerbau jadi-jadian tersebut memang dipersonifikasikan seperti 
kerbau, pelaku tidak memakai baju, tubuhnya dilumuri warna hitam 
dan kepalanya dipasang menyerupai tanduk kerbau. Ritual Keboan ini 
merupakan prosesi untuk meruwat desa, khususnya permohonan untuk 
menjaga kesuburan sawah masyarakat Desa Aliyan dan menghasilkan 
panen yang berlimpah. 

Sistem kepercayaan telah berkembang pada masa manusia purba. 
Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain di luar mereka. Oleh 
sebab itu mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut 
dan kepercayaan tersebut salah satunya adalah totemisme. Menurut 
Stoppelaar, totemisme mewujud dalam bentuk dandanan dan perilaku 
pelaku ritus yang meniru kerbau liar (Basuki R.A.S, dalam http:// 
ajiraksa.blogspot.com/2011/05/agama-primitif-totemisme.html). Pada 
saat ini kebo-keboan diselenggarakan oleh wong Using, paling tidak 
di dua desa, yaitu Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi dan kampung 
Alasmalang Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh. 

Hewan kerbau dalam ritual ini merupakan simbol penting, sebagai 
penanda hewan yang lekat dengan kehidupan petani. Hewan kerbau 
tersebut sebagai penanda adanya relasi antara petani dan hewan kerbau 
dalam ikut mengolah dan menjaga kesuburan lahan sawah. Relasi 
juga terbangun dengan Dewi Sri sebagai simbol penjaga kesuburan 
lahan sawah dari mulai pengolahan - tanam - panen. Oleh karenanya 
sosok Dewi Sri dan hewan kerbau merupakan komponen penting 
yang dihadirkan dalam ritual keboan tersebut. Kerbau menjadi simbol 



96 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



aktivitas petani. Ritual yang telah dilaksanakan turun-temurun ini 
sebagai ucapan syukur warga atas hasil bumi yang diberikan Tuhan 
Yang Maha Esa. Sebagian besar dari 5.030 jiwa penduduk Desa Aliyan, 
bekerja mengolah sawah yang luasnya mencapai 450 hektar. 

Tradisi ini merupakan logika kultural bagi masyarakat pemilik 
tradisi tersebut yang memberikan pengaruh terhadap pola pandang, 
pola tindakan masyarakat terhadap dunianya. Dapat dikatakan bahwa 
kerbau sebagai senter mitos dalam tradisi tersebut telah menggerakkan 
masyarakat Desa Aliyan menyatu sebagai masyarakat yang dibalut 
oleh tradisi nenek moyang. Tradisi tersebut merupakan simpul kolektif 
yang kokoh bagi masyarakat agraris pada waktu itu hingga sekarang 
(Majalah Cangkir, edisi 03/6-7/2012, majalahcangkir@faceboo.com, 
diunduh tgl 11 Maret 2015). 

Dalam hal ini kerbau atau keboan Aliyan dianggap sebagai binatang 
yang memiliki kekuatan magis sehingga diyakini akan bisa membantu 
masyarakat Aliyan dalam mengatasi kekeringan, penyakit, dan 
gangguan pageblug lainnya. Dalam hal ini binatang kerbau (keboan) 
dianggap sebagai pelindung masyarakat Using, khususnya Using 
Aliyan. Dalam cerita disebutkan kerbau jadian tersebut merupakan 
penampakan dari anak Buyut Wongso Kenongo yaitu Raden Joko 
Pekik dan Raden Pringgo yang berperilaku seperti kerbau. Perilaku 
yang ditunjukkan oleh kedua putra Buyut Wongso Kenongo pada 
waktu disuruh ayahnya untuk bersemedi tersebut kemudian menjadi 
panutan warga untuk mengadakan ritual dengan tampilan kerbau 
jadian. Dalam pelaksanaan upacara keboan terdapat persekutuan 
binatang kerbau dengan dunia gaib dan ’pelaku’ keboan sebagai media 
persekutuan tersebut. (http ://aj iraksa.blogspot. com/20 1 1 /05/agama-pri- 
mitif-totemisme.html, Singgih,R.A, diunduh 20 April 2015). 

Ritual keboan matisuri. Upacara keboan Banyuwangi, termasuk 
di sini Desa Aliyan dan Alasmalang adalah upacara yang berkaitan 
dengan pertanian. Upacara ini mempunyai latar belakang dan pelak- 
sanaan yang hampir sama yakni berawal dari dulu desanya mengalami 
pageblug, paceklik, dan kekeringan yang berkepanjangan. Tujuannya 
juga sama untuk meminta hujan, untuk kesuburan, panen melimpah, 
terhindar dari paceklik, dan malapetaka yang menimpa desa, di samping 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 97 



rasa bersyukur atas limpahan anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang 
Maha Esa. Boleh dikata upacara yang menggunakan pelaku seperti 
binatang kerbau ini dahulu merupakan upacara yang dimiliki oleh 
masyarakat Using Banyuwangi. Namun, secara pelan-pelan upacara 
yang dulunya dimiliki oleh setiap desa di Banyuwangi ini hilang tanpa 
jejak, hanya tinggal Desa Aliyan dan Alasmalang yang melaksanakan. 
Desa Watu Kebo tidak melaksanakan secara masal, mereka masih 
takut untuk sama sekali tidak melaksanakan ritual keboan. Maka ritual 
keboan dilaksanakan oleh 2 orang saja, dengan membaca bacaan 
Island, selesai. Di Kemiren upacara keboan yang dulu pernah eksis, 
sekarang sudah tidak dilaksanakan lagi. 

Upacara pertanian yang menggunakan kerbau jadi-jadian di Alas- 
malang disebut kebo-keboan, dan di Aliyan disebut dengan keboan. 
Ritual ini dalam pelaksanaannya sama sekali tidak menyertakan 
binatang kerbau tetapi kerbau yang diperagakan manusia yang 
berperilaku mirip binatang kerbau. Pelaku kerbau dalam upacara kebo- 
keboan Alasmalang atas tunjukan tetua adat, yang kesurupan tidak 
semua, tetapi pelaku keboan di Aliyan atas tunjukan roh leluhur atau 
roh goib dengan langsung merasuk ke tubuh yang dipilih. Mereka yang 
dipilih oleh roh leluhur akan trance, tidak sadar atau kesurupan dan 
berperilaku seperti kerbau. Pelaku keboan Alasmalang bisa ditentukan 
jumlahnya, Aliyan tidak bisa ditentukan tergantung keinginan roh 
leluhur. Pada upacara keboan 2014 di Aliyan ada sekitar 90an yang 
kerasukan roh goib. Kebo-keboan Alasmalang sudah ada balutan 
pariwisata, dikemas menarik. Keboan Aliyan tampilannya cenderung 
masih asli apa adanya dan sangat dramatis. 

Di Desa Aliyan upacara keboan dilaksanakan sesuai adat-istiadat 
yang berlaku. Bahkan dikenal ritual keboan Aliyan masih sangat 
alami, asli. Mungkin oleh hal ini ada beberapa bagian dari proses 
ritual keboan dianggap melanggar atau bertentangan dengan agama 
Islam, yang mayoritas dipeluk oleh warga masyarakat bersangkutan. 
Beberapa bagian dari proses ritual keboan Aliyan ini sepertinya tidak 
ada dalam prosesi ritual kebo-keboan Alasmalang. Bagian dari prosesi 
ritual keboan Aliyan yang dianggap melanggar kaidah agama Islam 
adalah (1) ketika arakan pelaku keboan bersama tetabuhan masuk ke 



98 | Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



makam, (2) ketika keboan masuk ke ritual gelar sanga, dimana sekitar 
tujuh pasangan keboan ( kebo kawak ) makan sesaji yang digelar di atas 
daun pisang dengan merangkak memakan dengan mulutnya sambil 
melenguh seperti kerbau (lihat foto 25). 

Dua hal dalam prosesi ritual keboan di Aliyan ini yang menjadikan 
ritual tersebut mendapat perhatian dari ulama. Sorotan terhadap unsur 
budaya dalam ritual adat keboan tersebut karena dianggap menyalahi 
kaidah-kaidah agama Islam. Atas dasar alasan inilah yang menjadikan 
terjadinya kemandegan atau tidak dilakukannya ritual keboan Aliyan 
sampai 8 tahun. Ini merupakan peristiwa pelarangan atau pemangkasan 
terhadap beberapa unsur adat ritual keboan di Desa Aliyan. Ketika ritual 
keboan dilaksanakan lagi tahun 1998, intervensi tetap berlangsung 
sampai sekarang, khususnya kedua unsur budaya tersebut menjadi 
agenda para ulama untuk dipangkas, atau diganti dengan kegiatan lain 
yang bernafaskan Island. 

Gesekan, yang menjurus ke konflik antara dua kelompok yang 
berbeda pandangan tentang adat ritual keboan ini telah memunculkan 
kelompok pro-kontra. Di sini sebenarnya ada pihak yang diintervensi 
oleh kelompok lain, yang dilihat dari sejarahnya ada campur tangan 
kekuasaan yang melakukan ’kekerasan’ membekukan tradisi untuk 
tidak dilaksanakan. Campur tangan kekuasaan dilakukan oleh kepala 
desa yang berada pada hierarki negara yang paling bawah dan 
seharusnya ia bertanggungjawab atas fungsi kehidupan sehari-hari di 
desa (lihat Herriman, 2013: 1-5). Tetapi pada kenyataannya tidaklah 
demikian. 

Kelompok penggiat tradisi ritual keboan, maupun para pendukung 
budaya ini adalah pemeluk agama Islam yang sebagian besar melak- 
sanakan kewajiban agamanya. Kepercayaan Island mereka menerima 
adanya kekuatan magis (Herriman, 2013: 3). Hal ini menjadi poin ter- 
sendiri bagi kelompok yang tidak mendukung ritual tersebut, khususnya 
ulama yang dalam misinya digunakan sebagai langkah penyadaran 
yang sifatnya menekankan untuk menggunakan agama Islam sebagai 
tuntunan dalam melaksanakan tradisi ritual keboan. 

Sampai saat ini (penelitian 2015) wacana tentang unsur-unsur 
budaya yang dianggap bertentangan dengan kaidah agama Islam masih 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 99 



berlangsung. Sementara itu pihak pendukung budaya ritual keboan 
Aliyan juga masih tetap bertahan melaksanakan kedua unsur budaya 
tersebut sebagai rangkaian ritual yang dianggap sakral. Mungkin 
berangkat dari pengalaman waktu lalu yaitu terjadinya ’pembekuan’ 
tradisi ritual keboan dari ranah kehidupan masyarakat Using Aliyan, 
telah memberikan pemikiran tersendiri dari para pengelola adat tradisi 
Using Aliyan. Dari apa yang mereka sampaikan dalam menghadapi 
persoalan ini, mereka mengambil jalan konfromistis, yaitu ada pe- 
nyesuaian-penyesuaian. Misalnya ketika doa secara Islami diminta 
untuk dimasukkan menjadi bagian dalam doa ritual tersebut, mereka 
terima (tahun 2012) (yang dilakukan bersamaan dengan doa secara 
adat yang menggunakan bahasa lokal Using). Juga pelarangan ritual 
adu ayam juga mereka terima (khusus di Desa Timurejo), menurut 
mereka semuanya itu untuk menghindari konflik. Bahkan supaya bisa 
berdialog-dari hati, ulama dilibatkan dalam kepengurusan lembaga adat 
mereka yang baru saja terbentuk. Ini sebuah cara yang bernilai kearifan, 
kehalusan hati dari para pendukung adat tradisi keboan Aliyan. Di lain 
pihak dilibatkannya ulama dalam lembaga adat ini menjadi jalan bagi 
ulama untuk lebih bisa menyampaikan misinya mengintervensi dua 
kegiatan dalam prosesi ritual keboan untuk dihilangkan atau diganti 
dengan kegiatan yang bemafaskan Islami. Bagaimana akhimya belum 
diketahui, walaupun intervensi ini sudah berjalan cukup lama sampai 
sekarang. 

Banyak peristiwa-peristiwa yang lebih kompleks terjadi pada ma- 
syarakat adat. Pertentangan antara budaya tradisi yang mereka miliki 
yang bemuansa religi biasanya mengalami intervensi tekanan yang 
mengarahkan budaya-budaya tradisi tersebut agar sesuai dengan ajaran 
agama (resmi). Dalam praktik banyak ditemukan agama senantiasa 
mensubordinasi kebudayaan dengan berbagai cara (lihat Budiman 
(ed), 2007). 

Menurutjejaksejarahupacara keboan atau kebo-keboan Banyuwangi 
konon sudah ada sejak abad 18. Ritual kebo-keboan dilaksanakan setiap 
tahun pada tanggal 10 Muharram atau tanggal 10 Sura kalender Jawa. 
Namun, upacara ini sempat berhenti tidak dilakukan oleh masyarakat 
pada masa orde baru, zaman Suharto. Upacara tersebut ditiadakan 



100 ! Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



karena pada saat itu dianggap berafiliasi dengan gerakan G 30 S PKI 
dan dianggap sebagai ritual yang menyembah batu. Oleh karenanya di 
Alasmalang ritual kebo-keboan matisuri sampai kurang lebih 35 tahun 
lamanya (walaupun sejarahnya agak berbeda tetapi umumnya juga 
terjadi pada ritual keboan di Banyuwangi). Di Alasmalang ritual kebo- 
keboan dicap sebagai ritus takhayul, musrjik, pemborosan, PKI, telah 
membuat ritual kebo-keboan dihentikan atas perintah lurah desa saat 
itu yang bemama Dilah. (http://karsono.stalf.fkip.uns.ac.id/20 10/1 1/01/ 
kebo-keboan-ritus-totem-banyuwangi). 

Namun ketika masa awal ritus kebo-keboan dilarang di Alasmalang, 
terjadi peristiwa trance ( kesurupan ) yang menimpa seorang warga. 
Setelah terjadi kesurupan tersebut, kebo-keboan sempat dilaksanakan 
kembali, tetapi kemudian dilarang lagi. Penghentian kebo-keboan yang 
dilakukan oleh Dilah, sebenarnya menimbulkan tekanan psikologis 
bagi warga Alasmalang. Di satu sisi, masyarakat sulit menerima 
keputusan sepihak tersebut, namun disisi lain, mereka tidak berani 
menentang kekuasaan. 

Apa yang terjadi di Alasmalang ini juga terjadi di Aliyan. Melalui 
kepala desa yang berkuasa saat itu ritual keboan Aliyan juga dihentikan. 
Persoalannya hampir sama, tetapi sekitar tahun 1990an lebih bemuansa 
masalah pertentangan dengan cap musjrik, melanggar kaidah agama, 
sehingga sekitar tahun 1990an sampai 1998 upacara keboan Aliyan 
tidak dilaksanakan. Kata seorang warga yang menceritakan kondisi 
saat itu: 

”waktu itu ada kelompok pendukung keboan yang minta keboan tetap 
dilaksanakan dan kelompok masyarakat yang menentang ritual keboan, 
ada juga yang tidak bereaksi. Pak lurah termasuk yang menginginkan 
ritual keboan dipangkas, yang ke makam atau ’muja’ dianggap muja jin, 
syetan. Pak lurah didukung ulama” (wawancara dengan Ba’i, Pak Sup, 
dan Pak Pud, April 2015) . 

Menurut penuturan seorang tokoh adat ketika desa ini ada pemilihan 
kepala desa, ada sekelompok warga yang menyokong terpilihnya pak 
Ar sebagai kepala desa. Kelompok warga yang dulu menyokong 
terpilihnya Ar sebagai kepala desa inilah yang menyampaikan 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 101 



keinginannya untuk menghentikan beberapa bagian dari upacara 
keboan yang dianggap melanggar kaidah agama Islam. Dari pendukung 
ritual keboan tetap bertahan, namun akhimya ritual keboan dihentikan. 
Warga pendukung ritual keboan kecewa, marah tetapi tidak bisa protes 
karena berhadapan dengan penguasa. Warga merasa ewuh pakewuh 
Setelah rezim ini selesai, ada pergantian kepala desa, dan tokoh-tokoh 
adat menyampaikan keinginan warga, akhirnya tradisi ritual keboan 
bisa dihidupkan lagi. Menurut Ba’i (warga pendukung upacara): 

’’Akhimya bisa dilaksanakan lagi, walaupuan masih melalui perjuangan, 
karena masih ada kelompok yang pro dan kontra . . . yang kontra terhadap 
pelaksanaan ritual keboan, menentang keboan sampai sekarang masih 
tetap menentang, yaah maunya keboan ini acaranya dipangkas. Maunya 
mereka, acara yang ke kuburan . . . mujo mbah Buyut Wongso Kenongo 
tidak boleh, hams dipangkas. Bagi pendukung ritual keboan kalau tdak 
ke makom kurang pas . . . karena rohnya di situ . . . cerita orang tua, 
dulu terjadinya adanya keboan karena dari mbah Wongso Kenongo. Ada 
yang menganggap ke makom itu menyembah jin . . . kami tidak setuju 
di sini kan mau slametan, kalau tidak ke situ rasanya masih kurang, kan 
imamnya di masjid berdoa” (wawancara April 2015). 

Pelarangan dari penguasa untuk tidak menggelar upacara keboan 
tidak ditentang secara frontal oleh warga. Seperti disebutkan oleh 
seorang tokoh adat: 

”. . . saat terjadi malahan ada gerakan dari dalam untuk menghindari 
konflik . . . kita ada pendekatan-pendekatan. . . itulah kelebihan kita, 
menjadi kekuatan .... memang beberapa hal dimasalahkan oleh 
kelompok kontra, misalnya tanggal kegiatan yang bersamaan dengan 
istigosah . . . kegiatan yang dianggap dibesar-besarkan . . . yah akhimya 
sebelum 10 Dulhijah acara keboan dilaksanakan . . . kita tidak mau 
berdebat, ya sudah yang penting acaranya jalan . . .” 

Bagaimana pendapat dari para ulama yang menentang adanya 
rangkaian prosesi keboan yang dianggap melanggar kaidah agama. 
Seorang ulama pak Hid menyatakan pemikirannya berkaitan dengan 
ritual keboan : 



1 02 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



”... sesepuh dan masyarakat menganggap suatu gumuk/ kebun masih 
banyak jin-jinnya . . . nah sebelum upacara dimulai, malamnya jin itu 
diundang. Jadi yang langganan kesurupan ini tidak tanggung-tanggung, 
kesurupannya itu sungguhan, tiga-empat orang tidak cukup untuk 
membantu.Kalau memang keluarga khawatir, dihindarkan tetapi ya itu 
tetap saja kemasukan, sudah dijauhkanpun tetap dihampiri. Dalam Islam 
kalau takut dengan setan dianjurkan untuk membaca doa . . . tetapi 
lain kalau sudah berteman dengan seperti itu, tanpa ada ihtiar untuk 
menghindari, yang dibicarakan dalam batin hadir . . , jin dan manusia 
dibuat oleh Allah cuma kita tidak tahu karena alamnya lain” 

Jadi adanya prosesi dalam upacara tersebut yang mengundang 
para roh leluhur untuk datang pada saat menjelang upacara keboan 
dilaksanakan, yang menyebabkan banyak warga kesurupan atau trance. 
Hal ini yang menjadikan tuduhan seolah-olah ada pertemanan antara 
manusia dengan roh leluhur. Roh leluhur yang merasuki manusia 
memang sengaja dihadirkan, sehingga ketika ritual keboan dihentikan 
pelaksanaannya, yang berarti tidak ada prosesi pemanggilan roh 
leluhur, ternyata tetap ada yang kesurupan. Kata seorang warga: 

’’Selamatan desa ditiadakan, dihilangkan, kami selametan di rumah 
sendiri-sendiri yah sekarang hampir semua tahu dan melihat ada 
himbauan tidak boleh masuk ke makam”. 

Ketika kami Tim Peneliti akan berkunjung ke Dusun Sukodono, 
tiba-tiba salah satu warga yang akan mengantar kami kerasukan, ia 
meminta teman kami untuk memukul jidatnya keras-keras tiga kali. 
Barulah kami tahu kalau dia kerasukan setelah diberitahu oleh seorang 
warga yang ikut memukul jidatnya. Bagaimana dia bisa kerasukan? 
Apa ada yang memanggil roh leluhur? Karena saat itu sedang tidak 
ada ritual keboan. 

Seorang ulama Pak Hid memberikan tanggapan berkait dengan 
budaya keboan. Menurutnya budaya keboan merupakan budaya 
turun-temurun yang diadakan setiap Sura. Pada saat ritual keboan 
dilaksanakan banyak tamu berdatangan, kebersamaan antartetangga, 
famili, handaitaulan dari luar daerah disempatkan datang. Jadi ada 
kemanfaatan dan hi km ah yang besar menurut Pak Hid. Di sisi lain di 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 103 



musim silaturahim, seperti hari raya Idul Fitri, secara kekeluargaan 
belum kuat kebersamaannya. Menurut pandangan Islam harusnya lebih 
mementingkan Idul Fitri. Pak Hid juga menyampaikan pandangannya 
tentang prosesi ritual keboan : 

’’Dari segi pandangan agama ada yang perlu saya klarifikasi, kebetulan 
tahun ini saya baru masuk dalam lembaga adat. Menurut pandangan 
agama masuk ke makam itu ada aturannya, Cuma hal ini yang ingin saya 
luruskan, karena dalam kubur itu untuk tempat yang tidak sadar. Menurut 
Islam ya diberi doa, mendoakan, ada tata cara sendiri. Tiap tahun ada 
perubahan sedikit demi sedikit yang mengarah ke pelanggaran mulai 
berkurang.Tahun ini saya masuk di lembaga juga punya kewenangan. 
Tiap tahun pasti ada selamatan, tamu-tamu merayakan semua, nilai 
sodakohnya cukup. Tetapi di sisi lain ada makanan yang diglundhungi 
di gelar sanga, itu kan mubazir, itu saja . . ” (wawancara, April 2015). 

Terjadinya pro-kontra dalam pelaksanaan ritual keboan di Aliyan, 
dan tindakan-tindakan di kedua belah pihak mengisyaratkan adanya 
dialog yang menuju ke kompromi-kompromi untuk kelestarian budaya 
adat masyarakat setempat. Namun ulama setempat mengakui belum 
menemukan fonnula yang tepat untuk bisa menjembatani hal yang 
sangat berbeda bahwa dalam ajaran Islam ada aturan, sementara 
dalam perspektif tradisi terkandung kepercayaan-kepercayaan keboan 
seperti itu. Namun tetap ada upaya dengan akan ada keterlibatannya 
(Pak Hid-ulama) dalam kelembagaan adat, Pak Hid akan banyak 
melakukan pendekatan, berkonsultasi dengan panitia apapun tentang 
harapan dan pengetahuan yang dimilikinya. Ia bersama tetua adat, 
panitia keboan akan duduk bersama dalam rapat membahas tentang 
upacara tersebut, pelaksanaan upacara, walaupun Pak Hid merasa apa 
yang akan disampaikan dan dilakukan sesuatu yang agak sulit. Pak 
Hid juga mengatakan: 

’’Saya berharap kita mendukung adanya budaya tersebut, tetapi di sisi 
lain kita jangan terjebak, intinya kesana (tentang ke makam) biasanya 
dengan memohon (yang dimakam) itu di luar acara kita (harusnya 
memberikan/membacakan doa). Baru kali ini saya terlibat, mungkin ini 
kesempatan, bicara di luar pagar kan tidak bisa. Di saat rapat kondisi 



104 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



sadar, tetapi setelah upacara sudah tidak sadar. Jiwanya sudah lain. 
Apakah ketika vacum (tidak ada ritual) mereka yang biasa kerasukan 
tetap bingung, tidak ada kegiatan apapun keboarmya jadi bingung?. 

Yah mungkin ada cara lain untuk tidak ke sana (ke makam) bagaimana 
seandainya tidak ke sana dalam keadaan tidak sadar. Di kepanitiaan saya 
berusaha. Dalam hal ini sebenamya tidak ada pro dan kontra saya hanya 
meluruskan saja, sedikit demi sedikit ada perubahan lagi” 

Kondisi seperti ini tampaknya dialami hampir semua desa yang 
memiliki ritual yang dianggap bertentangan dengan kaidah agama 
Islam, yang biasa disebut ada praktik yang bersifat syirik. Kelanjutannya 
lewat kekuasaan kepala desa dan dukungan dari ulama ritual desa 
yang menggunakan figur kerbau dihentikan. Kondisi seperti itu 
(pelarangan, penghentian upacara) ada yang tidak kelihatan, seorang 
tokoh adat mengatakan ”di Kemiren walaupun tidak tampak, tetapi 
juga ada pelarangan, kalau di sini (Aliyan) kelihatan terang-terangan”. 
Ritual keboan Aliyan secara jelas dalam pertemuan-pertemuan secara 
langsung maupun tidak langsung pasca upacara keboan matisuri (tahun 
1990an-1998) diminta untuk memangkas beberapa bagian dari prosesi 
upacara keboan: (1) prosesi keboan di makam dan (2) prosesi gelar 
sanga. Kedua kegiatan dalam ritual ini menurut pendukung upacara ini 
termasuk inti, termasuk ’ruh’ dari keseluruhan kegiatan ritual keboan. 
Kata mereka: 

”kami keberatan dan menolak kalau acara itu dihilangkan, gelar sanga 
dan ke makom itu wujud hubungan manusia dengan lingkungannya, 
dengan leluhumya dan Tuhannya”. 

Kedua hal ini memang yang akan dipangkas oleh kelompok ulama 
karena dianggap melanggar kaidah agama Islam. Seorang tokoh adat 
Using memberikan pandangannya tentang ritual keboan yang akhir- 
a kh ir ini mendapat intervensi dari luar: 

’’Saya sudah melihat berbagai ritual adat di berbagai tempat, yang paling 
kental ya di sini. Ini kenyataannya, pas lihat adat keboan di sini rasanya 
mrinding. Saya melihat ada orang tua ( keboan ) sampai berguling-guling 
seperti itu. Anak-cucunya melihat, mengikuti. Saya pikir memang 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 105 



kebutuhan spiritual masyarakat di sini itu begitu. Apalagi ada pelaku 
yang ingin berhenti karena sudah capek, tetapi tidak bisa, tetap saja 
kemasukan, walau sudah diungsikan. Tidak hanya yang tua yang muda 
juga. Saya lihat di Sukodono ada anak lari ke guyangan. Seperti ada yang 
membisiki. Saya menerima dan sangat memahami ritual adat mereka, 
dan yang saya lihat itu potensi besar untuk membangun masyarakat 
menjalin kebersamaan, kalau ini hilang media untuk itu tidak ada. Orang 
selamatan mengeluarkan uang, tetapi mendapat kepuasan batin, hajatnya 
sudah terlaksana. Kepuasan batin memang mahal, apalagi kebutuhan 
spiritual. Ini sebenamya juga salah satu cara menimang-nimang rasa 
berketuhanan” 

Matisurinya ritual keboan Aliyan selama kurang lebih 8 tahun 
menurut warga maupun tokoh-tokoh adat setempat memang menjadikan 
masyarakat merasa kehilangan yang besar, merasa ada kerinduan. 

”Saat-saat kosong ini memang ada yang shyock, tapi tidak bisa apa- 
apa dan tidak berani mengekspresikan. Ada pelaku keboan yang ikut 
jaranan, atau jaran kepang, di situ mereka bisa trance, katanya setelah 
itu badannya terasa sakit”, kata seorang tokoh adat Pak Sup dan Pak 
Bah. 

Ketika ritual keboan dihentikan menurut warga dan seorang 
pawang, para pelaku tetap ada yang kesurupan. Menurutnya warga 
Desa Aliyan melakukan selamatan di rumahnya sendiri-sendiri. 

Pada saat vacum setiap bulan Sum, selamatan desa dilakukan 
oleh warga masyarakat secara individual tanpa ada ritual keboan dan 
idher bumi yang selama ini mereka lakukan. Mereka hanya melakukan 
slametan kecil di rumah. Warga masyarakat merasa ada yang hilang, dan 
para pelaku keboan pelariannya ada yang bermain jaranan di tetangga 
desa, ada juga yang kesurupan, banyak juga yang mengeluh badannya 
terasa lemas dan sakit. Seorang warga mengatakan ketika bulan Sura 
tidak ada ritual desa, suasananya sepi, tapi sepinya itu menurutnya 
alamnya diam, sepertinya tidak ada angin, suara burung, atau apa juga 
tidak ada, ’saya tidak bisa menjelaskan rasanya bagaimana dan seperti 
apa’. 



1 06 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Peristiwa ini menurut warga, selama ritual keboan dihentikan, 
hasil sawah atau panenan tidak bagus, banyak yang gabug. Tanaman 
padi sering diganggu oleh hama ulat, tikus, wereng, dan kekeringan. 
Kepala desa saat itu juga mengatakan: 

”desa ini dilanda kekeringan, hama tikus menyerang persawahan, juga 
sedulur tani banyak yang sakit-sakitan. Masyarakat di sini menyikapi 
peristiwa ini dengan mengaitkan tidak dilakukannya ritual adat keboan. 
Sekarang setelah dilaksanakan lagi panen sudah bagus, semuanya baik- 
baik saja”. 

Ritual keboan sudah dilaksanakan lagi, warga masyarakat me- 
nyambut dengan antusias, mereka tetap berharap dalam kehidupan 
bertani akan bertambah baik, yang berarti panenan padi melimpah, 
petani dan masyarakat desa sejahtera. 

Ritual keboan atau kebo-keboan dari waktu ke waktu, dari 
pelaksanaan ritual sederhana, kemudian semakin meningkat, ada 
tetabuhan dan tambahan sana-sini yang pada intinya untuk kemeriahan 
upacara keboan. Pada awalnya upacara keboan tanpa musik, tanpa 
kostum. Kemudian ada kostum untuk panitia maupun peserta upacara, 
sehingga menambah meriahnya upacara. Muncul pula gapura 
atau lawang kori di setiap sudut gang desa. Sekitar tahun 2007 di 
gapura atau lawang kori ada tambahan hasil bumi yang berupa buah, 
sayuran, palawija dipajang di gapura tersebut. Pada tahun itu pula 
ada makan bersama pecel pitik, ayam pekekeng yang digelar warga 
desa di sepanjang jalan desa. Sesuatu yang tadinya bersifat kasat mata 
kemudian ada visualisasinya, yaitu figur Dewi Sri. Visualisasi figur 
Dewi Sri juga terns berkembang tata riasnya malahan sudah mendekati 
seperti ’jember carnival’. Pada zaman sebelum masuknya agama Islam, 
tidak ada peran kyai dalam ritual ini namun karena peningkatan nilai 
kelslaman pada abad 19 maka kiai diikut sertakan dalam ritus keboan. 
Di ritual keboan Aliyan dalam seremonialnya ditambahkan doa secara 
Islam yang dimulai sudah 3 tahunan (tahun 2012 an), intinya dalam 
berdoa tidak memohon kepada buyut, tetapi kepada Tuhan YME. 

Dalam ritual keboan ada acara adu jago yang disebut gitikan atau 
tajen. Acara ini sejak kemunculan ritual keboan memang sudah ada. 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 107 



Munculnya binatang ay am jago juga diceritakan dalam riwayat ritual 
keboan. Berkait dengan aduan ayam jago atau tajen menurut cerita 
adalah persyaratan untuk keamanan Desa Aliyan. Dalam cerita tersebut 
Buyut Wongso Kenongo mendapat bisikan bahwa untuk mengusir 
penjahat yang mengganggu desa dengan cara mengadu ayam jago 
yang kakinya dipasangi keris kecil. Ketika kedua ayam akan diadu 
buyut dan keluarganya berpuasa, memohon kepada Tuhan agar ayam 
tersebut tidak ada yang luka (karena ada keris di kakinya). Di tempat 
adu ayam ini dilengkapi dengan janur kuning, kendhi berisi air ditutup 
kain putih, dan pekinangan. Ketika kedua ayam diadu sampai dua 
kali tidak ada yang menang dan kalah dan tidak ada yang terluka. 
Peristiwa ini menjadi pembicaraan masyarakat, dan Buyut Wongso 
Kenongo menjadi terkenal sebagai orang sakti. Cerita ini juga didengar 
oleh para penjahat, dan menurut cerita para penjahat kemudian takut 
kepada buyut Wongso Kenongo dan tidak berani berbuat kejahatan 
di Desa Aliyan. Munculnya adu ayam dalam ritual keboan Desa 
Aliyan mungkin merujuk pada cerita tersebut, supaya desa aman dan 
terhindar dari malapetaka. Acara adu ayam dalam ritual keboan di 
Dusun Sukodono masih berlangsung, tetapi di Dusun Timurejo sudah 
tidak dilakukan lagi. Atas dasar perkembangan ini, para ulama percaya 
bahwa yang sekarang sedang dalam ’pertentangan’ sedikit-demi sedikit 
akan terkikis, seiring dengan perkembangan pengetahuan masyarakat. 

Pertentangan atau perbedaan tafsir beberapa bagian dalam ritual 
keboan akan terns berlangsung. Dua kegiatan dalam prosesi ritual 
keboan yakni gelar sanga dan masuk prosesi ke makam diharamkan 
oleh ulama setempat karena dianggap melanggar kaidah agama Islam. 
Sementara itu pendukung upacara ini menganggap kedua kegiatan 
tersebut merupakan inti dari ritual keboan. Dari ulama menginginkan 
kedua kegiatan itu tidak dilakukan lagi, bisa diganti yang bemuansa 
Island. Dari pihak pendukung upacara keboan merasa keberatan dan 
tidak setuju. 

Bagi warga pendukung ritual keboan mereka merasa berkewajiban 
untuk melaksanakan upacara keboan karena dengan melakukan 
upacara ini warga masyarakat akan hidup aman dan sejahtera. Warga 
masyarakat percaya dengan upacara tersebut sebagai tanda bahwa 



108 J Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 



warga tidak lupa kepada leluhur yang telah menjaga desa tempat 
mereka hidup bersama keluarga. Untuk itu bagi Pak Sam, Pak Kas, Bu 
Is, upacara keboan haras berlangsung terns. 

Ritual keboan menurat para tokoh adat Pak Sud, Pak Sup, Pak Bam, 
Pak Bud, merupakan warisan leluhur yang haras dilestarikan. Ritual 
keboan merupakan bentuk ekspresi penghonnatan warga masyarakat 
kepada leluhur yang telah memberikan Desa Aliyan sebagai tempat 
berteduh. Ritual keboan juga sebagai bentuk ucapan terimakasih 
kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Desa Aliyan 
aman, dan warganya hidup berkecukupan. Bagi Para tokoh adat, ritual 
keboan haras tetap dijaga keberadaannya, karena merupakan identitas 
budaya masyarakat Desa Aliyan. 

Dari ulama ada yang memaknai ritual keboan menjadi magnit 
warga Aliyan menyatu, bergotong-royong, ada kekuatan yang mam- 
pu mengundang warga Aliyan yang berada di luar berdatangan 
untuk pulang ke desanya. Budaya ini menjadi sebuah kekuatan yang 
memberikan adanya nilai-nilai kerukunan warga masyarakat yang 
ditunjukkan setiap bulan Sura. Akan tetapi ada yang haras dibenahi 
dalam prosesi ritual tersebut. 

Ritual keboan secara umum dimaknai sebagai simbol kebersamaan, 
kerukunan, kegotong-royongan, yang ditunjukkan dalam makan 
bersama. Pelaksanaan ritual keboan juga mengekspresikan simbol 
penghormatan kepada leluhur, rasa terimakasih kepada Tuhan Yang 
Maha Esa, ditunjukkan adanya doa-doa dalam prosesi ritual keboan, 
dan penghormatan kepada leluhur ditunjukkan persembahan sesaji 
untuk leluhur. 

Bagi warga muda di Desa Aliyan ritual keboan merupakan 
kekayaan budaya desa mereka. Mereka merasa senang dan bangga 
bisa terlibat dalam ritual tersebut. Seperti dikatakan oleh seorang 
muda Aliyan (Ba’i) yang dengan tegas mengatakan generasi muda di 
sini mendukung diadakannya ritual keboan. Alasan Ba’i: 

’’Setiap ada kegiatan ritual keboan yang menjadikan lawang kori adalah 

anak muda semua, tetabuhan juga anak muda semua. Anak muda 

juga yang menjaga para pelaku keboan saat kesurupan, menuntun dan 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 109 



menjaga ketika berada di guyangan. Menjaga ketika id her bumi, dan 
melancarkan jalannya prosesi ritual keboan. Menurut Ba’i boleh dikata 
generasi mudanya sudah menyatu dalam ritual adat keboan. Tetapi ketika 
ditanya bagaimana kalau ia (Ba’i) juga mendapat tempelan (dirasuki) dari 
roh leluhur seperti yang juga disandang oleh ayah dan kakeknya, yang 
otomatis ia keturunan pelaku keboan, spontan ia mengatakan: ” Aduh 
mohon ampuuun saya jangan sampai dirasuki, . . . saya mohon ya Allah 
jauhkan dari itu, saya tidak mau dihampiri” (wajah Ba’i menunjukkan 
ekspresi ketakutan dan kecemasan). Supaya terhindari dari roh leluhur 
Ba’i mengatakan ’’saya hanya selalu berdoa untuk terhindar dari itu, 
hanya itu yang bisa saya lakukan”. 

Ini menggambarkan bahwa perilaku keboan ketika kerasukan 
menjadikan pengalaman yang tidak mengenakkan, bahkan tnungkin 
ada perasaan menakutkan. Ba’i juga tahu bahwa sekali sudah di- 
hampiri tidak akan lagi bisa menghindar untuk seterusnya. Mungkin 
juga dirasakan oleh para pelaku keboan yang ingin juga menghindari 
peristiwa itu. Apakah para pawang memiliki kekuatan untuk meng- 
hindarkan rnereka yang ingin menghindar, bukankah para ’roh’ itu 
diundang untuk datang? 

Dalam hal pelaksanaan ritual keboan yang kemudian ada unsur- 
unsur budaya yang ditentang oleh ulama, yang menjadikan munculnya 
dua kelompok yang berbeda pandangan dalam menafsirkan dua unsur 
budaya tersebut. Bagi ulama setempat budaya ritual keboan tidak 
dipermasalahkan, bahkan diakui bahwa budaya tersebut memiliki 
kekuatan untuk mempersatukan warga Aliyan, niampu memanggil 
warga yang sudah pergi dari Aliyan datang untuk bisa mengikuti 
upacara tersebut. Namun dua unsur budaya ritual gelar sanga dan 
ke makam harus dipangkas. Sementara itu para pendukung ritual 
keboan menyatakan bahwa dua unsur dalam upacara yang tidak boleh 
dilakukan tersebut memiliki nilai sakral yang penting dari keseluruhan 
prosesi ritual keboan. Melihat ini apakah proses intervensi akan terns 
berlangsung? 

Stagnasi, Perubahan, Pemaknaan, dan Pengaruh Terhadap 
Kehidupan Bertani. Ritual keboan Desa Aliyan Rogojampi yang 
sudah ada sejak abad 18 dilakukan setiap tahun tanggal 10 bulan 



no | Komumtas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Sura mengalami stagnasi. Stagnasi atau adanya kevakuman itu terjadi 
antara tahun 1990 -1998. Matisurinya ritual keboan ini berkait dengan 
penguasa dalam pemerintahan desa yang pada waktu itu terdapat 
pemilihan Kepala Desa Aliyan yang dimenangkan oleh Pak Ar. 
Kemenangan itu didukung oleh warga yang mayoritas memiliki agama 
yang kuat. Akibatnya keberadaan ritual keboan Desa Aliyan ada yang 
tidak setuju dilakukan dan ada yang mendukung ritual keboan itu 
dilakukan. 

Mereka yang tidak setuju ritual keboan untuk tidak dilakukan karena 
menganggap bahwa ritual itu bertentangan dengan keyakinannya. 
Mereka menganggap syirik dengan adanya ritual tersebut, tetapi bagi 
warga yang mendukung justru kebalikannya. Dengan adanya ritual 
tersebut justru membuat mereka tenang, tenteram dan menimbulkan 
rasa aman dan sejahtera dalam hidupnya. Walaupun mereka banyak 
mengeluarkan biaya yang besar mereka dengan senang dan bangga 
untuk mengeluarkanya semuanya itu. Adanya ketidakcocokan itu 
membuat suasana kurang kondusif Desa Aliyan dan ada perasaan was- 
was kalau akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena sang 
penguasa pemerintahan didukung oleh warga yang kuat agamanya, 
maka dengan terpaksa kevakuman itu tetap dijalankan dan tidak 
ada yang protes atau tidak berani mengekpresikan bagi warga yang 
mendukung ritual tersebut. Dengan adanya suasana yang pro dan 
kontra yang terjadi selama 8 tahun itu situasi di desa ini kurang 
nyaman. Akibat ritual itu berhenti, padi di sawah itu banyak yang 
rusak, hama tikus merajalela dan merusak tanaman padi. Saat vacum, 
bencana ini memang dikehendaki oleh mbah Buyut Wongso, karena 
tidak ada selamatan. 

Pasca terjadinya penghentian ritual tersebut, pelaksanaan ritual 
keboan setelah vacum 8 tahun ada sedikit perubahan yang sifatnya 
individual. Pertentangan atau perbedaan tafsir beberapa bagian dalam 
ritual keboan akan terns berlangsung. Bagi warga pendukung ritual 
keboan mereka merasa berkewajiban untuk melaksanakan upacara 
keboan karena dengan melakukan upacara ini warga masyarakat akan 
hidup aman dan sejahtera. Warga masyarakat percaya dengan upacara 
tersebut sebagai tanda bahwa warga tidak lupa kepada leluhur yang 



Ritual Keboan Desa Alivan Pasca Matisuri \ 111 



telah menjaga desa tempat mereka hidup bersama keluarga. Untuk itu 
upacara keboan harus berlangsung terns. 

Ritual keboan menurut para tokoh adat merupakan warisan lelu- 
hur yang harus dilestarikan. Ritual keboan merupakan bentuk ekspresi 
penghormatan warga masyarakat kepada leluhur yang telah memberi- 
kan Desa Aliyan sebagai tempat berteduh. Ritual keboan juga sebagai 
bentuk ucapan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah 
memberikan Desa Aliyan aman, dan warganya hidup berkecukupan. 
Bagi Para tokoh adat, ritual keboan harus tetap dijaga keberadaannya, 
karena merupakan identitas budaya masyarakat Desa Aliyan. 

Dari ulama ada yang memaknai ritual keboan menjadi magnit 
warga Aliyan menyatu, bergotong-royong, ada kekuatan yang 
mampu mengundang warga Aliyan yang berada di luar berdatangan 
untuk pulang ke desanya. Budaya ini menjadi sebuah kekuatan yang 
memberikan adanya nilai-nilai kerukunan warga masyarakat yang 
ditunjukkan setiap bulan Sura. Akan tetapi ada yang harus dibenahi 
dalam prosesi ritual tersebut. 

Ritual keboan secara umum dimaknai sebagai simbol kebersamaan, 
kerukunan, kegotong-royongan, yang ditunjukkan dalam makan 
bersama. Pelaksanaan ritual keboan juga mengekspresikan simbol 
penghormatan kepada leluhur, rasa terimakasih kepada Tuhan Yang 
Maha Esa, ditunjukkan adanya doa-doa dalam prosesi ritual keboan, dan 
penghormatan kepada leluhur ditunjukkan persembahan sesaji untuk 
leluhur. Dari uraian itu ritual keboan Desa Aliyan berpengaruh pada 
warga yang kehidupannya sebagai petani. Ketika terjadi kevakuman 
tidak adanya ritual keboan akan berpengaruh terhadap kehidupan yang 
kurang aman, kurang tenteram dan akan berpengaruh pada bercocok 
tanam. Selain banyak tanaman yang rusak karena diserang hama tikus, 
mereka akan kehilangan kebiasaan yang membuat keindahan dalam 
hidupnya. 

B. Ritual Pertanian Individual 

Dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari dunia ritual dan 
sosial, karena keduanya sebagai bentuk manifestasi ekspresi manusia 



112 | Komumtas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Esa, atau kekuatan gaib yang 
menguasai alam semesta dan eksistensi manusia yang satu dengan 
yang lainnya. Ritus adalah dimensi ekspresif dari agama, ia selalu 
mempunyai dua dimensi yang antara satu dengan lainnya tak dapat 
dipisahkan. Dimensi pertama adalah hubungan seseorang dengan yang 
kudus, sedangkan dimensi kedua adalah hubungan seseorang dengan 
yang lain. Hubungan dengan yang kudus diekspresikan melalui ritus, 
selalu sekaligus memperkokoh hubungan antara seseorang dengan 
yang lain. Oleh karena itu, ritus selalu merupakan tindakan sosial 
(Darmaputra, 1992:83). 

Bagi masyarakat agraris seperti masyarakat Using di Banyuwangi, 
ritus sawah atau selanjutnya disebut sebagai slametan sawah me- 
rupakan ekspresi lokalitas yang telah mendapat legitimasi secara 
budaya dan menjadi bahan pengetahuan lokal yang secara institusi 
pengetahuan itu tidak ada yang berani melanggamya. Slametan 
pertama-tama dimaksudkan untuk memuaskan roh-roh setempat, 
bagi terutama penduduk desa yang mayoritas adalah petani. Roh- 
roh yang terpuaskan diyakini tidak akan mengganggu mereka dalam 
bercocok tanam. Slametan tidak hanya mengungkap aspek mistik saja, 
tetapi juga kesatuan sosial para pesertanya. Peserta tidak terikat pada 
kepercayaan agamiah tertentu, semua tetangga dekat diundang dan 
tanpa memandang agama dan kepercayaannya (Darmaputra, 1992: 84). 
Dengan demikian, Slametan sawah merupakan wujud dari ekspresi 
hal-hal tersebut dan peserta slametan sawah merupakan kesatuan 
kolektivitas yang mendukung keberadaan ritus tersebut, dalam hal ini 
masyarakat Using. 

Slametan tidak terlepas dari sesajen atau istilah orang Using 
menyebutnya dengan Peras. Sesajen mempunyai makna yang khusus, 
Koentjaraningrat dengan mengutip J.Van Baal seorang antropolog 
Belanda, mengatakan bahwa suatu sedekah (baca: sesajen) adalah 
suatu pemberian, dan bahwa suatu pemberian terutama merupakan 
cara untuk berkomunikasi simbolis dan untuk berpartisipasi dalam 
kehidupan serta pekerjaan dari orang yang diberi, dan bukan hanya 
merupakan cara untuk memuaskan hubungan fisik seseorang untuk 
’’menyuap” atau untuk mengambilkan suatu jasa. Oleh karena itu, 



Ritual Keboan Desa Aliy an Pasca Matisuri j 113 



sebagai suatu pemberian, sedekah (baca: sesajen ) merupakan suatu 
alat untuk berkomun ik asi secara simbolik dengan makhluk-makhluk 
gaib. Dengan demikian, setiap benda yang terdapat di atas tampah itu 
harus dianggap sebagai benda-benda yang dipergunakan sebagai alat 
untuk tujuan tersebut tadi (Koentjaraningrat, 1974) 

Ritus atau slametan sawah selalu dilakukan oleh petani Using, 
uniknya setiap sawah mempunyai ciri khas tersendiri dalam beritual, 
jadi sawah satu dengan sawah yang lain meskipun berdekatan, tetapi 
perangkat slametannya berbeda-beda. Hal ini disebabkan dulunya 
nenek moyang yang membuka sawah tersebut mempunyai nadzar 
yang berbeda-beda sehingga ritus sawah sangat beragam dan unik. 
Berikut proses ritus sawah yang dilakukan oleh masyarakat Using. 
Ritual yang ada kaitannya dengan pertanian secara individual di Desa 
Aliyan masih banyak dilakukan oleh para petani. Berdasarkan hasil 
wawancara dengan Pak Bam (April 2015) ritual yang sampai sekarang 
masih dilakukan oleh petani meliputi Labuh Tandur, Ngrujaki, Metik 
(wiwit), Labuh Nggampung, Ngunja 1/ Nyl am eti Lumbung. 

Labuh Tandur. Ritual labuh tandur ini dilakukan sehari sebelum 
tanam. Hal ini untuk menentukan jumlah bibit yang akan ditanam 
berjumlah dua belas batang satu tancapan. Pada hari pertama adalah 
melakukan slametan labuh tandur yang diikuti simbolisasi penanaman 
padi hanya di tempat-tempat tertentu. Labuh tandur sedekahnya 
adalah Kinangan dan Sega urap dengan kelapa, coloki menyan. Kedua 
sedekah tersebut ditaruh di uangan (tempat pertama kali air masuk di 
petak sawah). 

Sedangkan adeg-adeg yang akan ditancapkan di tulakan sawah 
adalah tangkai pohon jarak beserta daunnya dan pohon laos beserta 
daunnya serta tangkai pohon dringo dan daunnya, serta tangkai pohon 
kluwih beserta daunnya. Tujuan dari ditancapi pohon-pohon tersebut 
agar tanaman padi terbebas dari hama penyakit. 

Ngrujaki (nylameti pari meteng). Ritual ini menggunakan sarana 
sedekah Rujak Letog atau rujak buah yang berisi buah-buahan dan 
bahkan umbi-umbian seperti: timun, jambu kluthuk, kates, dan sawi 
(ketela) yang dibuat sebagai ruj ak. Selain Rujak Letog sarana sedekahnya 
yang lain adalah Sega Punar (beras ketan yang diurap dengan kelapa 



114 | Komumtas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



yang dikasih gula aren yang sudah dicairkan) kesemuanya baik rujak 
letog dan sega punar diletakkan di ethuk dan diletakkan di empat 
penjuru pematang sawah (salah satunya di uangan ) dan satu ethuk 
diletakkan di tengah sawah sebagai pusat keselamatan. 

Dalam ritus ini mema kn ai bahwa ritual ini wujud petani dalam 
memenuhi ngidam nya padi yang berupa Rujak Letog dan Sega Punar. 
Selamatannya juga memakai Tumpeng Pecel Pitik dengan menyertai 
duwo memohon keselamatan atas padi-padi yang ditanam agar terbebas 
dari hama penyakit. 

Methik. Upacara methik dilakukan pada waktu petani akan panen. 
Kata methik artinya memotong tangkai padi, juga dapat diartikan 
’menjemput’. Dalam hal ini dapat diartikan, upacara methik adalah 
menjemput Dewi Sri, dewi padi. Upacara ini dilakukan untuk meng- 
hormati Dewi Sri dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas 
karunianya diberi hasil panen yang melimpah. 

Perlengkapan sesaji untuk ritual methik ini antara lain: nasi 
tumpeng (nasi golong dengan lauk pauk), kendhi berisi air putih, 
pisang setangkep, sebatang tebu, gembili, uwi, kacang, jadhah putih, 
jenang abang, lepat lepet, bunga telon dan godhongan. Tangkai padi 
yang dipotong dibawa pulang, disimpan untuk campuran bibit padi 
tanam berikutnya. 

Labuh Nggampung. Ritus selanjutnya adalah labuh nggampung, 
awal dari sebuah panen padi. Banyak ekspresi dalam melakukan 
ritual ini karena pesan dari nenek moyang yang bemadzar berbeda- 
beda. Tetapi, pada umumnya cara melakukan ritual ini sama, yakni 
memotong beberapa tangkai padi kemudian dikel abang (dijalin) 3 
lanjaran seperti mengelabang rambut manusia, kemudian diminyaki, 
dibedaki, diberikan kaca layaknya wanita berhias, kemudian ditalikan 
kinangan (sirih yang diberi kapur lalu dilipat-lipat), uang gobang, lalu 
juga ditalikan bunga pecari atau sundel yang berwarna putih. 

Sedekah slametannya adalah menggunakan Tumpeng Pecel Pitik 
dan diduwoni dengan keselamatan agar padinya dan para pemanennya 
selamat semua. Ada beberapa kasus yang pada selametan labuh 
nggampung didahului dengan permainan tajen atau aduan ayam 
jago. Para pemegang atau orang yang ikut memanen padi haras 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri j 115 



meminum arak sebagai syarat, meskipun sedikit. Ayam yang kalah 
akan dimasak Uyah Asem yang nantinya disuguhkan kepada orang- 
orang yang membantu labuh nggampung. Dalam kasus ini wragade 
(kelengkapannya) adalah tape buntut, arang-arang, jenang dodol, 
apem mbleg, gedang goreng, coloki menyan, dan wanci kinangan. 

Dalam tulisan Indiarti dkk., (2013: 92) dijelaskan bahwa Labuh 
Nggampung merupakan prosesi kegiatan panen yang diawali dengan 
doa sebagai bentuk rasa syukur bahwa tanamannya memberikan hasil 
yang baik. Dalam prosesi ini yang harus disiapkan adalah lawe, bedak, 
cermin kecil, jarit kuwung, sisir, kembang telon (bunga tiga warna). 
Semuanya itu diletakkan di ruangan agar roh penjaga padi (Dewi Sri) 
memakainya untuk berhias. Prosesi ini juga dulunya dimanfaatkan oleh 
warga untuk mengadakan tunangan (bakalan). Pasangan yang akan 
bertunangan didandani dengan pakaian khas Using lalu melaksanakan 
prosesi di tengah sawah yang padinya sedang dipanen. Hidangan yang 
dibuat adalah kue-kue sederhana seperti pisang goreng, nagasari, tape 
buntut, ketan rokok, apem bleg, kucur, dan lain-lain. 

Ngunjal dan Nylameti Lumbung. Dalam tulisan Indiarti dkk., 
(2013: 92) dijelaskan bahwa prosesi ngunjal adalah proses mengangkut 
padi ke rumah sebagai bentuk syukur atas panen melimpah dan bisa 
dibawa pulang. Zaman dahulu ketika lumbung masih menjadi satu 
kesatuan dan bagian dari kehidupan petani, maka diadakan Nylameti 
Lumbung. Selamatan ini sedekahnya berupa: tumpeng srakat dan 
jenang abang. Sedangkan sandingannya ( sesajen ) berupa: banyu arum, 
pitung tawar, lenga klenthik, garu, wedak. Semua sandingan tersebut 
diletakkan di atas padi yang telah diikat secara ringgian. 

C. Kondisi Kekinian Masyarakat Using 

Secara administratif komunitas Using berdomisili di Kabupaten 
Banyuwangi sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Provinsi 
Jawa Timur. Beberapa abad yang lalu wilayah yang sekarang dikenal 
sebagai Kabupaten Banyuwangi ini merupakan wilayah utama dari 
kerajaan Blambangan. Menurut Scholte, komunitas Using berlcaitan 
erat dengan sejarah Blambangan (Suprijanto, 2002:13). Demikian 



116 ! Komumtas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



pula menurut Leckerkerker (Suprijanto, 2002:13), orang-orang Using 
adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. 

Dalam lingkup yang lebih luas Using merupakan salah satu 
bagian sub-etnis Jawa. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Using 
merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan yang berkembang di wilayah 
daerah ujung timur Pulau Jawa (Suprijanto, 2002:13). Namun kini 
kondisi wilayah pemukiman orang Using makin lama makin mengecil, 
dan jumlah desa yang masih mempertahankan adat istiadat Using juga 
makin berkurang. Menurut Pur (wawancara, Februari 2015), dari 21 
Kecamatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi tercatat hanya tinggal 
8 kecamatan saja yang masih menjadi kantong atau basis kebudayaan 
Using. Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Giri, 
Glagah, Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, during, Singojuruh dan Sragi. 
Menurut Has, jumlah orang Using saat ini mengalami penurunan bila 
dibandingkan pada tahun 1980. ”Jika dipersentase jumlah orang Using 
sekarang ini sekitar 56 % dari penduduk Banyuwangi” (wawancara 
dengan Has, Februari 2015). Hal ini disebabkan oleh terjadinya 
fenomena modernisasi yang berkembang di Banyuwangi. Fenomena 
yang muncul di kota, orang ’’Using” meluarkan diri dan orang ”luar” 
mengusingkan diri. Kecenderungan yang terjadi di kota, orang Using 
sudah jarang menggunakan bahasa Using sebagai bahasa percakapan 
sehari-hari. Mereka baru menggunakan bahasa Using saat di rumah 
sedangkan di luar rumah mereka menggunakan bahasa Indonesia. 
Padahal masyarakat luas pada umumnya mengenali identitas orang 
Using dari bahasa tutur yang memiliki ciri dan karakteristik tersendiri. 
Fenomena inilah yang kemudian menyulitkan untuk melakukan 
pendataan penduduk komunitas adat Using. 

Menurut Pur, seorang tokoh adat Using, saat ini daerah yang 
masih memiliki dan mempertahankan budaya, adat-istiadat dan seni 
tradisional Using semakin berkurang dan mengecil. Menurut Indiarti 
(2015: 141), komunitas adat Using yang masih bertahan hingga saat 
ini yaitu Komunitas Adat Mangir, Cungking, Grogol, Kemiren, Dukuh, 
Glagah, Andong, Olehsari, Mandaluka, Bakungan, Macan Putih, 
Tambong, Aliyan, dan Alasmalang. Indiarti lebih lanjut menjelaskan 
bahwa komunitas-komunitas adat tersebut memiliki beberapa ciri 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri j 117 



yang umum yaitu: 1) menggunakan bahasa Using; 2) memiliki 
Buyut ( danyang desa); 3) bersifat homogen karena pada umumnya 
melakukan perkawinan dengan orang dari desa yang sama; 4) masih 
menjalankan ritual bersih desa; 5) meyakini kepercayaan yang diwarisi 
dari leluhumya; dan 6) mayoritas penduduknya memiliki pekerjaan 
dalam bidang pertanian. 

Dari 14 komunitas adat yang ada, yang masih kental menjalankan 
tradisi Using adalah Komunitas Adat Kemiren di Kecamatan Glagah, 
sehingga memunculkan sebutan Desa Kemiren sebagai central atau 
pusat Using. Berdasarkan penyebaran demografinya, semakin men- 
dekati kota, komunitas adat Using akan menjadi semakin padat. Hal 
ini disebabkan oleh faktor sejarah dari Banyuwangi sendiri, sedangkan 
semakin ke arah utara semakin berkurang karena mendekati wilayah 
campuran dengan Madura. 

1. Pandangan Masyarakat Using Terhadap Komunitasnya 

Komunitas Using terbentuk melalui proses sosial politik yang 
cukup panjang, penuh ketegangan dan konflik antara penduduk dengan 
penguasa Banyuwangi di satu pihak dan di pihak lain antara penduduk 
dengan penguasa Jawa bagian barat ( wong kulonan ) dan Bali di pihak 
lain. Secara historis Banyuwangi merupakan pusat kekuasaan politik 
dari kerajaan Blambangan yang memiliki kekayaan yang cukup 
menggiurkan bagi daerah lain untuk menguasainya. Demikian halnya 
dengan VOC, yang kemudian berhasil menaklukkan Banyuwangi. 
Pada masa penguasaan VOC, Belanda kemudian memboyong tenaga 
kerja dari Cirebon, Banyumas dan Kebumen untuk dipekerjakan 
di perkebunan-perkebunan milik Belanda yang ada di wilayah 
Blambangan pada abad 18-19. Dan tidak hanya dari Jawa bagian barat 
saja, migrasi serupa juga datang dari Madura, Bali, Bugis, dan Mandar 
sehingga Banyuwangi tidak lagi dihuni oleh komunitas Using yang 
homogen melainkan telah bercampur dengan berbagai pendatang. 
(Anoegrajati, ’’Seblang Using: Studi Tentang Ritus Dan Identitas 
Komunitas Using”, diunduh dari https://osingkertaraiasa.wordpress. 
com/identitas-komunitas-using/ . diunduh pada tgl 13 Agustus 2015). 



118 j KomumtasAdat Using DesaAliyan Rogojampi Banyuwangi 



Gelombang pendatang yang masuk ke wilayah Banyuwangi me- 
munculkan greget bagi orang Using untuk mencuatkan penegasan 
identitas orang Using. Penegasan identitas diri ini terlihat sangat urgen 
bagi komunitas Using, terdapat keengganan bahkan ketidakmauan orang 
Using untuk mengidentifikasikan diri sebagai orang Jawa. Keengganan 
ini terlihat dalam beberapa hal antara lain penggunaan bahasa Using, 
adanya panggilan-panggilan yang khas yang memunculkan sebutan 
wong Banyuwangi asli. Panggilan khas tersebut antara lain lare 
(Orang), jebeng thulik (panggilan khas anak muda Banyuwangi, 
beng (jebeng) = perempuan, lik (thulik) = laki-laki) (Using) ( www. 
ratjoen.in/20 1 1/03/kamus-bahasa-osing-banyuwangihtml, diunduh 13 
Agustus 2015). Bahkan kata Banyuwangen dan wong Blambangan 
hingga kini masih sering terdengar. Selain itu mereka juga membangun 
dan mengembangkan ritus dan kesenian. Meskipun ritus dan kesenian 
yang ada memperlihatkan keterpengaruhan dari Jawa dan Bah, namun 
kesenian tersebut mempresentasikan wawasan dan sikap orang Using 
yang egaliter dan members itkan semangat marjinalitas (Anoegrajati, 
’’Seblang Using: Studi Tentang Ritus Dan Identitas Komunitas 
Using”, diunduh dari https://osingkertarajasa.wordpress.com/identitas- 
komunitas-using/ . diunduh pada tgl 13 Agustus 2015). 

Menurut Pur pandangan orang Using diantara komunitas orang 
Using, adalah selama orang itu masih mau mengakui dan melaksanakan 
adat budaya Using ya itulah yang disebut dengan ’’orang Using”. Jika 
ditelaah lebih lanjut hal ini menunjukkan bahwa meskipun orang itu 
telah merantau jauh ke luar daerah namun mereka masih mengakui 
dan melaksanakan adat budaya Using maka orang itu masih menjadi 
’’Orang Using” sebaliknya meskipun dekat atau tinggal di komunitas 
Using namun ia sudah tidak mengakui dan melaksanakan adat budaya 
Using berarti sudah tidak menjadi bagian dari orang Using lagi 
(wawancara Pak Pur Februari 2015). 

Komunitas Using sendiri tidak mengenal status sosial. Masyarakat 
Using tidak mengenal pengelompokan masyarakat berdasarkan status 
sosialnya karena di dalam sejarah Using tidak ada riwayat keturunan 
dari kerajaan seperti yang ada di Jawa Mataraman (Yogyakarta-Solo). 
Masyarakat Jawa Mataraman (Yogyakarta-Solo) yang masyarakatnya 



Ritual Keboan Desa Aliy an Pasca Matisuri j 119 



terdiri dari berlapis-lapis susunan dari kaum bangsawan hingga rakyat 
biasa. Karakter yang berlapis-lapis tersebut mempengaruhi dalam 
struktur bahasa dimana dalam bahasa Jawa terdiri dari tiga yakni 
ngoko, krama dan krama inggil dengan penggunaan bahasa disesuaikan 
dengan tingkatan orang yang diajak berbicara baik dalam status sosial 
maupun faktor usia. Berbeda halnya dengan bahasa Using, di Using 
bahasa tidak mengenal pelapisan atau strata. Dalam percakapan sehari- 
hari bahasa yang digunakan oleh orang Using tidak ada pembedanya 
antara percakapan antara anak dengan orang tua atau dengan orang 
yang lebih tua maupun antara orang tua dengan anak. Ini menunjukkan 
bahwa masyarakat Using mempunyai kedudukan yang sama tanpa ada 
pembedaan status sosial, antara yang kaya dan yang miskin tidak ada 
bedanya bagi masyarakat Using (wawancara dengan Pak Pur, Februari 
2015) 

Sebagian besar orang Using mampu berbahasa Jawa secara baik 
ngoko maupun karma. Namun sehari-harinya orang Using dalam 
berkomunikasi menggunakan bahasa Using yang dalam bahasa se- 
tempat dikenal sebagai bahasa Banyuwangian atau basa Using. 
Menurut Stoppelaar dan Pigeaud bahasa yang digunakan sebagian 
penduduk Banyuwangi disebut bahasa Using yang berbeda dengan 
bahasa Jawa dalam hal ucapan dan kosa kata. Jumlah penutur bahasa 
Using terbanyak dari jumlah penduduk daerah ini. Dewan Kesenian 
Blambangan menyebutkan hasil sensus 1990 Dari 1,45 juta penduduk 
Kabupaten Banyuwangi penutur bahasa Using 53%, bahasa Jawa 
39,5%, lain-lain 1,5% (Anoegrajekti, 2006: 75-77). 

Bahasa Using dewasa ini mulai jarang digunakan saat di luar rumah. 
Bahasa using lebih banyak digunakan saat di rumah, sedangkan saat 
di luar rumah mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. 
Menurut salah satu infonnan Pur, di Glagahsari masyarakat yang masih 
menggunakan bahasa Using adalah warga yang berusia 40 tahun ke 
atas sedangkan warga yang usianya dibawahnya sudah mulai jarang 
menggunakan bahasa Using. Fenomena ini menunjukkan terjadinya 
pergeseran budaya. Jika tidak segera diantisipasi maka identitas Using 
lama kelamaan akan menjadi hilang. Mengingat bahasa Using menjadi 
penanda yang paling mudah untuk langsung mengenali orang Using 



1 20 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



karena bahasa Using memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah 
lain. Ciri khas bahasa Using akhiran i = ae, akhiran u = ak (wawancara 
Pak Pur, Februari 2015). 

Masyarakat Using memiliki gaya hidup yang sederhana. Mereka 
mempunyai prinsip hidup bahwa mereka tidak ingin dikenal orang 
dalam hal berbuat baik kepada sesama, bagi mereka apa untungnya 
dikenal orang. Bagi mereka berbuat kebaikan tidak perlu diperlihatkan 
kepada banyak orang, cukup orang yang dibantu dan Tuhan saja yang 
tahu. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Using juga menerapkan 
prinsip-prinsip hidup yang berpegang pada ajaran hidup yang baik. 




Foto 34. Ajaran hidup (Doc.Tim Peneliti) 



Filosofi hidup yang berpegang pada ajaran Jawa, yang secara tidak 
sengaja peneliti temukan di rumah salah satu warga yang tinggal di 
Dusun Sukodono, Desa Aliyan. Falsafah atau filosofi tersebut sangat 
sederhana namun di dalamnya memiliki makna yang cukup mendalam 
bila dilaksanakan oleh masing-masing individu dalam kehidupan 
sehari-hari. Apabila masing-masing individu mampu menerapkan 
dalam kehidupannya maka akan tercipta keselarasan hidup yang penuh 
dengan keharmonisan. Isi dari filosofi hidup tersebut antara lain: 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 121 



Aja nyulayani janji 


Jangan pemah ingkar janji 


Nuruta dalan kang bener 


Ikutilah jalan yang benar 


Cawisa ilmu kang becik 


Berikanlah ilmu yang berguna 


Rasa rumangsa Padha tindhakna 


Berbuatlah saling hormat menghormati 


Kahanan donya ora langgeng 


Keadaan dunia tidak abadi 


Dalane pangan kudu waspada 


Usaha mencari rezeki dengan cara yang halal 


Tata titi tentrem padha utamakna 


Utamakanlah hidup aman, damai dan tenteram 


Sejatine Alloh iku kuwasa 


Sebenarnya Allah itu Maha Kuasa 


Watak cidra padha singkirara 


Sifat jahat harus dihindari 


Lanang wadon tumindaka becik 


Laki perempuan berperilakulah yang baik 


Pangupa jiwa kudu waspada 


Mencari rezeki yang halal 


Dasare pada kang prihatin 


Pada dasamya hidup prihatin 


Jagade menungsa kudu rumasa 


Manusia adalah makhluk yang lemah 


Yang Maha Agung sifat Adil 


Yang Maha Agung bersifat adil 


Nyatakna, aja gampang percaya 


Nyatakanlah, jangan mudah percaya 


Menungsa kudu duwe panarima 


Manusia harus memiliki sifat bersyukur 


Gawea panutan Budi luhur 


Jadilah contoh yang baik 


Bebarengan aja dumeh bangsa 


Jangan sombong 


Tukule urip saka barang ghoib 


Lahimya kehidupan berasal dari yang gaib 


Ngolah ngalih Utah mung saderma 


Manusia yang menjalankan, Tuhan yang menentukan 



Dalam ajaran hidup tersebut, manusia diharapkan selalu ingat 
kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kehidupan. Dan 
manusia harus menyadari bahwa ia makhluk yang lemah yang rentan 
terhadap godaan-godaan duniawi. Untuk itu manusia hendaknya selalu 
berbuat kebaikan dan menghindari sifat-sifat yang jahat. Berbuat baik 
dalam menjalin hubungan dengan sesamanya, dan dalam mencari 
rezeki menggunakan cara yang halal. Dan selalu mengingat bahwa 
yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara dan tidak abadi untuk itu 
seyogyanya manusia harus selalu bersyukur dengan apa pun keadaan 
yang sedang dihadapinya. 

2. Pandangan Tentang Kelestarian Tradisi 

Pengertian tradisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 
(1995:1069) adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang 
yang masih dijalankan dalam masyarakat. Sedangkan menurut Ahimsa 
(Purwaningsih, 2011: 373) tradisi adalah sejumlah kepercayaan, 



1 22 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



pandangan atau praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak 
melalui tulisan (biasanya secara lisan atau lewat contoh tindakan), 
yang diterima oleh suatu masyarakat atau komunitas sehingga menjadi 
mapan dan mempunyai kekuatan hukum. Dari tradisi yang berkembang 
di dalam suatu masyarakat tersebut terkadang memunculkan suatu 
identitas yang kemudian identitas tersebut melekat dalam masyarakat. 

Identitas budaya suatu masyarakat tertentu tersebut kemudian 
menghadirkan pandangan atau stereotipe. Begitu pula halnya 
dengan identitas budaya Using, dari identitas yang ada kemudian 
memunculkan pandangan dari orang luar, yang memberikan persepsi 
negatif terhadap orang Using. Menurut pandangan orang luar, orang 
Using dipandang sebagai sosok yang kasar (tidak punya tata krama), 
maunya menang sendiri, longgar dalam nilai terutama yang terkait 
dengan hubungan antar lawan jenis, dan memiliki ilmu gaib destruktif 
yang disebut santet, pelet, sihir dan sebagainya. Pandangan negatif ini 
muncul karena sebagian besar dari masyarakat hanya mengetahui dan 
memahami sebagian kecil saja dari budaya Using. Masyarakat Using 
memang terkenal masih memegang teguh tradisi dan budayanya. 
Tradisi dan budaya yang kental dengan hal-hal yang mistis, yang 
kemudian seringkali memunculkan pandangan atau persepsi negatif 
orang luar terhadap orang Using. 

Tradisi dan kebudayaan Using yang masih bertahan yang dekat 
dengan hal-hal mistis diantaranya: 

a. Kepercayaan masyarakat tentang santet, pelet dan ilmu sihir. Ilmu 
pelet misalnya ilmu ini digunakan untuk memikat lawan jenis 
yang disukai. Persepsi yang berkembang di masyarakat orang 
yang terkena ilmu pelet ini maka orang tersebut tidak akan bisa 
menolak orang yang telah memeletnya. Menurut pandangan orang 
Using sendiri, ilmu pelet memang ada namun hal ini hanya akan 
berhasil jika orang yang dipelet itu suka sama suka, jika terjadi 
sebaliknya maka pelet itu juga tidak akan berhasil. 

b. Ritual Keboan di Desa Aliyan. Ritual keboan diyakini oleh 
masyarakat Using sebagai wujud syukur masyarakat agraris kepada 
Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang telah diberikan. Dalam 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri | 123 



ritual keboan pelaku ritual keboan berperilaku seperti layaknya 
kebo atau kerbau yang sedang dipekerjakan oleh petani untuk 
menggarap sawah atau lahan pertaniannya. Pelaku ritual tersebut 
melakukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri atau kesurupan 
{trance). 

3. Kemandirian Orang Using Dalam Sosial Budaya 

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai 
makhluk individu manusia memiliki sifat untuk memenuhi kebutuhan 
hidup pribadinya sendiri, namun dalam memenuhi kebutuhannya itu 
manusia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa ada 
bantuan dari individu lainnya, baik bantuan secara langsung maupun 
tidak langsung. Dalam relasinya dengan individu yang lain itu manusia 
juga menjadi terikat oleh suatu kebutuhan yang lebih komplek yakni 
kebutuhan kelompok atau masyarakat. 

Kehidupan sosial budaya orang Using nampak dalam keseharian 
mereka. Cara Using menunjukkan egaliterisme nampak pada tradisi 
slametan atau hajatan. Untuk penyelenggaraan slametan atau 
hajatan baik individual maupun kelompok, masyarakat Using tidak 
membedakan kategori kaya atau miskin dan status yang disandang 
oleh seseorang. Semua orang diperlakukan dan dihonnati dengan cara 
yang sama. Dalam penyelenggaraan slametan masyarakat Using selalu 
melibatkan para tetangga. Pengertian melibatkan para tetangga dalam 
hal ini, para tetangga saling membantu. Bentuk bantuan tidak hanya 
dalam bentuk materi saja tetapi juga tenaga. 

Seperti desa-desa yang lain, masyarakat Using Aliyanjuga dicirikan 
oleh semangat gotong-royong dalam segala hal. Budaya gotong-royong 
di Desa Aliyan tidak hanya menyangkut kepentingan umum seperti 
perbaikan jalan, pemugaran rumah warga, memperbaiki saluran irigasi, 
namun juga dalam hal hubungan pribadi seperti dalam hal hajatan. 
Tradisi sumbang menyumbang kepada warga yang mempunyai hajat 
masih berlaku sangat ketat. Kegiatan sumbang menyumbang ini antara 
lain hajatan perkawinan, kelahiran, khitanan, dan kematian. Tradisi 
sumbang menyumbang di Desa Aliyan ini disebut mbecek. Kegiatan 
sumbang-menyumbang sangat mengakar kuat pada masyarakat dan 



1 24 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



merupakan hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik ini dalam 
arti seseorang yang telah disumbang maka suatu saat nanti ia juga 
harus mengembalikan pada seseorang itu dengan jumlah yang besarnya 
sama dengan sumbangan yang pada waktu itu ia terima atau bahkan 
melebihinya. Apabila ada salah satu warga yang jarang membantu atau 
tidak pernah memberikan sumbangan, maka warga itu akan mendapat 
sangsi sosial yaitu berupa gunjingan dari warga yang lain. 

Di Desa Aliyan selain bentuk gotong-royong yang umum seperti 
yang telah disebutkan di atas, dalam kegiatan ritual komunal seperti 
ritual keboan masyarakat juga nampak guyup. Seperti yang kita 
ketahui bahwa dalam pelaksanaan ritual tentu saja membutuhkan 
tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk menyiapkan uba rampe 
yang diperlukan dalam rangkaian ritual. Sifat gotong-royong nampak 
terwujud sangat erat saat diselenggarakannya berbagai macam ritual 
adat. Berbagai keperluan dalam rangkaian ritual ditanggung secara 
swadaya oleh masyarakat. Masyarakat pun tidak keberatan saat di 
mintai bantuan karena mereka merasa ini adalah hajat mereka juga. 
Ba hk an masyarakat dengan suka rela menyerahkan hasil bumi seperti 
pisang, ketela, maupun kelapa untuk dijadikan sebagai hiasan gapura. 
Mereka pun siap untuk turut menyukseskan acara dan ini dilakukan 
tanpa pandang bulu dari anak-anak hingga orangtua baik laki-laki 
maupun perempuan semuanya bekerja sama. 





Cl |a 


t — - *• y * _ Jk 

W: - 


’ m i < 


Or ^ J? 






Wl ; 



Foto 35. ’’Gotong-royong' 

(Doc.LAA) 





Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 125 



Laki-laki mendapat bagian untuk mempersiapkan lokasi ritual 
seperti membuat kubangan, menyiapkan gunungan, dan membuat 
gapura, sedangkan ibu-ibu mendapat bagian urusan ’’belakang”, yakni 
menyiapkan uba rampe yang berkaitan dengan makanan. 

4. Eksistensi Budaya Using 

Kehidupan manusia dari masa ke masa terns bergerak dan ber- 
kembang. Perkembangan kehidupan manusia mempengaruhi pola 
pikir manusia sehingga menimbulkan perkembangan pula dalam 
kebudayaannya. Demikian halnya dengan Banyuwangi. Banyuwangi 
kaya akan warisan budaya leluhur. Kekayaan budaya tersebut hingga 
kini masih tetap terpelihara dengan baik. Dengan banyak munculnya 
penelitian-penelitian yang mengangkat kebudayaan Banyuwangi, 
telah menumbuhkan kesadaran akan arti penting kelestarian budaya 
Banyuwangi. Sebuah kesadaran akan pemilik kebudayaan Banyuwangi. 
Dalam hal ini pemilik kebudayaan Banyuwangi adalah orang Using. 
Orang Usinglah yang paling bertanggung jawab atas kebudayaan yang 
dimilikinya. 

Komunitas Using memiliki keanekaragaman budaya dengan corak 
yang unik dan khas telah menjadikan sebuah identitas yang dimiliki 
oleh Using. Semakin dalam kita menyusuri pelosok Banyuwangi, 
semakin banyak ditemukan berbagai keunikan adat tradisi yang hidup 
dan berkembang di kalangan masyarakat Using baik di bidang seni 
maupun ritual. Kebudayaan ritual yang berkembang di Using antara 
lain ritual adat kebo-keboan, koloan, seblang Bakungan, seblang 
Olehsari, gelar pitu, gelar songo, tradisi barong idher bumi, bersih 
desa, endhog-endhogan, geridhoan, ithuk-ithukan, kawin colong, 
mantu kucing, mbuang jangan, perang bangkat, petik laut, puter 
kayun, rebo pungkasan, rebo wekasan, resik lawon, sedekah lebaran 
(Setianto, tt). Sedangkan kesenian yang berkembang di Using antara 
lain, angklung paglak, angklung caruban, gandrung, kuntulan, 
kundaran, ma ’caan lontar yusuf, rengganis, hadrah caruk, jonggoan, 
rebana dan samroh, singa barong dan sebagainya (Herawati, 2004: 
17). Kesenian yang berkembang di Using secara filosofi sama namun 
yang membedakan antara kesenian dari komunitas Using yang satu 



1 26 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



dengan komunitas Using yang lain adalah variasinya. Masing-masing 
kesenian mempunyai variasi yang berbeda-beda di setiap komunitas 
Using. Dan sebagai identitas bersama diangkatlah seni gandrung. 
Pada tahun 1990 dengan terbitnya SK Bupati, gandrung telah resmi 
diangkat menjadi identitas bersama Banyuwangi. Berdasarkan SK 
Bupati tersebut jejeran gandrung digunakan sebagai tari penyambutan 
tamu Negara (wawancara dengan Pak Pur, Februari 2015). 

5. Strategi Ketahanan Budaya 

Keragaman dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh komunitas 
adat Using yang tersebar di wilayah Banyuwangi memiliki ketahanan 
yang nyaris rapuh. Tak sedikit pula budaya yang ada di komunitas adat 
Using mengalami ’goncangan’. Goncangan-goncangan yang meng- 
ancam keeksisan budaya Using yang telah ada sejak jaman nenek 
moyang mereka. Upaya komunitas adat Using di Banyuwangi dalam 
melestarikan warisan leluhur tidaklah mudah. Masuknya gempuran 
teknologi yang canggih dan informasi yang datang dari luar yang 
masuk secara terus-menerus menjadi ancaman yang serius bagi 
ketahanan budaya. Selain itu faktor pengaruh politik dan agama juga 
menyebabkan terjadinya dinamika dalam kebudayaan Using. Dalam 
perjalanannya kebudayaan Using mengalami pasang surut. 

Seperti halnya di Desa Aliyan tak luput dari ancaman tersebut, 
namun hingga saat ini tekad mereka untuk mempertahankan warisan 
leluhur mereka masih kuat. Diantaranya mereka masih mempertahankan 
ritual keboan, dimana ritual ini pernah mengalami kevakuman selama 
kurang lebih 8 tahun akibat ada konflik internal. 

Strategi ketahanan budaya sangat diperlukan untuk menghadapi 
’goncangan’ budaya. Strategi ketahanan budaya tersebut dilakukan 
dengan cara: 

Pembentukan Lembaga Adat. Penguatan adat dapat ditempuh 
dengan mendirikan lembaga adat. Salah satunya dengan berdirinya 
Lembaga Masyarakat Adat Using (LMAU) yang bermarkas di Rumah 
Budaya Using (RBU) yang berlolcasi di Kemiren. Lembaga Masyarakat 
Adat Using (LMAU) ini sebagai wadah yang mewadahi komunitas adat 



Ritual Keboan Desa Aliyan Pasca Matisuri \ 127 



Using yang ada di Banyuwangi. Melalui Lembaga Masyarakat Adat 
Using (LMAU) ini setiap permasalahan dan kendala yang dihadapi 
oleh komunitas adat Using ditampung dan dicarikan solusinya secara 
bersama-sama. Dan kedepannya nanti di masing-masing komunitas 
adat memiliki lembaga adat sendiri yang akan semakin memperkuat 
keberadaan komunitas adat mereka dengan Lembaga Masyarakat Adat 
Using (LMAU) sebagai induknya. 

Penguatan Intern Masyarakat Adat. Penguatan juga dilakukan 
dalam intern masyarakat adat sendiri. Masyarakat yang merupakan 
akar dari budaya itu sendiri. Diibaratkan seperti tanaman jika akarnya 
tidak kuat maka tanaman itu akan mudah roboh. Demikian pula 
dengan kebudayaan, jika masyarakat pendukungnya sendiri tidak 
peduli maka kebudayaan itu juga akan menjadi rapuh. Maka untuk 
menguatkan akar tersebut diantaranya dengan memberikan bimbingan 
dan regenerasi. Seperti halnya yang dilakukan oleh Pur, melalui 
tangannya ia mengenalkan ma ’caan kepada anak-anak setingkat SD 
disekitar rumahnya dan membentuk kelompok musik anak-anak, selain 
itu ia juga mengajarkan ma’caan di sekolah-sekolah. Dan respon dari 
mereka pun sangat memuaskan. 




Foto 36. ”Regenerasi”pengenalan budaya Banyuwangi (doc.Tim Peneliti) 



BABY 



PENUTUP 



A. Kesimpulan 

Persepsi atau pandangan masyarakat Using Desa Aliyan terhadap 
lingkungan alam di sekitarnya merupakan suatu hal yang penting. 
Bagi mereka lingkungan alam khusunya sawah dan tanah perbukitan 
merupakan sumber penghidupan masyarakat Using Aliyan. Dalam 
mengelola lingkungan alamnya tersebut berpedoman pada pengetahuan 
yang ia peroleh secara empirik. Dari sini ia mendapat pengetahuan 
bahwa supaya lahan garapan tidak tandus siklus menanamnya 
harus diselingi dengan tanaman palawija. Berdasarkan pengalaman 
empiriknya ini petani Using Aliyan juga mengetahui jenis-jenis tanah 
yang subur dan tidak subur. Misalnya tanah yang subur warnanya 
kecoklatan, abu-abu kehitaman, gembur, hitam legam, lembut mawur 
yang disebut lemah cepeng. Supaya tanah terpelihara kesuburannya, 
mengolahnya dengan disingkal, dipacul, dipupuk kotoran kambing 
dan dikombinasi dengan pupuk kimia sedikit. 

Dalam mengelola kekayaan lingkungannya, lahan sawah ditanami 
tanaman pangan padi, yang menjadi andalan utama dan merupakan 
penyangga kehidupan yang sangat penting bagi manusia. Sawah Desa 
Aliyan seratus persen sangat tergantung pada air irigasi. Tanaman padi 
yang sangat dipengaruhi oleh air, varietas padi, hama, pupuk, menjadi 
faktor risiko terjadi gagal panen yang harus dihadapi petani. Oleh 
karenanya petani juga belajar dari pengalaman yang diberikan oleh 
nenek moyangnya yaitu bahwa padi ada dewi pelindungnya yang disebut 
Dewi Sri sebagai danyang pcrsawahan . Petani Aliyan juga mengetahui 
bahwa kehidupan alam semesta harus dijaga keseimbangannya yang 



129 



130 J Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 



disebut mikrokosmos (jagad cilik ) dan makrokosmos tempat alam 
semesta {jagad gedhe). Hubungan antara jagat alus (supranatural) 
dan jagat kasar (manusia) ini diekspresikan dalam bentuk ritual-ritual, 
diantaranya ritual keboan. Dalam sistem religi mereka, Desa Aliyan 
dimiliki dan dilindungi oleh tokoh magis yang sangat dihormati yaitu 
Buyut Wongso Kenongo dan Buyut Wadung. Mereka juga percaya 
bahwa di sekelilingnya, di tempat-tempat tertentu bersemayam ’ roh 
goib\ Ritual keboan antara lain untuk menjembatani hubungan ma- 
nusia dengan danyang supaya mereka ikut menjaganya dan tidak 
mengganggu kehidupan warga Desa Aliyan. 

Ritual keboan dilaksanakan di antaranya adalah untuk menjaga 
keseimbangan hubungan dunia atas dan dunia bawah. Sehubungan 
dengan itu manusia memanfaatkan alam (dunia atas) untuk menunjang 
kehidupannya, salah satunya memanfaatkan lahan sawah. Lahan sawah 
sangat tergantung pada keberadaan air. Air merupakan sumberdaya 
yang penting bagi mahkluk hidup, khususnya dalam siklus kehidupan 
manusia. Untuk menunjang keberadaan air khususnya kebutuhan 
persawahan, masyarakat Aliyan tidak hanya lewat lembaga pembagian 
air yang diketuai jaga tirta (HIPPA), tetapi juga melalui ritual rebo 
wekasan, dan ritual keboan. Kedua ritual ini diadakan salah satunya 
berpengharapan supaya air tetap mengalir melimpah untuk kebutuhan 
warga Desa Aliyan. 

Upacara keboan merupakan simbolisasi relasi petani - leluhur - 
kerbau - Dewi Sri. Upacara keboan memaknai penghormatan ma- 
syarakat Using Aliyan terhadap tokoh mistis Buyut Wongso Kenongo 
dan Buyut Wadung yang dianggap sebagai pelindung Desa Aliyan. 
Upacara keboan juga mema kn ai bahwa warga masyarakat Desa Aliyan 
tidak lupa kepada leluhurnya. Sebagai petani yang hidupnya tergantung 
pada lahan sawah disamping secara fisik mengelola dengan baik, juga 
mereka harus menjaga ekosistem yang bersifat magis yang ada di 
dalamnya yaitu melakukan ritus-ritus yang ditujukan kepada Dewi Sri, 
dewi kesuburan yang penjaga sawah mereka. Masalah kesuburan juga 
tidak bisa lepas dari peran kerbau dalam menjaga kesuburan lahan 
sawahnya. 



Penutup \ 131 



Pelaksanaan tradisi ritual keboan sudah sejak lama mendapat 
perhatian dari para ulama Banyuwangi tak terkecuali di Desa Aliyan. 
Dua unsur budaya dalam prosesi ritual keboan Desa Aliyan yaitu ritual 
gelar sanga dan ritual ke makam ditentang keras karena bertentangan 
dengan kaidah-kaidah agama Islam. Sementara itu tafsir masyarakat 
adat Using Aliyan, kedua ritual tersebut merupakan inti dari ritual 
keboan selain ngurit. Sampai sekarang wacana dua tafsir yang berbeda 
dari dua unsur budaya tersebut masih berlangsung. 

Pelaksanaan ritual keboan yang matisuri beberapa waktu di 
samping faktor intern (Islam Vs adat), juga karena faktor ekstem 
(masalah politik, intervensi Negara). Ketidak berdayaan masyarakat 
Using yang tidak bisa melakukan tradisi ritual keboan dapat dimaknai 
bahwa hak adat mereka untuk melakukan tradisinya telah terciderai. 

Pada era kebangkitan adat sekitar tahun 1998, runtuhnya orde 
baru kala itu menjadi momentum penting bagi komunitas-komunitas 
adat di Indonesia, mereka bangkit dari ketidakberdayaannya karena 
intervensi negara atau faktor politik, tanpa kecuali komunitas adat 
Using Banyuwangi. Tradisi ritual keboan dibekukan dalam waktu lama 
dan pada era kebangkitan adat, tradisi ritual keboan muncul kembali. 
Fenomena ini memberikan arti adanya penguatan keberadaan komunitas 
adat Using sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. 

Kelompok penggiat tradisi ritual keboan, maupun para pendukung 
budaya ini adalah pemeluk agama Islam yang sebagian besar melak- 
sanakan kewajiban agamanya. Hal ini menjadi poin tersendiri bagi 
kelompok yang tidak mendukung ritual tersebut, khususnya ulama 
yang dalam misinya digunakan sebagai langkah penyadaran yang sifat- 
nya menekankan untuk menggunakan agama Islam sebagai tuntunan 
dalam melaksanakan tradisi ritual keboan. 

Dilain pihak dilibatkannya ulama dalam lembaga adat ini men- 
jadi jalan bagi ulama untuk bisa lebih menyampaikan misinya meng- 
intervensi dua kegiatan dalam prosesi ritual keboan untuk dihilangkan 
atau diganti dengan kegiatan yang bernafaskan Island. Terjadinya 
pro-kontra dalam pelaksanaan ritual keboan di Aliyan, dan tindakan- 
tindakan di kedua belah pihak mengisyaratkan adanya dialog yang 



132 J Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 



menuju ke kompromi-kompromi untuk kelestarian budaya adat 
masyarakat setempat. 

Dampak dari dihentikannya ritual keboan menyebabkan hasil 
sawah atau hasil panen tidak bagus, banyak yang gabug. Tanaman 
padi sering diganggu oleh hama ulat, tikus, wereng dan kekeringan. 
Masyarakat Desa Aliyan menyikapi peristiwa ini dengan mengaitkan 
tidak dilakukannya ritual adat keboan. 

Pasca terjadinya penghentian ritual tersebut, pelaksanaan ritual 
keboan setelah vacum 8 tahun ada sedikit perubahan yang sifatnya 
penambahan dan ada pula penghilangan. Ritual keboan atau kebo- 
keboan dari waktu ke waktu, dari pelaksanaan ritual sederhana, 
kemudian semakin meningkat, ada tetabuhan dan tambahan sana- 
sini yang pada intinya untuk kemeriahan upacara keboan (bersifat 
profan). 

B. Saran 

Pelestarian ritual keboan di Desa Aliyan perlu digalakkan meng- 
ingat ritual tersebut merupakan peninggalan nenek moyang dan leluhur. 
Pelaksanaan ritual tersebut perlu ada kepedulian dari instansi terkait, 
karena tradisi tersebut merupakan asset daerah. 

Lembaga adat Using khususnya Aliyan perlu ada perhatian dan 
pemberdayaan. Melalui lembaga adat ini masyarakat adat bisa meng- 
ekspresikan kepedulian, kecintaan pada adatnya. Melalui lembaga ini 
pula perjuangan mereka untuk kemajuan masyarakat bersangkutan 
dapat diperjuangkan. 



DAFTAR PUSTAKA 



Abdullah, W. 1982. Pola Pemukiman Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 

Ahimsa-Putra, H.S. 2006. Monografi Komunitas Adat. Makalah 
Pedoman Inventarisasi. Jakarta 

. 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: 

Galang Press. 

Ampri, B.S, dkk. 2015. Membaca Tradisi Pertanian Masyarakat 
Using: Tatacara Pengolahan, Ragam Ritual, Ekspresi dan 
Makna Budayanya Dalam Buku Jagat Osing : Seni, Tradisi 
& Kearifan Lokal Osing. Banyuwangi: Lembaga Masyarakat 
Adat Osing Rumah Budaya Banyuwangi. 

Anoegrajekti, N. 2006. Gandrung Banyuwangi: Pertarungan Pasar, 
Tradisi, dan Agama Memperebutkan Representasi Identitas 
Using. Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Pengetahuan 
Budaya, Universitas Indonesia. 

Arbangiyah, R. 2012. Perubahan Pola Pertanian Rakyat di Desa 
Sembungan Dataran Tinggi Dieng 1985-199 5 . Skripsi. Fakultas 
Ilmu pengetahuan Budaya. Jakarta: Universitas Indonesia. 

Ardian, D.G. 2005. ’’Pertanian dan Pengetahuan Lokal”, dalam 
Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban oleh Jusuf 
Sutanto dan Tim (ed). Jakarta: Kompas. 

Ariani, Ch. 2012. ’’SeniTradisi Barong dan Mitologi Masyarakt Using”. 
Patrawidya, Vol.13, No. 3, Yogyakarta September 2012. 



133 



134 J Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 



Astono dan Ario Soembogo. 2005. ’’Budidaya Padi dalam Sistem 
Produksi Pertanian”, dalam Revitalisasi Pertanian dan Dialog 
Peradaban oleh Yusuf Sutanto dan Tim (editor). Jakarta: 
Kompas 

Badan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemerintah Desa Kabupaten 
Banyuwangi. 2013. Profil Desa Tahun 2012 Desa Aliyan 
Kecamatan Rogojampi. 

Beatty, A. 200 1 . Variasi Agama di Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. 
Jakarta: Murai Kencana. 

Biezeveld, R., 2010. ’’Ragam Peran Adat di Sumatra Barat’, dalam 
Adat Dalam Politik Indonesia oleh Davidson, J.S, dkk (eds). 
Jakarta: Obor Indonesia. 

Bourchier, D., 2010., ’’Kisah Adat dalam Imajinasi Politik Indonesia 
dan Kebangkitan Masa Kini” dalam Adat Dalam Politik 
Indonesia, oleh Davidson, J.S., dkk (eds). Jakarta: Obor 
Indonesia. 

Budiman, H (Ed.) . 2007. Hak Minoritas Dilema Multikulturalisme di 
Indonesia. Jakarta: The Interseksi Foundation. 

Darmaputra, E. 1992. Pancasila: Identitas dan Modernitas. Jakarta: 
PT BPK Gunung Mulia 

Davidson, J.S., dkk (eds)., 2010. Adat Dalam Politik Indonesia. 
Jakarta: Obor Indonesia. 

Fadillah, M.A., 2010. ’’Kerbau dan Masyarakat Banten: Perspektif 
Etno Historis”. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah 
Provinsi Banten. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 
2010 (dalam kerbaul0-4.pdf). 

Farisa, T.L. 2010. Ritual Petik Laut dalam Arus Perubahan Sosial di 
Desa Kedungrejo, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Skripsi. 
Yogyakarta: Fakulas Ushuluddin Universitas Islam Negeri 
Sunan Kalijaga. 

Geertz, C.1983. Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi Di 
Indonesia. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. 

Harsapandi, dkk.2005. Suran Antara Kuasa Tradisi dan Ekspresi Seni. 
Yogyakarta: Pustaka Marwa. 



Daftar Pustaka j 135 



Henley, D., dan Jamie Davidson., 2010. ’’Pendahuluan: Konservatisme 
Radikal-Aneka Waj ah Politik Adat”, dalam Adat Dalam Politik 
Indonesia, oleh Davidson, J.S, dkk (eds). Jakarta: Obor 

Herawati, I, dkk. 2004. Kearifan Lokal Di Lingkungan Masyarakat 
Using Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur. 
Yogyakarta: Kementerian Kebudayaan Dan Pariwisata, 

Deputi Bidang Pelestarian Dan Pengembangan Kebudayaan, 
Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 
Proyek Pemanfaatan Kebudayaan Daerah Daerah Istimewa 
Yogyakarta. 

Herriman, N. 2013. Negara VS Santet: Ketika Rakyat Berkuasa. 
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 

Indiarti, W, dkk. 2013. Pengembangan Program Desa Wisata dan 
Ekowisata Berbasis Partisipasi Masyarakat di Desa Kemiren 
Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi: Laporan Penelitian 
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten 
Banyuwangi. 

. 2015. ’’Kajian Mengenai Desa Kemiren Sebagai 

Penyangga Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Osing”, 
dalam Jagat Osing: Seni, Tradisi Dan Kearifan Lokal Osing. 
Banyuwangi: Lembaga Masyarakat Adat Osing, Rumah 
Budaya Osing. 

Indiyanto, A. 2014.”Kontinuitas dan Diskontinuitas dalam Ritual 
Mendhak di Tlemang Lamongan”, dalam Patrawidya, Vol.15, 
No. 2, Yogyakarta Juni 2014. 

Koentjaraningrat, 1974. Antropologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka. 

, 1978. Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan. 

Jakarta: Gramedia. 

Munawaroh 2013. ’’Fungsi Sumber Bagi Masyarakat Using Desa 
Kemiren”, Patrawidya Vol.14, No.l, Yogyakarta Maret 2013. 

, 2011. ’’Konsep Tata Ruang Rumah Tinggal Pada 

Masyarakat Using”. Patrawidya, Vol. 12, No. 2, Yogyakarta 
Juni 2011. 



136 j Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 



2004. ’’Masyarakat Using Banyuwangi, Studi Tentang 

Kehidupan Sosial Budaya”. Patrawidva, Vol. 5, No. 4, 
Yogyakarta Desember 2004. 

Nazir, M. 1985. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia 

Nurtjahyo, J.A., 2005. ’’Dari Ladang Sampai Kabinet: MengingatNasib 
Petani”, dalam Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban, 
oleh Yusuf Sutanto dan Tim (editor). Jakarta: Kompas. 

Prasetya, P, 1984. Identifikasi Beberapa Faktor Kondisi Petani Yang 
Mempengaruhi Pendapatan Petani dari Usaha Tani Lahan 
Kering. Yogyakarta: Tesis Fakultas Pasca Sarjana UGM. 

Prasetyo, E. dan Siswanto. 2015. Tradisi Keboan Aliyan & Keboan- 
Keboan Alasmalang. Banyuwangi: Dinas Kebudayaan dan 
Pariwisata. 

Purwaningsih, E. 2011. “ Panjer Filing : Tradisi Masyarakat Using 
Banyuwangi, Jawa Timur.” Patrawidya, Vol. 12, No. 2 
Yogyakarta Juni 2011 

Radam, N.H., 2001. Religi Orang Bukit. Yogyakarta: Semesta 

Redfield, R. 1982. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Jakarta: 
Rajawali. 

Setianto, E.B.tt. Bunga Rampai : Ritual Adat Dan Tradisi Masyarakat 
Banyuwangi. Banyuwangi: Dinas Kebudayaan dan 

Pariwisata. 

Siswanto dan Eko Prasetyo., 2009. Tradisi Keboan Aliyan dan Kebo- 
Keboan Alasmalang. Banyuwangi: Dinas Kebudayan dan 
Pariwisata. 

Spradley, J.P., 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : Tiara Wacana. 

Suhalik. 2015. ’’Menggali Kearifan Lokal Masyarakat Osing Dalam 
Mengelola Sumberdaya Osing”, dalam Jagat Osing: Seni, 
Tradisi Dan Kearifan Lokal Osing. Banyuwangi:Lembaga 
Masyarakat Adat Osing, Rumah Budaya Osing. 

Suhardi. 2009. Ritual: Pencarian Jalan Keselamatan Tataran Agama 
dan Masyarakat Perspektif Antropologi . Pidato Pengukuhan 
Jabatan Guru Besar Antropologi pada Fakultas Ilmu Budaya 
Universitas Gadjah Mada. 



Daftar Pus taka J 137 



Sukari. 2004. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Tengger 
Pasuruan Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah 
dan Nilai Tradisional. 

Sumintarsih dkk. 1993/1994. Kearifan Tradisional Masyarakat Pe- 
desaan Dalam Hubungannya Dengan Pemeliharaan Ling- 
kungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: 
Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia 

Sumintarsih dan Ariani, C. 2007. Kearifan Tradisional Masyarakat 
Pedesaan Dalam Pemeliharaan Lingkungan Alam Di Kabu- 
paten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat 
Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film 

Sumarsih, S. 2009. ”Aum Tandur dan Aum Panen”, dalam Patrawidya, 
Vol.10, No. 3 Yogyakarta September 2009. 

Sunjata, P. 2007. Fungsi dan Makna Upacara Tradisional Kebo- 
Keboan di Banyuwangi. Yogyakarta : Efa Publisher. 

Syaiful, M,dkk.2015. Jagat Osing: Seni Tradisional dan Kearifan 
Lokal Osing. Banyuwangi Rumah Budaya Osing - Lembaga 
Masyarakat Adat Osing Desa Kemiren Kecamatan Glagah, 
Banyuwangi. 

Tim Penyusun Kamus PPPB. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 
Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka 

Triguna, Y. 2005. ’’Prospek Kebudayaan Pertanian Dalam Kehidupan 
Kesejagadan”, dalam Revitalisasi Pertanian dan Dialog 
Peradaban, oleh Yusuf Sutanto dan Tim (editor). Jakarta: 
Kompas. 

Wolf, E. 1983. Petani: Suatu Tinjauan Antropologis . Jakarta: YIIS 

Sumber Internet: 

Anoegrajati, N. ’’Seblang Using: Studi Tentang Ritus Dan Identitas 
Komunitas Using”, https://osingkertarajasa.wordpress.com/ 
identitas-komunitas-using/, diunduh tgl 13 Agustus 2015, pkl 
14:10 



138 j Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 



banyuwangikab.go.id/profil/sejarah.singkat.html, diunduh 20 April 
2015). 

Fadilah, M.A. 2010. Kerbau dan Masyarakat Banten: Perspektif 
Etno-Historis (Buffalo and Banten People: An Ethnohistory 
Perspective). Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau 2010, 
dalam Kerbau 10-4.pdf 

Hasan Sentot http://hasansentot2008.blogdetik.eom/2009/0 1/1 5/ada- 
apa-dengan-wong-using/ diunduh hari Rabu, 6 Mei 2015 
http://karsono.staff.fkip.uns.ac.id/20 10/1 1/01/kebo-keboan-ritus- 
totem-banyuwangi, diunduh 08 Juni 2015 
https://padangulan.wordpress.com/2011/06/09/ 
http://sipadu.isi-ska.ac.id/mhsw/laporan/laporan_3422141203232733. 
pdf 

https://tatakelolahutan.wordpress.com/2011/09/12, diunduh 25 Januari 
2014 

https://www.ymp.or.id/content/view/107/35/, diunduh 15 Desember 
2014 

Kholil, A. Kebo-Keboan dan IderBumi Suku Using: Potret Inklusivisme 
Islam di Masyarakat Using B anyuwangi, dalam Keboan.Osing 
1887-5203-l-PB.pdf 

Nuraini, S.https://syienaainie.blogspot.com/2010/ll/komunitas.html 
Sejarah Kebo-Keboan dan Sunan Giri Membangun Kebo Mas, https:// 
padangulan.wordpress. com/20 1 1/06/09/ 

Singgih, R.A.’Totemisme’ http://ajiraksa.blogspot.com/2011/05/ 
agama-primitif-totemisme . html 

Sularso, 2012.Kerbau dalam Logika Mitos dalam majalah cangkir 
edisi 03/6-7/2012 dalam tema ’’Totem” - majalahcangkir@ 
facebook.com 

Suprijanto, I. 2002. ’’Rumah Tradisional Osing: Konsep Ruang Dan 
Bentuk”, dalam Dimensi Teknik Arsitektur Vol.30, No.l, Juli 
2002: 10-20.pdf 

www.aman.or.id/file id=6, diunduh 25 Januari 2014 



DAFTAR ISTILAH 



Animisme 



Aum tandur 
Aum panen 



: Suatu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan 
adanya jiwa dalam benda-benda tertentu yang 
terdiri dari aktivitas-aktivitas keagamaan guna 
memuja ruh-ruh tadi. Pada tingkat tertua di 
dalam evolusi religinya manusia percaya bahwa 
mahkluk-mahkluk halus menempati alam 
sekeliling tempat tinggal manusia. 

: ritual tanam padi di Desa Muneng Warangan, 
Kabupaten Magelang 

: ritual panen padi di Desa Muneng Warangan, 
Kabupaten Magelang 



Badal 

Balumbun 

Buyut Wadung 

Buyut Wongso Kenongo 

Cengek-cengek 

Danyang 



orang yang bertugas membantu jaga tirta 
daerah yang memiliki banyak lumbung padi 
cikal bakal Dusun Sukodono 
cikal bakal Desa Aliyan 
suara seperti lenguhan kerbau 

arwah leluhur yang diyakini menghuni tempat- 
tempat keramat maupun pohon-pohon besar 



Dawuhan 
Dewi Sri 
Dinamisme 



bendungan kecil 
dewi padi 

Suatu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan 
kepada kekuatan sakti yang ada dalam segala 
hal yang luar biasa dan terdiri dari aktivitas- 
aktivitas keagamaan yang berpedoman kepada 



139 



140 j Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Ewuh pakewuh 

Gabuk 

Gandrung 



Gecok gempol 
Gelar sanga 



Gembrong 
Gitikan/tajen 
Golden triangle 

Gronjol 

Gumuk 

Guyangan 

HIPPA 



Idher bumi 
Inger-inger 



Jaga tirta 
Janger 

Jebeng (beng) 
Jebeng thulik 
Kebo 



kepercayaan tersebut, atau disebut juga prae- 
animism (Koentjaraningrat, 1974: 268). 

: perasaan sungkan 
: tidak berisi 

: tari pergaulan di mana yang menjadi pokok 
atau inti tarian adalah menari berpasangan dan 
bergantian 

: tumpeng yang diberi buah gempol diurap diberi 
gereh teri dan suwiran daging ayam 

: ritual selamatan dengan uba rampe terdiri dari 
sega/tumpeng kecil (9 Buah), beras kuning, kaca / 
pengilon kecil, urapan gecok gempol, dawet, 
miniatur binatang ekosistem sawah 

: tempat/wadah kerupuk 
: adu ayam jago 

: bekas-bekas istana kerajaan Blambangan yang 
terdiri dari Bayu, Macan Putih dan Lateng 

: jagung rebus 
: tanah yang berbukit-bukit 
: kubangan lumpur di sawah 

: Himpunan Petani Pemakai Air, anggotanya 
adalah petani yang sawahnya menggunakan air 
irigasi dan pembagiannya dikerjakan oleh jaga 
tirta setempat 

: prosesi mengelilingi wilayah/tempat yang terkait 
dengan area upacara 

: bagian kiling yang berfungsi untuk menentukan 
ke arah mana kiling akan beiputar sesuai dengan 
arah mata angin 

: orang yang mengurusi air 
: kesenian yang berasal dari Bali. 

: perempuan 

: panggilan khas anak muda Banyuwangi 
: kerbau 



Daftar Istilah \ 141 



Kebo gudhel 
Kebo jagir 
Kebo kawak 


anak kerbau yang masih kecil 
anak kerbau yang sudah dewasa 
kebo tua 


Kendhi 


tempat minum yang terbuat dari tanah liat 


Kesurupan 


keadaan yang dialami seorang individu pada saat 
ia kehilangaan kesadaran dan mengalami keadaan 
khayal yang disebabkan oleh faktor tertentu 


Kiling 


Suatu alat mainan yang dibuat dari kayu/bambu 
yang dibentuk sedemikian rupa dengan dilengkapi 
peralatan lain, sehingga menghasilkan suara 
yang indah kalau kena angin. Alat ini biasanya 
dipasang di tempat terbuka yaitu di sawah 


Kind 


bagian kiling sebagai pengunci antara pangade g 
dengan kiling 


Kumara 


ritual pemanggilan hujan 


Lare 


orang 


LAA 


Lembaga Adat Aliyan 


LMAU 


Lembaga Masyarakat Adat Using 


Luku 

Macadam 


alat untuk mengolah tanah 

Jalan desa yang dibuat dari batu yang dicor 


Manggar 

Makrokosmos 


bagian kiling berupa hiasan yang menjuntai 
dunia luas (alam) 


Mbecek 


istilah lokal menyumbang 


Mbegak 

Mendhak 


pecah-pecah 

ritual untuk memperingati hari wisudanya Ki 
Buyut Terik yang diyakini sebagai orang pertama 
yang mendirikan atau membuka Desa Tlemang 


Mikrokosmos 


dunia kecil (manusia) 


Mrongkal-mrongkal 
Nasi golong 
Nglekasi 
Ngopahi 


bergumpal-gumpal 

nasi yang dibentuk bulat biasanya untuk sesaji 
mulai 

memberi upah 



1 42 J Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi 



Ngurit 


penyebaran benih padi yang kemudian diguling- 
gulingi oleh pelaku keboan 


Nomaden 


hidup berpindah-pindah 


Ojung 

Paceklik 


permainan tradisional untuk mengundang hujan 

keadaan gagal panen yang menimbulkan kesulitan 
untuk makan 


Pageblug 
Pala kependhem 
Pala gumantung 


keadaan yang menimbulkan bencana 

jenis tanaman yang buahnya ada di dalam tanah 

jenis tanaman yang buahnya tergantung di atas 
pohon 


Pala kasimpar 


jenis tanaman yang buahnya merambat di atas 
tanah 


Pangadeg 


bagian kiling sebagai tiang untuk menegakkan 
kiling 


Pawang 


orang yang ahli menyembuhkan orang yang 
mengalami trance ( kesurupan ) 


Pecel pitik 


sesaji berupa tumpeng nasi, ayam pekekeng 
yang kemudian disuwir-suwir dicampur dengan 
parutan kelapa muda yang telah diberi bumbu 


Peras 


rangkaian sesaji yang terdiri dari kelapa, pisang 
dan benang lawe 


Pitung tawar 


ramuan beras wama kuning yang terdiri dari 
beras, kunir, bremo, dan kencur sebagai simbol 
penawar bagi segala penyakit 


Profan 


tidak sakral 


Raden Pekik 


Putra Buyut Wongso Kenongo 


Raden Pringgo 
RBU 


Putra Buyut Wongso Kenongo 
Rumah Budaya Using 


Rebo wekasan 


Ritual pertanian yang berkait dengan air di Dam 
Ageng 


Sanggrah 

Sawi 


tempat sesaji bentuknya seperti cakruk 
ketela pohon 


Sedenter 


hidup menetap 



Daftar Istilah j 143 



Seblang 



Selut 

Sesaban 



Simbol 



Sing/Hing 

Slametan 

Sungapan 

Tampah 

Tebengan 
Thulik (Irk) 

Tumpeng 

Tumpeng panca wama 

Uang kepeng 

Ubo rampe 

Wedhana 

Wong 



: Tarian yang ditampilkan di ritual bersih desa atau 
selamatan desa yang diselenggarakan setahun 
sekali dan kemungkinan dianggap sebagai 
pertunjukan yang paling tua di Banyuwangi 

: bagian Idling yang berfungsi untuk mengunci 
antara pangadeg dan Idling 

: tempat untuk melakukan sesuatu dan mencari 
sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- 
hari 

: tanda konkret di mana suatu penanda dihadirkan 
karena adanya hubungan motivatif dengan 
penanda aktual 

: tidak 
: selamatan 

: aliran air yang masuk ke lahan sawah 

: tempat atau wadah yang berbentuk bulat dan 
terbuat dari anyaman bambu 

: pertemuan/perkumpulan 
: laki-laki 

: nasi dalam bentuk kerucut 
: tumpeng yang terdiri lima warna 
: uang koin yang berlubang tengah 
: perlengkapan sesaji 

: pemimpin, sekarang setingkat wakil bupati 
: orang 



DAFTAR INFORMAN 



NO 


NAMA 


UMUR 


PEKERJAAN 


ALAMAT 


1 


Choliqul R 


50 


Kasubdin 


Dinas Kebudayaan dan 
Pariwisata Banyuwangi 


2 


Aekanu 


50 


PNS 


Dinas Kebudayaan dan 
Pariwisata Banyuwangi 


3 


Pur 


55 


Tokoh adat Using 


Desa kemiren 


4 


Sigit Purnomo 


50 


Kepala Desa 


Dusun Krajan 


5 


Bam 


53 


Perangkat Desa 


Dusun Timurejo 


6 


Ba’i 


38 


Pemuda adat 


Dusun Bolot 


7 


Has 


60 


Guru/Tokoh Adat Using 


Desa Mangir 


8 


Hid 


40 


Takmir Masjid 


Dusun Krajan 


9 


Sad 


95 


Pelaku keboan 


Dusun Bolot 


10 


Sah 


66 


Pembuat Kiling 


Dusun Krajan 


11 


Jum 


50 


Jaga tirta 


Dusun Timurejo 


12 


Su’ud 


70 


Sesepuh adat 


Dusun Timurejo 


13 


Suyit 


45 


Pawang 


Dusun Sukodono 


14 


Mah 


40 


Pelaku keboan 


Dusun Sukodono 


15 


Pi’i 


41 


Pelaku Keboan 


Dusun Bolot 


16 


Mi’un 


45 


Penabuh gamelan 


Dusun Timurejo 


17 


Sup 


55 


Tokoh adat 


Dusun Timurejo 


18 


Bah 


90 


Pawang 


Dusun Timurejo 


19 


Newah 


70 


Pawang Perempuan 


Dusun Timurejo 


20 


Nawar 


49 


Gapoktan 


Dusun Krajan 


21 


Bud 


40 


Ketua adat 


Dusun Timurejo 


22 


Puji 


67 


Ibu umah Tangga 


Dusun Timurejo 



145 



146 | Komunitas Adat U sing Desa Aliyan Rogojampi B anyuwangi 




sumber : banyuwangikab.go.id/profil/peta.html 



Daftar Inf or man 



\ 147 




*+*+* UTAiJtJi 
ULTUSulllIt 

VL frarniH 

JLD(U 

* liiHGiUCM 
I iUJID 
UUlftiii 
PJM’IUUl 
> m 

t ssmn.rn 

% nun 

rmumrc UJ» 
.R.iPD -Utli* 
■ *iMi C.KWI 
H.lfcN -JW» 

E.iESDti 

mum 

■ - • G 



ALIYAN 



Sumber: Profit Desa Aliy an